
Ditulis oleh Diar Mandala Jurnalis/Kolumnis Menara Madinah. Penulis adalah keturunan Mandala, cucu Syech Ruyyani bin Syech Shohibul Mandala Kadupinang.
Dari Pasir Angin untuk Umat
Di tengah rindangnya Kampung Pasir Angin, Cinangka Serang, berdiri Pondok Pesantren TQN Al-Mubarok. Di sinilah KH Yusuf Al-Mubarok membina ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru Banten bahkan luar provinsi. Kehadirannya menjadi titik temu antara tradisi keilmuan pesantren, tarekat, dan semangat kebangsaan.
KH Yusuf bukan sosok asing bagi masyarakat Banten. Nasab keilmuan dan darahnya bersambung ke dua sumber besar. Dari jalur ayah, beliau adalah keturunan Kesultanan Banten. Dari jalur ibu, beliau bersambung ke Bani Mandala Kadupinang Pandeglang. Dua aliran ini membentuk karakter beliau sebagai ulama yang kharismatik, teguh dalam ilmu, dan dekat dengan umat.
Perjalanan Mencari Guru dan Amanah Mursyid
Perjalanan spiritual KH Yusuf ditempuh dengan bertalaqqi kepada banyak guru tarekat di berbagai daerah. Setelah melalui laku panjang, beliau dibaiat menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekitar tahun 2020 oleh KH Kamsani Gunung Kencana Lebak. Sanad kemursyidan KH Kamsani sendiri bersambung kepada Syech Shohib Kadupinang, ulama besar keturunan Mandala yang masyhur pada masanya.
Setahun setelah pembaiatan itu, KH Kamsani wafat. Bagi para santri, peristiwa ini dipahami sebagai selesainya satu fase dan dimulainya amanah besar bagi KH Yusuf untuk melanjutkan estafet TQN jalur Mandala. Sejak saat itu, nama KH Yusuf semakin dikenal sebagai pewaris dan penghidup kembali tarekat khas Mandala yang pernah menjadi suluh perlawanan dan pendidikan ruhani di Banten.
Mursyid yang Dekat dengan Umat dan Negara
Kini KH Yusuf lebih banyak berkhalwat di pondok. Beliau hanya keluar untuk urusan umat dan umaroh yang mendesak. Sikap ini bukan berarti menjauh, melainkan bentuk fokus dalam menjaga kemurnian ajaran dan membina murid secara langsung.
Di luar majelis tarekat, KH Yusuf dikenal sebagai ulama yang paham ketatanegaraan. Beliau konsisten mendukung pemerintahan yang sah dan mengamalkan empat pilar kebangsaan. Kiprah sosialnya terlihat dari perannya sebagai Wakil Ketua Umum Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah atau PWI LS. Organisasi ini berkembang cepat dari pusat hingga tingkat RT di Banten.
Tokoh-tokoh PWI LS di Banten yang dikenal publik antara lain Abuyya Muhtadi bin Abuyya Dimyati, KH Yusuf Al-Mubarok, KH Imaduddin Al-Bantani, Gus Azis, Tb. Erif Rifjan, dan Tb. Aap Aptadi. Bersama mereka, PWI LS menjadi wadah konsolidasi umat yang merakyat dan terstruktur.
Pada 2019, KH Yusuf juga mendapat amanah sebagai Kanjeng Raja Sumedang. Hingga kini amanah tersebut belum diteruskan kepada yang lain, menjadi bukti kepercayaan masyarakat adat terhadap wibawa keulamaannya.
Pelajaran dari Sejarah untuk Generasi Banten
Keluarga besar Bani Mandala Kadupinang menyampaikan terima kasih kepada KH Yusuf yang telah menghidupkan kembali TQN khas Mandala. Ajaran ini dulu menjadi kekuatan moral masyarakat Banten dalam menghadapi kolonialisme. Peristiwa Geger Cilegon menjadi saksi bagaimana para kyai dan santri tarekat berdiri di garda depan membela keadilan. Sejarah juga mencatat bahwa perpecahan internal pernah menjadi celah bagi pihak luar untuk melemahkan umat.
Kisah KH Yusuf mengingatkan kita bahwa menjaga sanad keilmuan dan akhlak adalah benteng terbaik agar tidak terulang penjajahan dalam bentuk baru, terutama penjajahan spiritual. Belajar tarekat dengan bimbingan mursyid yang jelas silsilahnya adalah jalan untuk memperkuat aqidah, akhlak, dan cinta tanah air.
Menara Madinah dan Peran Media dalam Menjaga Warisan
Menara Madinah hadir untuk merekam dan menyebarluaskan kisah-kisah seperti ini. Di tengah derasnya arus informasi, publik perlu rujukan yang jernih tentang ulama, pesantren, dan sejarah yang membentuk jati diri bangsa.
Kisah KH Yusuf Al-Mubarok adalah salah satunya. Sebuah kisah tentang amanah, kesetiaan pada ilmu, dan tanggung jawab kepada umat. Semoga menjadi motivasi bagi generasi Banten untuk kembali belajar, mengamalkan, dan menjaga warisan para waliyullah agar Banten tetap menjadi tanah yang diberkahi para auliya.
