Pabrik Gula Jatiroto Pada Masa Kolonial Belanda

 

Oleh : Dawud Arsalam.

Pendidikan Sejarah, UNEJ

Kabupaten Lumajang merupakan salah satu dari banyaknya wilayah di Jawa Timur yang memiliki potensi sumber daya alam dan potensi sosial ekonomi. Semua kekayaan alam yang dimiliki merupakan hal penting untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Salah satu kekayaan alam yang dimiliki kabupaten Lumajang adalah perkebunan tebu Djatiroto.

Pabrik gula Djatiroto terletak di desa Kaliboto lor kecamatan Jatiroto Kabupaten Lumajng. Pabrik gula Jatiroto berada di bagian timur wilayah kabupaten Lumajang yang berbatasan dengan Kabupaten Jember. Luas wilayah Jatiroto mencapai 700 ha yang hampir keseluruhan wilayahnya dulu adalah hutan dan rawa.

Sebelum datangnya pemerintahan Kolonial Belanda wilayah Jatroto adalah wilayah hutan dan rawa. Lalu dengan kecanggihan teknologi yang dibawa Belanda saat itu mampu untuk mengubah wilayah hutan dan rawa menjadi wilayah perkebunan, pabrik dan perumahan. Pabrik gula Jatiroto telah berumur lebih dari satu abad, namun tetap eksis hingga saat ini. Pabrik Gula Djatiroto selain sebagai pabrik yang memproduksi gula juga merupakan tempat yang memiliki nilai tersendiri bagi dunia sejarah.

Pembangunan pabrik-pabrik di Indonesia pada masa kolonial Belanda dilatarbelakangi oleh beberapa hal yaitu penerbitan dan penerapan UU Agraria 9 April 1870 dan Dekrit Agraria 20 Juli 1870 yang mengakibatkan perubahan haluan kebijakan ekonomi dengan dilaksanakannya politik pintu terbuka atau (Liberal System) . Politik pintu terbuka merupakan sebuah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk membuka penanaman modal dari para kapitalis asing di wilayah Hindia-Belanda. Liberalisasi telah mengalihkan peran negara dengan pemodal (kapitalis) swasta.

Kapitalisme ini menyasar pada sektor perkebunan wilayah Hindia-Belanda dengan ciri-cirinya yaitu berorientasi pada ekspor komoditas yang menjadi prioritas, membutuhkan tanah luas yang tak terbatas atau tak dibatasi, memiliki tenaga kerja sangat besar, dikelola dengan cara ketat dalam birokrasi sendiri, birokrasi perkebunan besar tidak terjangkau oleh kontrak sosial, karena pada umumnya merupakan enclave yang terisolasi dari masyrakat .

Dampak yang ditimbulkan sangat terlihat pada sektor perkebunan. Investasi sektor perkebunan menjadi sektor yang paling diminati dalam rentang tahun 1870-1890. Di Jawa arus modal perkebunan yang mengalami proses tranformasi adalah perkebunan tebu dengan Industri gulanya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintah kolonial Belanda pihak pemodal swasta asing menanamkan modalnya di wilayah dan daerah kekuasan kolonial Belanda. Salah satu pihak swasta yang yang menamkan modalnya untuk pembangunan Pabrik Gula Djatiroto ini adalah H.V.A (Handels Vereeniging Amsterdam). H.V.A merupakan perusahaan swasta asal Amsterdam yang cukup besar menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik gula Djatirito. Dalam pembangunan saluran irigasi dan drainase diwilayah Djatiroto barat diperkirakan perusahaan HVA telah menghabiskan kurang lebih menjapai satu setengah juta gulden . Untuk wilayah Djatiroto timur sendiri telah menghabiskan biaya sekitar € 179.000, setengah dari biaya normalisasi kali Djatiroto. Hasil dari pembuatan saluran air ini pun masih digunakan hingga saat ini, beberapa diantaranya yaitu kali Bondoyudo yang terletak disepanjang jalan penghubungan kota Lumajang-Jember dan DAM Djatiroto yang letaknya 5 km dari pabrik gula Djatiroto. Perusahaan swasta asing H.V.A memberanikan diri untuk menanamkan modalnya yang sangat besar karena melihat potensi alam yang luar biasa di wilayah Lumajang, khususnya wilayah Djatiroto.

Rencana pembangunan pabrik gula Djatiroto pada tahun 1884 oleh perusahaan swasta H.V.A dan pelaksanaan pembabatan hutan baru dilaksanakan tujuh tahunnya yaitu pada tahun 1901. Pembangunan pabrik gula baru dilaksanakan pada tahun 1905 dan selesai pada yahun 1911. Dalam proses pembangunan terdapat total ratusan kuli dari masyarakat pribumi di wilayah Lumajang serta tahanan perang dari pemerintah kolonial. Setelah pabrik gula ini beroperasi ditunjuklah seorang kepala administrasi yang bernama F.J. Wirix. Selama kepemimpinannya ia sangat aktif dalam membangun akomodasi yang dibutuhkan dalam produksi gula. Untuk menambah jumlah akomodasi yang dibutuhkan ia menambahkan 53 armada lokomotif dan 3200 lori .

