
Oleh : Yahya Aziz, Jamaah Haji 2026
Orang-orang di luar sana menyambut tahun baru dengan cara yang bising. Ada lomba panjat pinang, ada jalan sehat dengan doorprize, ada konser kecil-kecilan sampai suara hilang. Di grup WA penuh stiker “Happy New Year 1448 H” meriah, ramai, tapi… cepat selesai.

Kami di rumah ini menyambutnya dengan cara yang berbeda. Dengan hening yang justru paling berisik di hati.
Kami tidak ke mana-mana. Kami baru pulang dari tanah suci, dan ternyata “PULANG HAJI” yang paling nikmat itu bukan pesta syukuran. Tapi ketika rumah kita dibuka lebar, lalu satu per satu tamu Allah datang duduk, bersila, dan berbagi rindu.

Sejak gelap subuh sampai lampu teras menyala karena Maghrib, rumah kami jadi rumah singgah. Empat majelis taklim dan reuni teman-teman waktu SD tahun 1979-1985.
Mereka silaturahmi datang untuk “ZIARAH HAJI”. Ziarah yang tidak pakai bunga, tapi pakai doa.
1). Jamaah Al-Hikmah Kertajaya pimpinan Ibu Siti datang paling pagi. Mereka berpakaian putih putih, wajah yang sabar, cerita tentang anak yang baru wisuda sambil bilang “semoga tahun ini bisa nyusul ke Mekkah ya Bu”.
2). Jamaah Al-Qithor PT Kereta Api Pimpinan Ibu Siti Nur Jamilah datang sebelum jam 09.00, mereka datang semangat berkumpul di depan masjid Alqithor, ingin mendengarkan kisah-kisah spritual ketika di Arofah.
3). Berikutnya adalah jamaah subuh masjid attaqwa dipimpin oleh Ibu Hj. Maryam mereka ingin minta doa agar segera diundang lagi ke tanah suci.
4).Pertemuan berikutnya adalah silaturrahmi tidak sengaja yang dipimpin mas Indra. Abah Kukuh, Mas Tanto, Mas Erwin, Mas Joko sangat senang mereka ingin berdiskusi lama tentang haji. Apalagi Mas Kukuh yang sudah berhaji, ingin sekali nostalgia berkisah laut merah, jabal magnet. Tapi apa daya jamaah deltasari sudah menunggu lama depan rumah, langsung kami berdoa supaya teman teman SD ditakdirkan bisa haji dan umroh.
Saya bergumam : Ayo kita agendakan lagi reuninya mas Indra.
5). Jamaah Jabal Nur Deltasari pimpinan ibu Hj. Suhendi datang siang-siang ramai sekali.
Ibu Hj. Suhendi dan jamaah deltasari senang mendengar saya sehat selama haji.
Setelah ibu ibu masuk semuanya saya bercerita tentang jamaah yang 20 orang disebut “Rombongan Addeglekuun”….ha…ha…ha semua jamaah tertawa terpingkal-pingkal.
Tepat pukul 12.30-16.00 kami istirahat total
6).”Jamaah Miftahul Jannah” pimpinan ustadzah Tutik pertemuan terakhir sehabis ngaji di musholla ulul azmi langsung silaturrahmi haji, berdzikir bersama, 100 orang lebih yang hadir, sampai ada tamu hadir tidak bisa masuk rumah.
8). Inilah tamu terakhir, yatu KH.Muaddib Aminan dan Ust.Ghana sekeluarga
dan alhamdulillah pertemuan terakhir ini saya tutup dengan doa, dan KH.Muaddib ikur juga mendoakannya. Alfatihah.
Saya cerita tentang panasnya Mina yang bikin dahaga, tapi anehnya hati jadi adem. Saya cerita tentang nangis tanpa suara di depan Multazam, doanya cuma “Ya Allah, jangan tolak aku”. Saya cerita tentang rindu Ka’bah. Dan jamaah yang pernah haji gantian cerita. Ada yang cerita kehilangan sandal 3x tapi tetap ketawa. Ada yang cerita doanya dikabulkan pas sujud terakhir di Raudhah.
Tiba-tiba hening. Ada ibu yang meneteskan air mata. Ia cerita ditinggal suami wafat pas thawaf. Tangisnya menular satu ruangan ikut sesak.
Bu, ini baru namanya peringatan tahun baru Islam. Silaturahmi haji. Hatinya kena, pahalanya mengalir, tidak ada sampah plastik berserakan.” Saya cuma bisa jawab “Iya Bu…” sambil menahan air mata lagi. Benar. Tahun baru yang tidak berisik, tapi berbekas.
Sebelum semua pulang, kami selalu tutup dengan doa singkat. Pendek, tapi saya hafal karena diulang tiap kali air mata jatuh:
_Wahai Allah… Engkau yang Maha Mendengar. Berilah hidayah untuk jamaah kami. Jaga lisan mereka, jaga hati mereka. Sehatkanlah badan mereka yang sudah tua renta ini. Bahagiakanlah rumah tangga mereka yang kadang diuji. Lancarkanlah rezeki mereka… rezeki yang halal, berkah, cukup, tidak melalaikan. Rezeki yang bisa mengantarkan langkah mereka ke Mekkah-Madinah lagi. Panggil kami semua jadi tamu-Mu. Al-Fatihah._
1 Muharram 1448 H mengajarkan saya satu hal yang tidak ada di buku:
Umur bertambah itu pasti. tapi umur yang berkah itu kalau dipakai untuk membuka pintu, bukan menutup hati.
Tahun baru paling indah itu bukan saat kita teriak “Selamat!”, tapi saat ada orang bilang “Terima kasih, Bu. Saya jadi kangen Mekkah lagi karena cerita Ibu.”
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H.
Semoga tahun ini Allah tidak hanya mengampuni dosa kita, tapi juga menulis nama kita di daftar tamu-Nya. Aamiin.
