
Opini – Diar Mandala, Kolumnis Menara Madinah
Konsolidasi kebangsaan menjadi prasyarat ketahanan negara di tengah derasnya arus informasi. Apel Siaga Laskar Sabilillah Kedu Raya yang digelar PWI LS Magelang pada 14 Juni 2026 merupakan wujud tanggung jawab sipil untuk merawat stabilitas nasional serta mendukung pemerintahan konstitusional agar dapat fokus menjalankan amanat menyejahterakan rakyat. Ditegaskan kembali bahwa PWI LS menjaga dan mengawal kedaulatan NKRI dari segala bentuk rongrongan, baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar negeri.
Ketua PWI LS Jawa Tengah, yang akrab disapa Gus Mar, menegaskan komitmen tersebut. “PWI LS menegaskan bahwa kita berkomitmen mendukung, membela, dan menjaga kedaulatan NKRI,” ujar Gus Mar.
Dinamika wacana keislaman dan kebangsaan belakangan ini, termasuk berbagai pernyataan KH Imaduddin yang menjadi perhatian publik di Magelang, menegaskan urgensi merawat narasi yang menyejukkan. Di sinilah peran Aswaja dan ajaran Wali Songo menjadi kompas agar diskursus tetap berada pada koridor adab, ilmiah, dan persatuan.
Dalam perspektif ketatanegaraan, pemerintahan yang lahir dari proses pemilu demokratis memiliki mandat konstitusional berdasarkan UUD 1945. Mengawal mandat tersebut berarti menegakkan supremasi hukum. Kritik terhadap kebijakan publik tetap menjadi ruang demokratis, sepanjang disampaikan melalui kanal kelembagaan seperti DPR, Mahkamah Konstitusi, atau pengadilan. Pemisahan ini penting agar kontrol sosial tidak beralih menjadi narasi yang mengganggu ketertiban umum.
Sejarah sebagai Kompas Kebangsaan
Bangsa yang melupakan sejarah akan kehilangan arah. Narasi Indonesia terbentuk dari perjuangan panjang, termasuk peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui pendekatan kultural dan damai. Menjaga kebenaran sejarah berarti menjaga pedoman bagi generasi kini dan anak cucu mendatang, agar tidak terombang-ambing oleh distorsi informasi.
Aswaja: Jalan Tengah yang Membumi
Warisan Wali Songo tercermin dalam prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Aswaja mengajarkan moderasi, toleransi, dan penguatan akidah yang lurus. Di sinilah urgensi membentengi umat dari dua kutub ekstrem: pengabaian nilai agama dan masuknya ajaran khurafat yang merusak kemurnian Islam. Merawat Aswaja berarti merawat karakter bangsa yang beradab dan toleran.
Ushul Kita Satu: NKRI
Perbedaan pandangan dalam furuiyah adalah rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan. Namun dalam ushuliyah kebangsaan, seluruh muhibbin negeri wajib satu barisan. Cinta kepada Indonesia dibuktikan bukan melalui kerusuhan, melainkan melalui literasi digital, ketaatan pada konstitusi, dan penguatan persatuan.
Indonesia akan tetap kokoh ketika rakyatnya berpikir jernih dan bersatu padu.
