Durhaka di Tengah Wabah

Durhaka di tengah wabah.

 

Oleh : Abdul Hafid,SH

Kurang lebih satu bulan sudah wabah menyelimuti warga bangsa yang meresahkan semua kalangan,bahkan wabah ini merubah rasionalitas menjadi Irasional dalam ber masyarakat,penentangan anjuran ulama,umaroh menjadi perdebatan,ini lah yang saya tak mengira dr nurani kemanusian mengharukan,tiba-tiba berubah naluri binatang,beringas dan tdk mau tahu apa yg terjadi di sekeliling kita,wabah ini merubah watak manusia menjadi kejam tanpa ada rasa kemanusian.ini lah mungkin yg di sebut ” Homo Humini Lupus “,Manusia adalah srigala bagi sesama nya”.

Agama sudah menjadi bagaian kesekian untuk mengukur nilai kehidupan secara manusiawi,bahkan agama lahir dan terukur saat wabah politik yang menggiurkan dalam merebut kekuasaan,serta cendrung agama menjadi alat kekuasaan.di saat wabah virus yg menyakit kan dan bahkan mengerihkan agama tenggelam bersama dalil-dalil nya.manusia dalam suasana wabah virus 19 seakan kembali ke masa bar-bar serta jahiliyah modern.

Infra struktur Negara menjadi bagaian pertanyaan akhir dalam melindungi warga bangsanya dalam memenuhi kebutuhan sesaat,rasa terlindungi,di jauh kan dr marah bahaya,sekaligus perlindungan kemanusian.yang memang sudah di amanat kan oleh Qaidah Negara.akan tetapi kesempurnaan struktur Negara tentu menhadapi ke dewasaan dalam menghadapi musibah.di antara nya adanya sinkronisasi penanganan yang multi komplek,memang kehadiran wabah tidak pernah ada yang menduga krn kehadiiran nya sangat misterius.

Oleh sebab itu penanganan wabah secara global yang mencengkram Negara kita harus ada penanganan yang extra bahkan ultra otoritas tidak ada kata tawar menawar,karna persoalan wabah tidak bedanya dengan persoalan perang karna yang menjadi korban adalah manusia.