Sejarah Konflik dan Migrasi Leluhur Walisongo Dari Mekkah Hingga Ke Nusantara

 

Oleh : Firman Syah Ali As-Samarqandy

PENDAHULUAN : ERA JAHILIYAH

Sejarah Mekkah pra islam diwarnai rivalitas antar dua klan besar Qabilah Quraisy, yaitu klan Hasyim dan Klan Umayyah. Umayyah Bin Abdu Manaf adalah keponakan Hasyim. Rivalitas ini bukan sekedar masalah personal, tapi perebutan prestise di bidang politik, ekonomi dan religius. Ibnu Hisham (wafat 833 M), dalam kitab Sirah Nabawiyah, merinci bagaimana pembagian tugas Siqayah (penyediaan air) dan Rifadah (penyediaan makanan) bagi jemaah haji jatuh ke tangan Klan Hasyim, yang memicu kecemburuan Klan Umayyah yang selama ini lebih menonjol secara politik, militer dan ekonomi. Menurut Al-Baladhuri (wafat 892 M) dalam kitab Ansab Al-Ashraf, pernah dalam perselisihan hukum yang memuncak (munaferah) antara Hasyim dengan keponakannya, sampai berakhir dengan pengusiran Klan Umayyah ke Syam selama 10 tahun.

Ibnu Khaldun dalam kitab Al-Muqaddimah menganalisis bahwa pada era Mekkah pra Islam, klan Hasyim memegang otoritas religius (ulama), sedangkan klan Umayyah memegang otoritas politik (umara), dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa. Tentu saja istilah ulama dalam konteks ini bukan ulama islam, tapi ulama ajaran hanif (peninggalan Nabi Ismail as). Esensinya ya islam juga, tapi namanya bukan islam. Para pemegang teguh ajaran Nabi Ibrahim as di tengah paganisme Mekkah saat itu disebut Hunafa.

Baik Klan Hasyim maupun Klan Umayyah akhirnya membentuk aliansi, yaitu Blok Al-Mutayyabun Vs Blok Ahlaf. Blok Al-Mutayyabun (parfum) terdiri dari klan Hasyim, Klan Asad (leluhur Umar Bin Khattab), Klan Taim (leluhur Abubakar As-shiddiq), dan Klan Zuhrah (leluhur Sa’ad Bin Abi Waqqas dan Abdurrahman Bin Auf). Sementara Blok Ahlaf (sekutu) terdiri dari Klan Umayyah sebagai pemimpin, klan Makhzum (leluhur Abu Jahal), klan Sahm (leluhur Amru Bin Ash) dan klan Jumah (leluhur Umayyah Bin Khalaf, sang majikan kejam penyiksa Bilal Bin Rabah).

Pada saat Nabi Muhammad SAW dari Blok Parfum deklarasi Kenabian, Blok Sekutu marah, pemuka-pemuka mereka melakukan perlawanan keras. Namun perlawanan Blok Sekutu terhadap kenabian Muhammad SAW berakhir dalam peristiwan Fathu Mekkah. Pasca Fathu Mekkah terjadi masa damai yang panjang di bawah Nabi Muhammad SAW, Khalifah Abu Bakar hingga Khalifah Umar Bin Khattab.

ERA ISLAM AWAL

Namun perdamaian antar klan pasca Fathu Mekkah itu sebetulnya hanya perdamaian formal, sebab sebetulnya secara de facto tetap tumbuh rivalitas sengit antara Muawiyah Bin Abu Sufyan dari klan Umayyah dengan Ali Bin Abu Thalib dari Klan Hasyim. Jadi, rivalitas lama tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi persaingan memperebutkan pengaruh di dalam struktur negara Islam yang baru. Wilfred
Madelung dalam The Succession to Muhamamad berargumen bahwa Blok Sekutu secara sistematis membangun basis kekuatan di Syam selama puluhan tahun (sejak masa kekhilafahan Umar dan Utsman) sebagai persiapan untuk merebut kembali hegemoni Quraisy yang sempat diambil alih oleh Bani Hasyim dan koalisinya (Blok Parfum). Ingat, Abubakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab itu sama-sama keturunan Blok Parfum, yaitu faksi militan klan Hasyim sejak era Pra Islam. Kita menyebut masa antara Fathu Mekkah hingga Kekhalifahan Umar Bin Khattab sebagai era perang dingin antara Blok Parfum Vs Blok Sekutu.

