
SURABAYA – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Wushu Sanda & Taolu Piala Wali Kota Surabaya 2026 yang digelar pada 4-7 Juni di Gelanggang Remaja Surabaya berakhir dengan dominasi impresif tuan rumah, Kota Surabaya. Dengan koleksi total 35 medali—10 emas, 10 perak, dan 15 perunggu—Surabaya berhasil mengunci gelar juara umum secara meyakinkan.
Gelaran ini sekaligus menjadi ajang pembuktian kualitas pembinaan para atlet di Surabaya yang tidak hanya mengandalkan kuantitas medali, tetapi juga mental bertanding yang matang di nomor Sanda (pertarungan) dan Taolu (jurus).
Kediri Runner Up, Sidoarjo Tempati Peringkat Ketiga
Persaingan tiga besar berlangsung ketat. Meski Sidoarjo mengoleksi medali total terbanyak kedua setelah Surabaya, yakni 16 buah (6 emas, 4 perak, 6 perunggu), Kota Kediri tampil sebagai runner up karena menerapkan sistem “Gold First”—prioritaskan jumlah medali emas sebelum menghitung perak dan perunggu sesuai standar PBWI dan KONI. Kediri mengantongi 7 emas, 2 perak, 6 perunggu dengan total 15 medali.
Sementara itu, Sidoarjo yang diperkuat klub papan atas seperti Loockman Fighting Camp dan Black Ant Academy, berhasil mempertahankan posisi ketiga dengan koleksi medali yang solid.
Atlet Berprestasi dari Tiga Kota Besar
Beberapa nama cemerlang dari Kejurprov ini adalah:
Kota Surabaya (10 Emas)
– Andhika Dwi Syahputra (Junior Putra 42kg) — Akademi Wanoro Seto
– Kevin Setyo Bhakti (Junior Putra 45kg Pool B) — Akademi Wanoro Seto
– Jeevan Fabiean Fitrah (Pra Junior 45kg) — Vajra Vira Sentosa
Kota Kediri (7 Emas)
– Messi Zola Januar (Junior Putra 52kg Pool C)
– Mohamad Rizqi Khoufillah Bintang Zakaria (Junior Putra 48kg Pool B)
– Muhammad Julian Dhaviesa Putra (Junior Putra 45kg Pool A)
Kota Sidoarjo (6 Emas)
– Lalu Muhammad Raka Gusti Pratama (Junior Putra 60kg Pool A) — Black Ant Academy
– Michael Jonas Panggabean (Junior Putra 60kg Pool C) — Loockman Fighting Camp
Tabel 10 Besar Perolehan Medali (Sistem Gold First)
Kabupaten/Kota Emas Perak Perunggu Total Medali .
Kota Surabaya 10 10 15
Kota Kediri 7 2 6 15
Kota Sidoarjo 6 4 6 16 s
Kab. Mojokerto 6 0 2 8
Kab. Banyuwangi 5 2 6 13
Kota Blitar 5 2 1 8
Kab. Bojonegoro 4 3 2 9
Kab. Ngawi 3 5 0 8
Kab. Gresik 3 3 1 7
Kota Malang 2 3 3 8
Dominasi Surabaya menandai kualitas pembinaan yang matang dan kesiapan atlet dari kota metropolitan ini. Keberhasilan mutlak di Kategori Sanda dan Taolu sendiri mencerminkan keseimbangan teknik, fisik, dan mental dalam menghadapi persaingan tingkat provinsi yang kian kompetitif.
Kediri yang menempati posisi kedua dan Sidoarjo di posisi ketiga menunjukkan tren peningkatan performa yang signifikan di luar kota besar tradisional. Klub-klub swasta di Sidoarjo juga memainkan peranan strategis yang memperkuat ekosistem pembinaan dan regenerasi atlet.
Yang menarik, daerah seperti Mojokerto dan Banyuwangi berhasil menorehkan prestasi emas melimpah, membuktikan penyebaran kualitas pembinaan Wushu Jawa Timur semakin merata dan tidak hanya terpusat di kota besar.
Namun demikian, Kejurprov ini sekaligus menjadi cermin penting bahwa kualitas prestasi membutuhkan dukungan fasilitas memadai dan pelatihan berkesinambungan. Tanpa itu, regenerasi dan konsistensi prestasi tidak dapat dipertahankan.
Kata Pelatih
Pelatih Akademi Wanoro Seto Surabaya, Budi Santoso, menyatakan, “Kemenangan Surabaya tak lepas dari latihan terstruktur dan fokus memperkuat mental bertanding. Semangat juang atlet menjadi senjata utama menghadapi lawan.”
Sementara itu, pelatih Black Ant Academy, Agus Hartono, menyesalkan kendala fasilitas namun bangga dengan progres atlet Sidoarjo. “Kami terus berupaya membangun ekosistem pembinaan yang solid agar atlet siap menghadapi kompetisi tingkat nasional.”
Kejurprov Wushu Jawa Timur 2026 menegaskan Surabaya sebagai pusat kekuatan dengan pembinaan dan persiapan atlet terbaik. Kediri dan Sidoarjo pun menandai kemajuan pembinaan di tingkat regional. Kontestasi ini menjadi cerminan geliat olahraga bela diri yang sehat dan bergairah di Jawa Timur.
Semoga kejuaraan ini menjadi pijakan penting bagi lahirnya atlet-atlet berbakat yang siap mengharumkan nama daerah dan Indonesia di ajang nasional maupun internasional. Momentum ini juga menguatkan kebersamaan antar daerah demi kemajuan wushu yang berkesinambungan.*Imam Kusnin Ahmad*
