Stop Takut Kualat! Saatnya Umat Bangun dan Luruskan Wacana

Oleh: Kolumnis menaramadinah.com

Bangsa ini sedang diuji oleh wacana yang tidak lagi berpijak pada nalar dan ilmu. Khurafat merajalela atas nama agama. Akidah umat perlahan tergerus melalui narasi yang menebar ketakutan irasional: takut kualat jika bertanya, takut tidak masuk surga jika meluruskan yang bengkok. Lebih berbahaya lagi, sejarah perjuangan bangsa turut dikaburkan. Kontribusi ulama dan Walisongo dalam membangun peradaban dan menjaga kedaulatan Nusantara sering diabaikan dalam narasi yang berkembang saat ini. Rasa takut dan kekeliruan memahami sejarah adalah bentuk pembodohan yang mematikan akal dan keberanian umat untuk berpikir jernih.

Di Pandeglang, pasangan suami istri Diar Mandala dan Ratu Nursy memilih mengambil peran edukasi. Sebagai Dewan Pembina dan Srikandi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah Pandeglang, mereka bekerja kompak menyapa masyarakat. Diar fokus membina kader dan menyampaikan materi di berbagai forum. Ratu Nursy menggerakkan majelis taklim dan komunitas perempuan. Tugas yang mereka emban sederhana namun berat: mengembalikan umat pada jalur ilmu, akhlak, dan kesadaran kebangsaan.

Sorotan yang mereka sampaikan tertuju pada tiga persoalan mendasar. Pertama, praktik keagamaan yang tidak bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis serta menyimpang dari tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Kedua, kekeliruan dalam memahami sejarah perjuangan bangsa yang mengaburkan peran ulama dan para pendiri dalam merebut dan menjaga kemerdekaan. Ketiga, penggunaan sentimen keagamaan yang berpotensi merusak kohesi sosial dan melemahkan persatuan.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Persatuan Indonesia yang diikat oleh Bhinneka Tunggal Ika harus dijaga melalui penguatan pemahaman keagamaan yang moderat, pelurusan sejarah perjuangan bangsa secara objektif, dan peningkatan kesadaran sebagai warga negara. Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan semakin kokoh jika rakyatnya cerdas, kritis, dan tidak mudah terpecah oleh narasi yang menyesatkan.

Karena itu, dukungan terhadap pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan nasional. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat sipil yang sadar akan tanggung jawab kebangsaannya.

Seruan ini ditujukan kepada para pengasuh majelis dan pengajian: gunakan ruang dakwah untuk meluruskan ajaran yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis, serta luruskan pemahaman sejarah perjuangan bangsa. Jangan biarkan mimbar menjadi sarana penyebaran khurafat dan narasi yang memecah belah. Umat perlu diajak kembali ke jalan yang benar, jalan yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan cinta tanah air.

Sudah terlalu lama kita diam dalam ketakutan. Sudah saatnya kita bangun, berpikir jernih, dan bersatu menjaga Indonesia.