F.J. Wirix merupakan seseorang yang menjabat sebagai kepala administrasi di pabrik gula Djatiroto. Namun beliau tidak lama dalam memegang tampuk jabatan kepala admistrasi di pabrik gula Djatiroto. Pada tahun 1928 F.J. Wirix ditunjuk sebagai inspektur diperusahaan swasta H.V.A (Handels Vereeninging Amsterdam) atas keberhasilannya dalam mengelola pabrik gula Djatiroto. Keberhasilannya ini tidak terlepas dari ide-idenya untuk membangun saluran drainase dan irigasi yaitu kali Bondoyudo dan DAM Djatiroto yang sangat dibutuhkan pada proses penanaman maupun penggilingan tebu pada saat pasca panen.

Dalam perkembangan sebuah perusahaan khususnya pabrik tidak akan terlepas dari sebuah keuntungan dan kerugian. Dari sumber yang penulis dapatkan pabrik gula Djatiroto telah menyumbang sekitar 20 persen keuntungannya untuk negeri Belanda. Ekspor hasil bumi Indonesia khususnya tebu Pada tahun 1929 hanya 11 persen, tahun 1933 turun menjadi 6 persen, tahun 1938 turun lagi menjadi 5 persen, pada tahun 1939 naik lagi menjadi 6 persen.

Sehingga dapat diketahui bahwa pabrik gula Djatiroto memiliki peranan yang sangat penting bagi keseimbangan neraca keuangan pemerintah kolonial Belanda. Meskipun komoditi unggul pada saat itu adalah kina, kapuk dan lada, namun industri gula memperoleh keuntungan yang cukup besar. Perkembangan yang cukup besar tentunya harus diimbangi oleh infrastuktur yang memadai guna kepentingan sarana dan prasarana industri. Pembangunan ini diwujudkan dalam bentuk pembangunan transportasi kereta api yaitu stasiun Djatiroto. Pembangunan transportasi kereta api sangat membantu dalam pengiriman gula maupun tebu ke luar daerah Lumajang pada saat itu.

Pada tanggal 11 Agustus 1930 dilaporkan dari sebuah surat kabar Belanda bahwa pabrik gula Djatiroto pernah mengalami kerugian sebesar f 600.000 yang disebabkan karena kebakaran di gudang penyimpanan akibat kecerobohan kuli pekerja pabrik . Namun bukanlah masalah bagi pemerintahan kolonial Belanda untuk membantu kestabilan keuangan dari pabrik gula Djatiroto mengingat peran penting yang telah dilakukan pabrik ini dalam menyumbangkan keuntungan sebesar 20 persen bagi pihak Belanda di Eropa.

Perusahaan H.V.A (Handels Vereeniging Amsterdam) selalu melakukan kunjungan untuk mengawasi kinerja para buruh pabrik dan melakukan kunjungan ke perkebunan guna mengetahui perkembangan industri gula tebu yang telah memenuhi standar untuk diolah dan dipasarkan (ekspor) ke Eropa.

Beberapa tahun kemudian paska kemerdekaan yaitu pada tanggal 8 Oktober 1947 terjadi kembali peristiwa kebakaran yang diakibatkan oleh kecerobohan kuli. Namun tidak ada yang terluka pada saat kejadian itu .Hingga saat ini pabrik gula Djatiroto terus mengalami perbaikan setelah alih kepemilikan ke bangsa Indonesia. Infrastruktur dan sarana-prasarana diperbaiki secara intensif untuk tidak terulang kembali peristiwa kelam beberapa waktu silam. Serta terjaminnya keselamatan kerja buruh/karyawan pabrik. Beberapa peninggalan bersejarah masih banyak yang tersisa baik lokomotif, lori dan mesin-mesin tua, namun belum dikelola secara baik guna kepentingan wisata edukasi.

Harapan dari penulis baik pemerintah maupun instansi terkait dapat berkolaborasi dalam menumbuhakn pendapatan masyarakat sekitar dengan adanya wisata edukasi ini dan juga menambah wawasan akademisi maupun masyarakat. Meskipun jalur administrasi dan birokrasi tidak semudah yang penulis katakan, semoga harapan ini dapat terwujud dikemudian hari.

_Sumber Referensi:_

– AMACAB. 1947. Nieuwe Courant. Nomor: 232, Volume: 2. Surabaya.
– De Groot, Kolf. 1947. Locomotief: handels- en reclamemagazine van semarangsch. Nomor: 34, Volume: 96. Semarang.
– Koninklijke Bibliotheek. 1930. De Telegraah. Volume: 38. Amsterdam.
– Son & P. den Hengst. 1928. Algemeen Handelsblad. Nomor: 32699, Volume 101. Amsterdam.
– Tanpa penulis. 1909. Suikerfabriek Djatiroto. Medan: de Sumatra post.
– Tanpa penulis. 1928. De Indische Courant. Nummer: 242, Volume: 4. Soerabaia.
– Tauchid, M. 2009. Masalah Agraria di Indonesia. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Pertahanan Nasional.
– Wijnarto. 2016. Dibawah Tekanan Kapitalisme Perkebunan: Pertumbuhan dan Radikalisasi Sarekat Ra’jat Tegal (1923-1926). Volume 1, No. 2. Halam 133-146.