
H.Moh Afandi salah satu jamaah haji Bryan Mekkah yang berziarah ke makam mbah Moen. Bagaimana kisahnya ? Berikut ini laporan Ustadz Yahya Aziz dari masjidil harom Mekkah.
Saya salut sama H.Moh.Afandi beliau semangat berziarah ke makam mbah Moen.
Beliau sering berdiskusi dengan H.Maulan, H.Ubaidillah dkk berdiskusi tentang sosok kharismatik ulama KH.Maimun Zubair dari Sarang Rembang Jawa Tengah.
Biografi Almarhum KH.Maimun Zubair
Kelahirannya : 28 Oktober 1928 M / 1347 H di Rembang, Jawa Tengah Ibunya Nyai Mahmudah binti KH Ahmad bin Syu’aib, ayahnya KH Zubair Dahlan pengasuh Pesantren Sarang.
Silsilah beliau : Nasab beliau sampai Sunan Giri Gresik / Raden Ainul Yaqin. Dari garis ibu nyambung ke Bangkalan Madura, Sumedang, Banten.
Putra putri KH.Maimun Zubair : Dari 3 istri, beliau punya 10 anak. Yang dikenal: KH Abdullah Ubab, KH Muhammad Najih, KH Abdul Ghofur, KH Ahmad Taj Yasin/Gus Yasin – Wakil Gubernur Jateng, Neng Shobihah, Neng Rodhiyah, dll.
Kesibukan beliau di Pesantren : Pengasuh tertinggi Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
Ulama Kharismatik dan Teladan Kyai di Indonesia
Beliau ulama sepuh NU yang ilmunya bersanad. Hafal Alfiyah Ibnu Malik, Jurumiyyah, Imriti sejak kecil dari didikan ayahnya. Aktif di masyarakat, bangsa, negara. Pernah jadi anggota DPRD Rembang 7 tahun dan anggota MPR RI 3 periode. Ketua Majelis Syuriah PPP sampai wafat
1). Pemikiran KH.Maimun Zubairi :
Islam itu indah kalau ummat muslim berakhlaq mulia setiap detik dalam kehidupan
2). Ulama Yang Mendoakan Beliau :
Sejak bayi sudah didoakan KH Faqih Maskumambang biar jadi orang alim berguna bagi nusa-bangsa
3). Murid Kesayangan beliau.
Sangat menekankan sanad keilmuan dan adab ke guru. Murid beliau KH.Bahaudin Nur Salim hafal Al-Qur’an dan berbagai kitab, bukan cuma gelar. Makanya Gus Baha dijuluki MUFASSIR TANPA GELAR dan satu satunya ulama muda yang berani mengkritik dosen Tafsir UIN se Indonesia : “Doktor Tafsir tapi gak hafal Qur’an… ini adalah “Musibah”
Begitu juga ada dosen hadits tapi gak hafal sohih Bukhori termasuk ini juga “musibah”.
Banyak Guru Besar UIN yang malu dan segan untuk berdebat dengan beliau.
Wafat dan dimakamkan di Ma’la Mekkah.
Beliau wafat Selasa, 6 Agustus 2019 pukul 04.30 waktu Makkah di RS An-Nur setelah shalat Subuh saat berhaji.
Dimakamkan hari itu juga di Pemakaman Ma’la, Makkah. Beliau memang pernah minta didoakan wafat hari Selasa di tanah suci Makkah.
4.Awan mendung, tanda langit berduka.
Banyak saksi bilang suasana mendung saat pemakaman. Pemerintah Arab Saudi memberi izin khusus dimakamkan di Ma’la. Makam beliau bersebelahan dengan makam guru beliau Syekh Alawi al-Maliki dan satu kawasan dengan makam Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi.
5.Kondisi Makam Utuh Saat Berusia 5 Tahun.
Ini yang sering diceritakan santri. Kebiasaan Saudi bongkar makam setelah beberapa tahun. Saat makam Mbah Moen dibongkar, jasad dengan kain kafan putih masih utuh dan keluar bau wangi. Allah Akbar.
6.Pengakuan Ustadz Dr.Adi Hidayat, Tokoh Muhammadiyah
Ustadz DR. KH. Adi Hidayat memang pernah ziarah dan membuktikan sendiri: semakin dekat makam, semakin
7.KH.Bahaudin Nur Salim/ Gus Baha penerus Beliau.
Murud kesayangan beliau: KH Bahaudin Nur Salim, alumni Al-Anwar Sarang.
Gus Baha dijuluki “Mufassir Tanpa Gelar”, karena hafal Qur’an, kitab ihya ulumuddin, kitab hadits sohih Bukhori Muslim, ilmunya melampoi orang yang bergelar Prof.Doktor.
Mentri Agama Prof. Nazaruddin Umar kagum & mengangkat beliau sebagai Ketua Tim Penerjemah Al-Qur’an Kemenag RI.
Keilmuan Gus Baha itu setara dengan mufassir ternama di Indonesia Prof.Dr.Quraisy Shihab.
Ini semua memang jasa Mbah Moen: melahirkan ulama kharismatik muda yang hafal Qur’an.
Semoga Allah lapangkan kubur Mbah Moen di Ma’la, tempatkan beliau bersama para sholihin, dan kita dapat barokah ilmunya. Al-Fatihah…
