Jombang – Menara Madinah. Beragam cara memperingati Hari Santri Nasional. Tapi yang satu ini agak berbeda. Demi mensyukuri hari peristiwa keramat ini membuat monumen dengan biaya milyaran rupiah. Inilah bentuk ungkapan syukur yang dilakukan oleh Pesantren Majmaal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Losari Ploso Jombang Pimpinan Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Sebuah bagunan monumen indah dan megah setinggi 22 meter dan lebar juga 22 meter. Angka yang melambangkan tanggal Resolusi Jihad dan tanggal Deklarasi Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015 lalu. Tampak dengan paduan warna- warni, refief dan ukiran yang menonjol disana-sini. Perpaduan motif Majpahit, Pajaran. Persi dan Turki. Cukup mencuri pandang setiap orang yang melintas di depannya.

Seiring Peringatan Hari Sumpah Pemuda Selasa, 29 Oktober 2019 lalu monumen yang berada di kawasan dalam Pesantren Majmaal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman ini diresmikan.
Menurut sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah ini adalah buntuk syukur. Dani ikhwal gagasan pembagunan Monumen Hari Santri Nasional ini berawal dari keta’ajuban beliau terhadap putusan Resolusi Jihad.
“Masya Allloh saya sungguh takjub. Berawal dari kekaguman saya terhadap fatwa jihad,” tutur Sang Kyai dalam mauidhotul hasanahnya.

Resolusi jihad itu menurtnya mencerminkan hidayah Alloh, mncemintan jiwa besar, mencerminkan perjuangan.
“Hanya 5 butir tapi cukup. Ini Asbabun nuzulnya,” tutur Almukarrom Kyai Moch. Muchtar Mu’thi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah ini.
Prosesi peresmian ini dihadiri para umaro dan ualma serta ribuan santri Jombang dan sekitarnya.
”Kta juga mengundang dari perwakilan dari beberapa pesantren di jombang. Seperti Tebuireng, Tambak Beras, Rejoso, Denanyar dan juga yang lain,” aku Choirul Mudzakkrin juru bicara panitia peresmian monumen Hari Santri Nasional.
Di kawasan pesantren cinta tanah air ini memang banyak berdiri monumen-monumen kebangsaa. Selain monumen Hari Santri juga ada monumen Sumpah Pemuda, monumen Hubbul Wathon Minal Iman, Monumrn Teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa, monumen Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, Monumen Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dll.
“Pesan beliau Bapak Kyai jika membangun sesuatu bangunan buatlah yang indah dan bermakna. Deni cinta kepada tanah air,” aku Wartono santri asal Kediri yang mengatakan pembagnunan monumen Hari Santri Nasional memakan waktu sekitar 4 tahun.*
Kussumo
Citizen Jurnalistik
