Duet yang Sangat Tangguh: Ilmu dan Khidmah sebagai Jalan NU ke Depan

Oleh: Diar Mandala, Kolumnis Menara Madinah

Muktamar NU yang akan datang bukan sekadar forum pemilihan, tetapi persimpangan sejarah. NU akan menentukan arah: apakah tetap menjadi jam’iyah yang tangguh, atau tercerabut oleh zaman. Di titik krusial ini, keteladanan KH. Said Aqil Siroj dan KH. Marzuki Mustamar hadir sebagai duet yang sangat tangguh, memberi peta jalan jelas bagi NU ke depan.

KH. Said Aqil Siroj meneguhkan bahwa ilmu adalah benteng pertama peradaban. Dengan kedalaman turats, teologi, dan tasawuf, beliau membuktikan Aswaja bukan warisan statis, melainkan sistem berpikir yang hidup. Ketangguhan intelektual beliau teruji saat arus ideologi transnasional mencoba mengikis Pancasila dan NKRI. Jawaban beliau sederhana tapi tajam: membela akidah Ahlussunnah wal Jamaah berarti membela konstitusi. Ilmu beliau menjadi lentera, bukan bara. Menerangi, bukan membakar.

KH. Marzuki Mustamar menegaskan bahwa khidmah adalah tapal batas kedua. Wibawa beliau tidak diukur dari podium, tetapi dari seberapa hadir beliau di musala kampung, di sawah, di denyut nadi Nahdliyin. Ketangguhan praksis beliau tampak saat beliau mengajarkan: taat kepada ulama harus sejalan dengan taat kepada pemerintahan yang sah. Nasionalisme beliau praksis, bukan slogan. Menolak ekstremisme, merawat Ukhuwah Wathaniyah, dan meneguhkan 4 Pilar Kebangsaan sebagai konsekuensi teologis.

Duet ini mengingatkan kita menjelang Muktamar: NU kuat saat ilmu dan khidmah berjalan beriringan. Tanpa ilmu, gerakan mudah disusupi. Tanpa khidmah, wacana jadi menara gading. Ketika keduanya bersenyawa, NU kembali menjadi rumah besar peradaban. Tempat akidah dijernihkan, amaliah dirawat, dan Indonesia dijaga bersama dalam bingkai Pancasila-UUD 1945-NKRI-Bhinneka Tunggal Ika sebagai harga mati.