
Dr Ir Hadi Prajaka SH MH.
*fase – ECO THEOLOGIS & PERSEPSI JAWA”*
Kita lebih banyak mengeluarkan energi berfikir secara filosofis dan cultural, tanpa mampu merumuskan nilai luhur yg kita warisi bersama, begitu saja kita abaikan sebagai suatu sistem ilmu dan sistem spiritual modern yang memberikan cakrawala pengetahuan yg Maha agung, saya mencoba membedah beberapa nilai sesanti yg selama ini kita dengar dan wariskan kepada generasi mendatang, marilah berfikir sehat dan nalar kritis waras tanpa marah dan emogi, Kita mulai dg narasi *SANGKAN PARANING DUMADI* dalam filosofis astro THEOLOGIS Dan Eco THEOLOGIS dibawa ini:
*DUMADI* itu kata Jawa Kuno. Artinya: *“menjadi”, “terjadi”, “terwujud”, “proses penciptaan”*.
Secara spiritual, DUMADI bukan nama Tuhan, tapi nama untuk _proses_ mahami dan memaknai Tuhan menjadi satu RELASIONAL dari kehidupan alam semesta.
1. Makna dasarnya
– *Du* = itu, yang itu
– *Madi* = menjadi, tumbuh, muncul
Jadi DUMADI = “yang bergerak dan sedang menjadi” / “proses menjadi” proses awal kejadian.
Orang Jawa dulu nggak pisahin Tuhan dan ciptaan secara kaku, dgn berbagai argumentasi yang keluar NALAR berfikir sehat, dan Mereka melihat alam itu sebagai DUMADI-nya yaitu Sang Hyang, hasil dari _Tan Kena Kinaya Ngapa_ yang mulai “bergerak” menjadi satu bentuk makna sifat.
2. Di konteks spiritual Jawa
DUMADI ada di urutan konsep kosmologi:
1. *Suwung / Tan Kena Kinaya Ngapa* → VACUM – Kosong, tidak bisa dibayangkan. Titik dasar atau titik nol.
2. *DUMADI* → Proses menjadi. Energi, gelombang getaran, hukum alam mulai jalan. Ini level “Big Bang”-nya versi Jawa.
3. *Miwah / Manunggal* → Sudah jadi wujud, alam semesta, berserta tata Surya dan semua mahkluk & manusia, serta seluruh makhluk ciptaannya yang sempurna, saling co – exsistensi harmonis.
Jadi kalau kamu meditasi “ngadeg ing DUMADI”, artinya kamu nyambung ke proses penciptaan itu sendiri, bukan ke bentuk yang sudah jadi, seperti sesanti Sabda Dadi.
3. Bedanya sama konsep “penciptaan” di kerangka wahyu langit
**DUMADI** **Penciptaan di Wahyu Langit**
Proses, bukan kejadian sekali jadi. Alam terus “menjadi”. Kejadian sekali: Tuhan berfirman “Jadilah”, lalu jadi, kiamat hancur sudah, tidak tersisa, musnah berantakan,
Nggak ada pemisah tajam Tuhan-manusia-alam. Semua satu kontinum. Ada pemisah: Pencipta vs ciptaan.
Fokusnya di mengamati proses: *ngelmu titen*. Fokusnya di taat pada perintah Sang Pencipta.
4. Kenapa relevan sekarang
Konsep DUMADI nyambung sama fisika modern:
– *Fisika kuantum*: partikel terus “menjadi” saat diamati. Nggak ada yang statis, Terus menerus Dinamis.
– *Proses filosofi*: Whitehead bilang realitas itu proses, bukan benda mati, semuanya hidup dan berkembang serta berkelanjutan, Cakra Manggilingan, siklus harmoni kesetimbangan.
– *Alam & evolusi*- sistem kompleks terus DUMADI, nggak pernah selesai, proses hanya berpindah alam, atau berubah posisi dimana yg satu berpisah dan bertemu kembali.
Makanya banyak orang pakai “DUMADI” buat nyebut spiritualitas yang nggak dogmatis, tidak menjadi doktrin kaku dan KULTUS, fokus ke proses belajar, proses menjadi manusia, proses semesta.
—
Singkatnya: *Spiritual DUMADI = spiritualitas proses*. Nggak mencari jawaban final atau berhenti berfikir, menggerakkan pengindra tentang Tuhan, tapi nyemplung mengikuti ke dalam proses alam dan diri sendiri buat ngerti dan memahami sedalam mungkin.
Lanjutkan membaca berikut nya… proses Paran Dumadi
Gus WARAS Nalar
