Menachem Ali Bicara tentang Nasab Di PBB

 

Sidoarjo- Suasana Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo kemarin tampak berbeda. Puluhan simpul jejaring Bani Walisongo Jawa Madura berdatangan ke Dalem Pengasuh Ponpes, KH Mas Abdus Salam Mujib. Beberapa saat kemudian, datang juga filolog otoritatif Indonesia, Menachem Ali. Suasana tampak santai dan mengalir karena tujuan utama para tokoh memang untuk silaturrahim, sedangkan diskusi dan hasil-hasilnya hanya pemanis, bukan pemanas.

9

Diantara tokoh yang hadir adalah KH Mas Abdul Salam Mujib sekaligus sebagai Shohibul Bait. Hadir juga Ketua PBB RKH Kholil Muhammad Imam, Pengasuh Ponpes Gunungsari, Proppo, Pamekasan. Beliau terkenal dengan sebutan Kyai Kholil Nungsari.

Tampak hadir juga Firman Syah Ali (Cak Firman), Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK) yang juga anggota PBB. Cak Firman hadir bersama Munsib Madura Timur KHR Abdul Hamid Roqib Suryodirjo, Pengasuh Ponpes Palalang, Pamekasan.

Dari kalangan pegiat sejarah dan nasab Bhuju’, hadir KHR Ja’far Shodiq Fauzi Batuampar, KHR Abdul Gholib Sahuri Batuampar, KHR Mun’im Sholeh Palengaan, HR Nurul Yaqin, HR Ali Yusuf, HR Hidrochin Sabaruddin, Gus Jamik Canga’an, R Agung Saleh Seddur, RB Arya Rusli Kraton Sumenep dan banyak lagi pegiat sejarah dan nasab Walisongo.

Audiens sepakat kalau rangkaian pertemuan dan diskusi yang dilakukan secara berkala oleh Persatuan Bani Bhuju’ (PBB) adalah dalam rangka Birrul Walidain, berbakti kepada orang tua dan orang tuanya orang tua, dan orang tuanya orang tuanya orang tua terus hingga ke atas. Audiens juga sepakat bahwa semua tokoh hadir dalam kapasitas pribadi bukan dalam kapasitas sebagai anggota atau pengurus Ormas manapun.

KH Mas Abdussalam Mujib, sebagai shohibul bait, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sumber sejarah maupun nasab yang paling valid adalah sumber internal. Beliau juga meminta kepada Bani Walisongo untuk jangan mau lagi dibodohin oleh orang luar, karena kita bukan orang bodoh. Tidak lupa juga beliau meminta agar amaliyah leluhur-leluhur dan guru-guru kita dilestarikan, agar tidak diaku orang lain. Menurutnya kita bangkit agar jangan sampai anak-cucu kita dibodoh-bodohin orang luar.

Ketua PBB sebagai kasepuhan, Kyai Kholil Nungsari, dalam sambutannya menegaskan bahwa kelebihan-kelebihan spiritual yang telah dianugerahkan kepada bhuju’-bhuju’ kita hendaknya jangan dipandang sebagai churafat, oleh karena itu tidak perlu diceritakan ke publik dengan bangga, cukup tutur tinular di kalangan dzurriyahnya, sebagai bentuk kearifan lokal, warisan pinisepuh, bahan motivasi untuk geberasi penerus. Beliau minta tolong itu semua dijaga sebagai kekayaan khazahah bangsa, bukan dalam rangka churafat.

Dalam sesi diskusi dengan Menachem Ali, dipahami bersama bahwa filologi bukan penentu segalanya, karena filologi tidak bisa berdiri sendiri, sifatnya hanya membantu ilmu lainnya. Dokumen internal juga bukan penentu segalanya, karena dokumen internal harus didukung dokumen eksternal. Dokumen internal yang tidak didukung dokumen eksternal, bisa menjadi sumber primer asalkan mendekati zamannya.

Berkembang juga dalam diskusi bahwa dokumen sezaman sangat penting, dan ini kekuatan yang paling besar, tidak mungkin bisa dikalahkan oleh dokumen yang muncul belakangan. Sebagai contoh, Serat pararaton tidak mungkin dapat mengalahkan kakawin Negarakretagama, karena Serat Pararaton datang belakangan.

Kajian ilmiah harus by data, mau kita suka atau tidak suka sekalipun. Muhammad SAW sosok historis apa fiktif? Ternyata nama beliau tercatat dalam dokumen eksternal sezaman, namun nama beliau disebut Mamed (dalam bahasa yunani), selain itu dalam naskah historis sezaman tersebut beliau disebut Pseudo Prophet (Nabi Palsu). Kita tentu tidak sepakat dengan perspektif sang penulis bahwa Nabi Muhammad itu Nabi Palsu, tapi dengan tulisan itu, secara historis eksistensi Muhammad SAW sebagai tokoh historis terbukti.

Dokumen primer penting tapi cara bacanya tidak kalah penting. Banyak dokumen primer dengan cara baca yang salah menimbulkan historiografi yang salah juga. Cara menulis sejarah dan menetapkan nasab yang benar, pertama, semua sumber dikumpulkan dulu, kemudian dibandingkan satu sama lain, dianalisis bersama, kemudian disimpulkan. Jangan pernah ambil kesimpulan hanya dari satu manuskrip. Kalau di genealogi ada DNA Biologis, maka di Filologi ada DNA Naskah tapi mahal. Ciri khas Manuskrip era Islam adalah berbahan daluwang, bukan lontar, juga bukan kertas.

Pada sesi penutup, berdasarkan perbandingan berbagai sumber primer, disimpulkan untuk sementara bahwa ayah kandung R Zainal Abidin (Sunan Cendana) adalah Pangeran Surabaya. Entah Pangeran Surabaya yang mana masih akan dibahas lebih dalam lagi berdasarkan timeline dan periodisasi tokoh sezaman.