
“Berat Untuk Berpisah”, itulah ungkapan ibu Hj.Pertiwi saat beliau menyapa kami di lobi hotel Alalaa Mekkah.
Kebetulan 12 juni kamis malam jumat ini adalah malam terakhir di tanah suci, sudah 40 hari di Madinah dan Mekkah dalam melaksanakan ritual Haji rukun islam yang ke 5.
KH.Imam Khambali bersama 300 Jamaah Haji Bryan Makkah (BM) Surabaya Meneteskan Air Mata di bawah naungan ka’bah. Bagaimana kisahnya, berikut ini laporan Ustadz Yahya Aziz dari Masjidil Harom Mekkah kepada tim redaksi MenaraMadinah.Com.
Tepat habis shalat isya 300 jamaah haji BM berkumpul di depan halaman hotel Alalaa, ada pengarahan-pengarahan dan doa dipimpin oleh KH.Imam Khambali sebelum ke Masjidil Harom.
KH.Syukron Jazilan di bis pertama,KH.Imam Khambali dan KH.Ali Zainal di bis kedua, saya bersama rombongan yang lainnya di bis ke 3.
Suasana malam itu sangat menyejukkan dan membahagiakan karena Thowaf Wada ini dipimpin langsung oleh KH.Imam Khambali.
Inilah 7 kejadian catatan kami bersama istri dan 300 jamaah haji Bryan Makkah (BM) mengikuti proses ritual Thowaf Wada, thowaf perpisahan dengan Baitullah, pamit kepada Allah.
Malam itu langit Mekkah terasa berbeda. Anginnya pelan, tapi hati 300 jamaah Haji BM Surabaya berdebar kencang. Sebab malam ini adalah malam terakhir mereka di Tanah Suci.
1). Thowaf Wada, Thowaf Perpisahan Yang Berat dan Pamit Kepada Allah
Tawaf perpisahan dengan Baitullah dipimpin langsung oleh KH. Syukron Jazilan, KH. Ali Zainal, dan KH. Imam Khambali. Langkah mereka tertata, tapi dada semua orang sesak. Ini bukan thowaf biasa. Ini pamit.
2). Banyak Jamaah Haji Yang Sakit, Terlupakan Demi Pamit.
300 jamaah tetap semangat ikut berputar. Ada yang batuk, ada yang demam, ada yang meriang. Tapi tak ada yang mundur. Semua bilang sama: “Besok pulang ke tanah air. Malam ini harus tuntas.” Sakit kalah oleh rindu yang belum selesai.
3). 300 Jamaah Haji BM tidak terasa lelah memutari Ka’bah 7x
Satu, dua, tiga… sampai tujuh kali mereka mengelilingi Ka’bah. Anehnya, tak ada yang mengeluh capek. Kaki yang tadi berat, tiba-tiba ringan. Karena berpisah dengan Baitullah itu rasanya lebih sakit dari lelah.
4). Ada Kekuatan Energi Doa dari KH.Imam Khambali Yang Menguatkan 300 Jamaah BM
Jamaah tua, muda, laki-laki, perempuan, semua merasakan hal yang sama. Seakan ada energi doa dan keikhlasan dari KH. Imam Khambali yang mengalir. Doa beliau seperti mengangkat kaki kami. Setiap langkah terasa dituntun, setiap putaran terasa dijaga.
5). Do’a KH.Imam Khambali Menembus Pintu Langit
Selesai tawaf, 300 jamaah berkumpul rapat di depan Ka’bah. Di bawah pancuran emas, KH. Imam Khambali mengangkat tangan. Suaranya bergetar, lalu ikut bergetarlah hati kami semua:
a. “Wahai Allah, ampunilah dosa kami, dosa-dosa jamaah kami setelah tawaf wada ini.”
b. “Wahai Allah, kami beserta jamaah kami pernah menyakiti hati orang tua kami. Ayah ibu kami tersakiti hatinya sampai menangis.”
c. “Wahai Allah, jadikanlah anak kami, anak-anak jamaah kami, anak yang shalih, anak yang berbakti kepada orang tuanya. Anak yang punya derajat kehidupan di dunia ini.”
d. “Wahai Allah, anugrahilah jamaah kami setelah haji ini menjadi haji yang mabrur. Tambah sehat, tambah kaya, tambah barokah, tambah sukses. Tambah baik Akhlaq prilakunya”.
e. “Wahai Allah, 300 jamaah kami setelah ini Engkau takdirkan bisa haji lagi.”
Setiap kalimat beliau seperti anak panah doa. Tepat jatuh ke relung hati yang paling dalam.
6). 300 Jamaah Haji BM Menangis Saling Berangkulan & Memaafkan
Doa selesai, tapi tak ada yang beranjak. Yang ada hanya suara isakan. 300 orang menangis sambil berpelukan, saling minta maaf. Di tempat paling mulia, kami melepas semua dendam, semua salah, semua rindu.
7). Doa kami dan Istri bersama 300 jamaah haji BM yang dipimpin KH.Khambali yakin Menembus Pintu Langit Dan Dikabulkan Allah.
Saya yakin. Tetesan air mata dan doa KH. Imam Khambali bersama 300 jamaah BM ini menggetarkan hati. Bukan hanya hati kami. Tapi menembus pintu langit, sampai ke Arsy.
Saya dan istri hanya bisa saling genggam tangan. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Subhanallah… Allahu Akbar.
Thowaf Wada di Mekkah mengajarkan satu hal: perpisahan paling indah adalah perpisahan yang diiringi doa. Dan malam itu, langit Mekkah benar-benar terbuka dan menjadi saksi untuk kami.
Barakallah….!
