
Kediri-Menaramadinah. Com Senin Kliwon, 18 Mei 2026 Anak-anak yang terpenting adalah sekolah nya harus selesai, tidak sampai putus di jalan, kata-kata itulah yang terus mengiang-ngiang di telingaku saat berkunjung di rumah nya di Dusun Plumpungrejo Desa Karangtengah Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri Propvinsi Jawa Timur.
Pagi itu cuaca sangat cerah, ngobrol panjang lebar tentang pendidikan anak-anak keluarga Abdul Khamim dan Mariatul Qibtiyah.
Mbak Qib, demikian sapaan akrap nya, memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan, mereka adalah: 1). Ahmad Zaenal Fikri(Fikri) saat ini tinggal menunggu wisuda S1, 2). Alfa Jauhar Abdul Ghoni(Alfa), lagi kelas 11 Adrasah Aliyah di pondok pesantren dan 3). Zayyin Again Izzata Diniya(Alaina), yang sekarang sedang duduk di kelas 4 MI.
Mbak Qib adalah sosok seorang ibu yang sangat perduli dan mengutamakan kesehatan dan pendidikan putra-putrinya. Ungkapan nya diatas merupakan perwujutan tanggung jawabnya yang besar atas sukses nya pendidikan anak-anak nya, buktinya anak sulungnya Fikri saat ini tinggal menunggu wisuda nya serta masih terus berkhidmat kepada kiyai nya, dan menjadi salah satu ustazd di lingkungan pendidikan dimana dia mondok sampai saat ini.
Alhamdulillah, keluarga Abdul Khamim-Mariatul Qibtiyah adalah KPM PKH yang sudah menyatakan graduasi (keluar dari kepesertaan PKH secara sukarela)
Berikut ini adalah hasil wawancara singkatnya:
*Sejak kapan panjenengan mendapatkan PKH?*
“Sejak tahun 2008”
*Kapan panjenengan menyatakan GSM dan hal apa yang mendorongnya?*
“Ekonomi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dan ingin memberi kesempatan ke keluarga lain yang lebih membutuhkan”
*Manfaat yang dirasakan saat menjadi anggota PKH*
“Terbantu ekonomi keluarga nabung hasil dari usaha karena kebutuhan pokok terbantu”
*Hal yang membuat bersyukur setelah graduasi?*
“Bisa ikut membantu tetangga yang masih berproses”
*Cara mendidik anak sampai kuliah dan peran pendamping PKH?*
“Peran pendamping seperti Pak Habib biasanya: memberi motivasi saat P2K2, membantu urus administrasi, mengingatkan pentingnya sekolah, jadi penghubung ke program beasiswa KIP Kuliah
*Yang berkesan dari peran Pak Habib sebagai pendamping?*
“Yang sering disampaikan KPM:
– Sabar mendampingi, sering datang ke rumah dan tidak cuma saat pencairan
– Memberi motivasi
– Mengajarkan cara mencatat keuangan sederhana
– Membantu saat ada masalah di sekolah anak atau BPJS”
*Pesan untuk ibu-ibu penerima manfaat PKH agar anak semangat belajar tinggi?**
> “Ibu penerima manfaat PKH, bantuan ini cuma sementara. Jangan dipakai buat foya-foya, tapi buat bekal anak sekolah. Mau kita susah hari ini, asal anak kita nanti nggak susah lagi. Dukung anak belajar, tanyakan PR-nya, datang ke wali kelas. Kalau kita nggak sekolah tinggi, anak kita harus bisa. Semangat ya bu, demi masa depan mereka.”
Demikian sekelumit obrolan santai asik dan penuh inspirasi semoga kedepan anak-anak KPM PKH, yang menyusul Fikri menjadi sarjana di berbagai bidang ilmu, teruslah mendukung kesuksesan anak-anak untuk belajar, teruslah mendoakan anak-anak kita oleh sebab mereka lah penerus kita, anak-anak adalah masa depan kita.
Nur Habib, mengabarkan.
