
BLITAR – Tradisi Baritan adalah upacara adat khas masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Lebih dari sekadar seremonial, tradisi ini menjadi wujud nyata akulturasi antara kearifan lokal dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa,Allah SWT.Baritan rutin digelar untuk menyambut datangnya bulan Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro.
Suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan terlihat jelas di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Blitar, pada Senin (15/6/2026) usai salat Maghrib.
Ratusan warga berkumpul di lokasi strategis untuk menggelar tradisi tersebut. Beberapa kelompok dari setiap dusun, Rukun Tetangga, dan Rukun Warga turut ambil bagian, salah satunya dari RT 03 RW 02 Dusun Tapan.
Seiring perjalanan waktu, Baritan yang berakar dari tradisi leluhur ini telah berkembang menjadi sarana syiar dan penguatan spiritual Islami. Nilai-nilai religius terasa kental dalam setiap rangkaiannya:
Ungkapan Syukur: Upacara ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk berterima kasih atas segala nikmat, mulai dari hasil bumi yang melimpah hingga kesehatan yang diberikan Tuhan.
Doa Bersama: Inti dari rangkaian acara adalah pembacaan kalimah thoyibah dan tahlil, istighosah, dan zikir bersama. Ustadz H.Edi Sofyan memimpin acara itu. ” Kata berdoa dengan tujuan memohon keselamatan bersama serta perlindungan dari segala marabahaya,” ujar Ustad Edi Sofyan.
Kegiatan ini tidak hanya digelar di desa Bakung Udanawu saja.Namun juga masyarakat di wilayah desa dan jembatan di Blitar Raya.
Ini dilakukan sebagai refleksi diri menyambut 1 Muharram dijadikan momen untuk merenung, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sudah tradisi, prosesi digelar di tempat terbuka seperti perempatan jalan, halaman masjid, atau petilasan leluhur agar dapat diikuti seluruh lapisan masyarakat. Usai doa dipimpin tokoh agama, acara dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama. Kegiatan ini bukan sekadar santap, melainkan mengandung nilai sedekah dan kepedulian, di mana makanan berupa takir plontang dibagikan secara merata kepada sesama.
Selain memperkuat iman dan takwa, Baritan juga memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi ini menjadi perekat silaturahmi, menguatkan semangat gotong royong, dan menjaga kerukunan tanpa membedakan status sosial warga.
Mengalihkan Haluan Generasi Muda:
Baritan menjadi alternatif positif, mengarahkan perhatian generasi muda dari gaya perayaan yang berlebihan menuju kegiatan yang bernilai ibadah dan budaya.
Menjaga Identitas:
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini menjadi benteng pelestarian budaya Jawa-Islami agar tetap hidup dan diwariskan ke anak cucu.
Dengan memadukan unsur adat dan syariat agama, Baritan membuktikan bahwa kearifan leluhur dan nilai keislaman dapat berjalan beriringan. Tradisi ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkokoh iman serta mempererat persaudaraan antarwarga.*Imam Kusnin Ahmad*
