Hakekat Menepati Janji Dalam Spiritualitas Islam

*Oleh : Gus Muhammad (GM) alias Kyai Kalam Sirrullah (K2S) : 0838 4040 7500.*

Dalam analisa sangat2 singkat ini, saya hanya akan “bercermin” untuk diri saya sendiri.

Dalam Islam, dan dari Sabda Nabi bahwa *tidak menepati janji* adalah salah satu ciri (dari 3 ciri) orang munafik.

Sabda Nabi pula, bahwa orang munafik akan menempati neraka terbawah (dari 7 tingkat neraka).

Pada nyala tungku api neraka, yang terbawah dari tungku neraka tsb, *akan ditempati orang2 munafik.* Di atasnya adalah orang2 Yahudi, berikutnya orang2 Majusi, di atasnya orang2 nonmuslim dan yang paling atas adalah umat2 Nabi Muhammad yang para pendosa dosa2 amat besar !.

Hakekat janji adalah *manakala janji telah dilontarkan mulut, maka, seluruh malaikat di seluruh lapis2 langit di semesta raya akan mendengar dan mereka jadi saksi. Langit juga mencatat & menjadi saksi pula !.*

Jika *janji tsb dilupakan atau tidak ditepati, maka, para malaikat dan langit akan “marah”. Bentuk “kemarahan” mereka adalah bisa berbentuk antara lain : si pemberi janji akan “goyang batin”-nya, hatinya akan galau/gelisah/resah/kacau, rezeki2nya akan menyusut/seret, transaksi2 yang matang bisa saja batal, klien2 yang semula baik/nyaman akan pada menjauh, perasaan jadi tidak tenang, merasakan sakit yang tak diketahui sebab2nya, suami/istri tiba2 akan jadi galak/sadis/garang, konsentrasi jiwa akan menurun, mudah sensi/baper dan akan dapatkan gangguan2 lain.* Semuanya adalah efek “kemarahan” malaikat2 & langit (di samping “kemarahan” Allah juga).

Jika memang oleh sikon, *janji boleh saja mulur/molor/tertunda, namun, yang penting adalah si pemberi janji agar memberi update2/pemberitahuan2/info2 (bisa melalui WA/SMS/pesan lewat utusan/dll).* Info2 pembaharuan janji tsb diberikan *sebelum si yang dijanjikan menanyakan ulang (tidak memberi kabar setelah si yang dijanjikan menanyakan2 ?).*

Penunaian janji boleh2 saja mundur atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan, *namun tetap harus memberi kejelasan dan kepastian !.* Jika kita *sering tidak menepati janji maka kita-pun akan sangat sering dibohongi !.*

Janji dari mulut kita ke siapapun, hakekatnya adalah *kita sedang mengikat/membelenggu diri kita sendiri. Kata “in syaa Allah” tidak akan menolong, jika “kata in syaa Allah” tsb kita lontarkan dengan tanpa bobot dan konsekuensi sama sekali !.*

Shalat2, puasa, haji atau amalan2 spiritual apapun kita akan menjadi “gabug (tak berisi), jika kita meng-entengkan-kan” janji.

Janji2 yang dilontarkan pada orang yang “lebih power energi-nya”, seperti pada *orang tua kita, kyai2 kita, guru2 kita, istri ke suami, ke paman, kakak atau yang “ditua-kan” lainnya, hantaman-negatif/”akar karma”-nya ke kita, akan lebih parah/berat/”panas”.*

Soal janji memang begitu dahsyatnya, sehingga Allah/Rasul Muhammad *menempatkan “janji” sebagai batas-demarkasi seseorang layak disebut “orang munafik dan atau bukan orang munafik”.* Dan, menjadi sebab, *mengapa Allah SWT tempatkan orang2 munafik di tingkat neraka terbawah (yang terdekat dengan tungku nyala neraka !).*

Doakanlah, agar *saya* dan *kita semua* menjadi *insan2 yang hati2 dalam berjanji dan berupaya semaksimal2nya untuk menepati janji (jika berjanji), aamiin yaa rabbal ‘aalamiin…99 x.*

*UNTUK BERBAGI KEBAIKAN, TULISAN INI BISA DI-SHARE KE NOMOR2 LAIN, GRUP2 WA, FB, IG, DLL.*