Saifullah Yusuf Usul Munas dan Konbes di Pesantren Ploso Kediri

JAKARTA–Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengusulkan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, sebagai lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026.

Usulan ini disampaikan dalam Rapat Pleno PBNU di Jakarta (21/5/2026) dan didukung oleh tokoh NU seperti KH Nurul Husna Djazuli dan Gus Muhammad Alkautsar.

Gus Ipul menegaskan bahwa Ploso memiliki akar sejarah, tradisi keilmuan, dan peran penting dalam khazanah pesantren NU. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama, kiai, dan kader NU, sehingga sangat layak menjadi tuan rumah forum permusyawaratan ulama tingkat nasional. Faktor historis dan kualitas keilmuan menjadikan Ploso sarana yang tepat untuk agenda strategis NU.

Usulan tersebut juga mencakup rekomendasi agar pembukaan Munas dan Konbes dilakukan di Makbarah Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura. Syaikhona Kholil merupakan guru para pendiri NU dan simbol spiritual penting, sehingga lokasi ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap sanad perjuangan dan akarnya.

Pemilihan lokasi Munas dan Konbes selain mempertimbangkan aspek teknis tentu sarat dengan makna simbolis.Melaksanakan pembukaan di Bangkalan sebagai pusat spiritual sekaligus menggelar sidang di Ploso sebagai pusat kajian keilmuan pesantren menunjukkan NU menjaga kesinambungan tradisi keagamaan dan historisnya.

Ini menjadi bukti bahwa keputusan strategis NU selalu berpijak pada adat, sanad keilmuan, dan ruh perjuangan para masyayikh.Selain usulan lokasi Munas dan Konbes, Gus Ipul juga menginformasikan perkembangan usulan calon tuan rumah Muktamar Ke-35 NU.

Tiga wilayah telah mengajukan diri secara resmi, yakni Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat, dengan NTB yang paling agresif menunjukkan kesiapan dengan dukungan gubernurnya. Jawa Timur juga menjadi wacana kuat, khususnya beberapa pesantren seperti Lirboyo, Bangkalan, dan Situbondo, meskipun belum ada surat resmi dari wilayah ini.

Usulan Gus Ipul menjadi refleksi penting tentang bagaimana NU mengintegrasikan nilai historis dan keilmuan dalam memilih lokasi acara penting organisasi.

Menempatkan Ploso sebagai pusat Munas dan Konbes menunjukkan tekad NU untuk memperkuat hubungan dengan akar pesantrennya, sekaligus menghormati nilai spiritual yang diwariskan. Strategi ini dapat memperkuat identitas NU sebagai organisasi yang berbasis tradisi pesantren dan ulama.

Pergeseran perhatian ke pesantren-pesantren besar Jawa Timur juga merefleksikan potensi regional yang besar dalam mendukung kelancaran dan makna strategis kegiatan. Pilihan lokasi yang tepat dapat meningkatkan partisipasi, efektivitas komunikasi, dan representasi kultural dalam forum besar tersebut.

Namun demikian, proses pengambilan keputusan melalui mekanisme organisasi tetap menjadi faktor penentu akhir. Penggunaan lokasi dengan nilai historis dan spiritual tinggi harus diseimbangkan dengan pertimbangan teknis seperti aksesibilitas, kesiapan fasilitas, keamanan, dan dukungan pemerintah daerah.

Usulan menjadikan Pesantren Al Falah Ploso sebagai lokasi Munas dan Konbes NU 2026 beserta pembukaan di Makbarah Syaikhona Kholil Bangkalan adalah langkah yang bermakna dalam menjaga warisan tradisional sekaligus memperkuat struktur organisasi NU.

Ini menegaskan bahwa NU tetap teguh pada akar dan nilai-nilai pesantrennya dalam menghadapi dinamika modern. Pemilihan lokasi yang tepat akan memperkokoh daya dukung dan makna acara strategis tersebut, sekaligus memperkuat jaringan ulama dan kader NU di tingkat nasional.

Keputusan akhir akan menentukan gambaran perjalanan NU dalam meneguhkan posisinya sebagai organisasi nahdliyin yang kuat dan berakar pada tradisi ilmu dan akhlak luhur di Indonesia dan dunia.
*Imam Kusnin Ahmad*