
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Jawa Timur.
LEBIH DARI 20 hari telah berlalu sejak digelarnya malam penghargaan Women’s Inspiration Awards 2026. Namun, satu kalimat kunci yang disampaikan oleh Yenny Wahid masih terngiang jelas dan membekas di ingatan.
Di tengah sorotan dan apresiasi, putri Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid, itu menegaskan definisi yang sesungguhnya: “Perempuan inspiratif adalah orang yang tidak bisa diam melihat penderitaan anak-anak dan orang-orang tidak berdosa di Palestina,” ucapnya.
Kala itu, kondisi kesehatan sempat menghalangi untuk segera menuliskan apa yang terasa begitu menyentuh hati. Kini, waktu yang berlalu justru membuat makna dari peristiwa tersebut semakin terasa relevan, tidak lekang oleh waktu, dan semakin menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar pemberian penghargaan biasa, melainkan ruang refleksi mendalam tentang hakikat perjuangan, kemanusiaan, dan peran perempuan di tengah kehidupan bangsa.
Salah satu momen puncak malam itu adalah ketika Ning Yenny Wahid, selaku Direktur Wahid Institute, menerima penghargaan utama sebagai Woman of Inspiration. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Direktur sekaligus CFO iNews Media Group, Ruby Panjaitan.
Namun, alih-alih menjadikan momen itu sebagai perayaan atas pencapaian pribadi, Yenny justru membelokkan sorotan ke arah yang jauh lebih luas: mengapresiasi jutaan perempuan lain yang berjuang dalam diam, namun memberikan makna besar bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam pidatonya yang sarat emosi dan ketulusan, Ning Yenny menegaskan pandangannya bahwa inspirasi sejati tidak selalu lahir dari mereka yang berada di panggung besar atau kerap tampil di depan publik. Justru, kekuatan terbesar bangsa ini sering kali bersumber dari hal-hal sederhana yang kerap dianggap remeh atau luput dari perhatian banyak orang.
“Perempuan inspiratif adalah mereka yang tiap pagi bangun menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Mereka yang bekerja, baik di dalam maupun di luar rumah, menjalankan tugas-tugas yang mungkin tak selalu dihargai,” ujar Ning Yenny saat berbicara pada Kamis, 30 April 2026 silam.
Pesan ini menjadi analisis sosial yang tajam namun lembut. Ia mengingatkan kita semua bahwa nilai diri seseorang tidak boleh diukur dari seberapa besar jabatan yang disandang atau seberapa megah panggung yang dimiliki.
Nilai seseorang terukur dari ketulusan hati dalam menjalani peran, seberapa besar tanggung jawab yang dipikul, dan seberapa konsisten ia berkontribusi, sekecil apa pun bentuknya. Pesan ini meruntuhkan definisi kesuksesan yang sempit, dan mengembalikannya pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.
Lebih jauh lagi, Putri kedua Gus Dur ini menyoroti bentuk keberanian perempuan yang sering kali tidak terdengar gemanya, namun dampaknya nyata bagi masyarakat. Ia merujuk pada mereka yang berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan sosial, bergerak menjaga kelestarian lingkungan hidup, hingga berani melawan praktik korupsi yang merugikan banyak pihak.
Di sinilah letak poin paling mendalam dari pidatonya, yang hingga kini masih sangat relevan. Bagi Ning Yenny, indikator utama dari keberanian dan inspirasi itu adalah rasa empati yang mendalam terhadap sesama. Hal ini disampaikannya kembali lewat pernyataan yang paling membekas: “Perempuan inspiratif adalah orang yang tidak bisa diam melihat penderitaan anak-anak dan orang-orang tidak berdosa di Palestina,” tegasnya.
Kalimat ini menjadi jembatan penghubung antara peran domestik perempuan di rumah dengan peran besarnya sebagai warga dunia yang memiliki hati nurani.
Bagi Ning Yenny, menjadi inspiratif berarti memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ketidakadilan, rasa sakit, dan penderitaan orang lain, terlepas dari jarak geografis maupun perbedaan latar belakang. Kepedulian terhadap nasib rakyat Palestina yang tertindas menjadi tolok ukur kepekaan kemanusiaan yang paling nyata.
Pidato tersebut tidak sekadar seremonial, melainkan seruan yang menggerakkan hati. Yenny mengajak siapa saja, perempuan maupun laki-laki, untuk kembali merenungi makna kontribusi dalam hidup ini.
Bahwa menjadi pribadi yang lebih baik tidak harus dimulai dengan langkah raksasa atau perubahan besar-besaran. Segalanya bisa dimulai dari kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten, baik itu kepada keluarga terdekat, lingkungan sekitar, maupun sesama manusia yang sedang menderita di belahan bumi lain.
Menutup sambutannya, ia meninggalkan pesan sederhana namun bernilai tinggi, yang menjadi penegas bahwa setiap perjuangan—seberapa pun kecil atau sederhananya—selalu memiliki arti dan dampak.
“Tetaplah berjuang, karena bagi saya, Anda semua berharga,” ucapnya mengakhiri.
Lebih dari 20 hari berlalu, pesan itu tidak menjadi basi. Sebaliknya, ia semakin menegaskan bahwa inspirasi sejati adalah tentang ketulusan, keberanian bersuara bagi kebenaran, dan kepedulian yang tak bertepi.*Wallahu A’lam Bisshawab*
