Menjemput Berkah Haji, Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharron 1488 H

Oleh : Yahya Aziz, Jamaah Haji 2026

Pulangnya seorang haji dari Tanah Suci bukan sekadar kepulangan raga. Ada cahaya baru yang dibawa pulang dari Masjidil Haram, dari padang Arafah, dari lempar jumrah di Mina. Cahaya itu menetes lewat doa, lewat cerita, lewat jabat tangan yang tulus. Dan sejak tanggal 13, 14, 15 juni 2026 kemarin, rumah tak pernah sepi dari tamu sampai pukul 24.00.

Hari demi hari, pintu rumah kami terbuka lebar. Tamu silih berganti datang, bukan untuk jamuan mewah, tapi untuk satu tujuan yang sama: “MENJEMPUT BERKAH”. Mereka duduk bersimpuh, bersalaman, lalu memohon doa. “Ustadz, doakan kami ya. Semoga kami pun dipanggil ke Baitullah.” Itulah bisik yang paling sering terdengar. Karena semua tahu, doa orang yang baru pulang haji ibarat embun di pagi hari, menyejukkan dan penuh harapan.

Bahkan civitas akademika pun ikut larut dalam suasana itu. Dr. H. Bassam Abdul ‘Ala beserta istri, dan Dr. H. Moh. Faizin, dua dosen FTK UIN Surabaya, sengaja meluangkan waktu hadir ke kediaman kami. Jabatan dan gelar dilepas sejenak yang tersisa hanyalah hati seorang hamba yang rindu. “Kami ingin barokah doa orang yang baru menunaikan rukun Islam kelima,” ujar mereka dengan mata berbinar. Di ruang tamu sederhana itu, status tak lagi penting. Yang ada hanya kerendahan hati dan rindu akan “Baitullah” dan “Roudhoh” makam Rasulullah Saw.

Sore menjelang Maghrib, tepat pukul 16.00, suasana makin hangat. Ibu Hj. Dra. Faridatul Hanum, M.Si dan Ibu Dra. Hj. Yuni Asyhuri datang bersama anggota Jamaah Khotmil Qur’an RW 03 Jemur Wonosari Surabaya. Mereka tidak hanya bersilaturahmi, tapi juga ingin “mendengar” Mekkah lewat cerita langsung dari kami dan istri

Kami bercerita pelan: bagaimana desak-desakan wukuf di Arafah tapi hati terasa lapang, bagaimana malam di Mina yang sempit tapi ukhuwah terasa luas, bagaimana air mata jatuh tanpa sadar saat pertama kali tawaf mengelilingi Ka’bah. Jamaah ibu-ibu mendengarkan dengan rileks, sesekali mengusap mata yang berkaca. Tapi suasana cair ketika kamj bercerita tentang kelucuan di bis jamaah. Ada polisi yang bertanya, “Sakit apa penumpang bis Anda, Pak?” Saya sebagai Ketua Rombongan spontan menjawab dengan logat Madura, “ADDEGLEKUUN WASSEMPERU!” Artinya: orang-orang yang jalannya pincang, karena lelah thawaf dan sa’i.

“Ha… ha… ha!” Satu ruangan pecah. Ibu Hj. Yuni Asyhuri sampai terpingkal-pingkal. Di tengah haru, Allah sisipkan tawa. Itulah haji, ada lelahnya, ada lucunya, tapi ujungnya selalu syukur.

Malamnya, giliran para pengurus RW/RT 03 yang hadir mereka duduk melingkar, bukan membahas ronda atau iuran, tapi membahas kerinduan yang sama: ingin menjadi tamu Allah. Silaturahmi haji kali ini benar-benar merajut hati warga, dari cendekiawan, ibu-ibu majelis, sampai pengurus lingkungan semua sama di hadapan doa.

Acara ditutup dengan doa yang menggantung di langit-langit rumah itu. Dengan suara bergetar, kami memanjatkan:
“Wahai Allah Ampunilah dosa kami, dosa dosa kedua orang tua kami Jadikanlah alam kuburnya terang benderang.
Wahai Allah, semoga seluruh anggota Jamiyyah Khotmil Qur’an RW 03 Jemur Wonosari diberi sehat panjang umur, rezeki lancar, dan ditakdirkan bisa haji dan umroh… Al-Fatihah.”
Tanpa terasa kami meneteskan air mata, ingat jasa-jasa kebaikan almarhum/mah Bah H.Jamaali, Bah.Hj.Nur Khasanah (ayah ibunya Neng Ida & Neng Yun), almarhumah Bu nyai Hj.munfaati, kedua orang tua kami, mertua kami dan almarhum alnarhumah keluarga jamaah Jemur Wonosari..Lahum Alfatihah.
Berangkat dari pulang haji, kita diingatkan: berkah itu menular lewat doa dan silaturahmi.
Di awal tahun baru Islam 1 Muharram 1448 H ini semoga kita semua termasuk yang dipanggil-Nya. Bukan hanya ke Mekkah, tapi juga ke arah yang lebih baik.

Barakallah. Semoga Bermanfaat….!