Roy The Geng Ditangkap: Drama Hukum atau Panggung Politik?

 

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Jawa Timur.

PENANGKAPAN Roy Suryo dan dr. Tifauzia Tyassuma alias dr. Tifa oleh Polda Metro Jaya mengundang badai opini. Kasus tuduhan ijazah palsu Presiden Jokowi bukan sekadar perkara hukum, tapi jadi tontonan publik yang sarat drama dan warna politik.

Bayangkan, dua sosok publik ini harus menjalani proses hukum dengan sorotan kamera dan komentar netizen. Roy, mantan menteri dan komentator politik, serta dr. Tifa, akademisi muda yang tengah berjuang menyelesaikan studinya, tiba-tiba menjadi tahanan negara. Ketika dr. Tifa mesti sidang doktor di kantor polisi, bukan kampus, publik merasakan ada ketidakadilan yang mengiris nurani.

Media menggiring massa dengan visual baju tahanan, menciptakan citra negatif yang sulit dilawan sang tersangka. Ini bukan hanya soal hukum anymore. Ini tentang bagaimana kekuatan media bisa menghakimi lebih dahulu, menciptakan “vonis sosial” yang menodai proses hukum yang masih berjalan.

Namun, jangan lupa, ada pragmatik dan politik di balik layar. Tuduhan soal ijazah palsu Jokowi mengaduk emosi kelompok pro dan kontra, hingga menjadi alat perseteruan politik yang memecah belah bangsa. Penegak hukum di ujung tombak harus berjuang menjaga netralitas dan integritas agar hukum bukan panggung sandiwara politik.

Roy The Geng kini berdiri di persimpangan hukum dan publikasi opini. Kita semua jadi saksi bagaimana hukum dipakai untuk mengadili tapi juga bisa dipakai untuk memukul. Apakah ini pertanda bahwa sistem hukum kita masih rentan dimanipulasi? Bisa jadi.

Namun, di sisi lain, proses penegakan hukum perlu didukung agar berjalan terang benderang. Keadilan harus ditegakkan tanpa pilih kasih. Roy dan dr. Tifa haknya mendapat perlakuan manusiawi dan asas praduga tak bersalah harus dijunjung tinggi.

Kasus ini adalah cermin bagi kita semua. Hukum yang adil bukan hanya soal aturan di atas kertas. Tapi soal keberanian lembaga penegak hukum melawan tekanan politik dan polarisasi sosial. Publik pun punya peran untuk tak mudah terjebak dalam narasi emosional dan warisan prasangka.

Mari kita ajak diri sendiri untuk menonton drama hukum ini dengan pikiran jernih dan hati terbuka. Keadilan bukan panggung drama, melainkan panggung kebenaran yang harus dinikmati dengan risiko dan tanggung jawab.

Roy The Geng bukan hanya cerita pribadi. Ia adalah cerita bangsa yang sedang belajar menjaga hukum dan demokrasi agar tetap hidup, kuat, dan jernih dari campur tangan kekuasaan.

Mari kita jaga agar hukum tetap menjadi pelita keadilan, bukan bara konflik yang membakar persatuan.*Wallahu A’lam Bisshawab*