ERA KHALIFAH UTSMAN, ALI DAN HASAN

Perang dingin antara Blok Parfum dan Blok Sekutu berubah menjadi hangat sejak tongkat Khilafah jatuh ke tangan Utsman Bin Affan dari Bani Umayyah. Utsman Bin Affan dianggap menyiram kembali bara sekam dan mengubahnya jadi konflik terbuka. Selama kekhalifahan Utsman Bin Affan, Bani Umayyah di bawah kendali Menteri Sekretaris Negara Marwan Bin Hakam (sepupu Khalifah Utsman) melakukan hegemoni politik yang luar biasa, jabatan-jabatan strategis dipegang oleh Klan Umayyah, bahkan anggota Blok Sekutu, Amr Bin Al Ash juga dicopot dari jabatan Gubernur Mesir dan digantikan oleh klan Umayyah. Dugaan tindakan Korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh Klan Umayyah di bawah stempel Khalifah Utsman Bin Affan menyebabkan semakin terbukanya konflik dan berakhir pada revolusi sosial yang merenggut nyawa Khalifah Utsman Bin Affan. Diantara pemimpin revolusi sosial tersebut adalah Muhammad Bin Abu Bakar Ash-shiddiq dari Bani Taim (anggota Blok Parfum), yang juga merupakan anak asuh kesayangan Ali Bin Abu Thalib.

Peristiwa revolusi sosial yang berujung pada pembunuhan Utsman Bin Affan, yang salah satu pelakunya adalah Muhammad Bin Abubakar inilah yang menyebabkan konflik laten Blok Parfum Vs Blok Sekutu berubah menjadi konflik terbuka.

​Setelah Khalifah Utsman wafat, jenazah beliau tidak bisa segera dimakamkan. Menurut catatan At-Tabari dan Ibn Sa’d, jenazah beliau dibiarkan di dalam rumahnya selama dua hingga tiga malam karena revolusioner melarang siapa pun untuk mengurusnya dan mengancam akan menyakiti siapa pun yang mencoba memakamkannya. ​Pemakaman akhirnya dilakukan secara sangat terbatas dan dilakukan di bawah kegelapan malam untuk menghindari serangan massa. Namun
massa tetap melempari iring-iringan jenazah dengan batu. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa massa sempat melarang jenazah beliau disalatkan di Masjid Nabawi, sehingga salat jenazah dilakukan di depan rumah atau di lokasi pemakaman.

​Setelah Khalifah Utsman wafat, Madinah berada di bawah kendali faksi pemberontak selama lima hari. Tidak ada pemimpin formal, sementara ketegangan antar-klan berada di titik didih. Massa dari Mesir, Kufah, dan Basra mendesak agar segera ditunjuk Khalifah baru untuk menghindari kehancuran negara.
Tokoh-tokoh seperti Ammar bin Yasir dan klan-klan pendukung Blok Parfum mendatangi Ali, menegaskan bahwa tidak ada yang lebih berhak memimpin selain beliau karena kedekatannya dengan Nabi. Mereka memberikan ultimatum agar warga Madinah segera memilih pemimpin, atau mereka akan mengambil tindakan lebih keras. Berdasarkan catatan At-Tabari, Ali bin Abu Thalib sebenarnya berkali-kali menolak ketika diminta menjadi khalifah. Beliau menyadari bahwa memimpin dalam kondisi “fitnatul kubra” yang membara sangatlah berat. Ali sempat berkata: “Carilah orang lain selain aku. Aku lebih suka menjadi penasihat (wazir) bagi kalian daripada menjadi pemimpin (amir).” ​Namun karena terus didesak, Ali akhirnya bersedia dengan satu syarat, baiat tidak boleh dilakukan secara rahasia, melainkan harus dilakukan secara terbuka di masjid dan atas keridhaan kaum Muslimin. Sebagian besar warga Madinah dan perwakilan daerah membaiat Ali di Masjid Nabawi. Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam termasuk yang membaiat Ali, meskipun kelak hal ini menjadi perdebatan apakah mereka membaiat dengan sukarela atau di bawah tekanan massa pemberontak yang menghunus pedang. Sebagian anggota Klan Umayyah (Blok Sekutu) dan beberapa sahabat seperti Sa’ad bin Abi Waqqas serta Abdullah bin Umar memilih untuk bersikap netral (qa’idun) dan tidak segera memberikan baiat.

​Terpilihnya Ali di tengah kepungan pemberontak menjadi celah yang dimanfaatkan oleh Klan Umayyah. Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam menolak mengakui legalitas baiat tersebut dengan alasan, pertama, baiat dilakukan di bawah tekanan senjata, kedua,
​Ali dianggap melindungi para pembunuh Utsman, karena kebetulan banyak pemberontak yang masuk dalam barisan pendukung Ali.

​Inilah yang membuat transisi kekuasaan ini menjadi awal konflik terbuka Klan Hasyim Vs Klan Umayyah. Pelantikan yang dimaksudkan untuk mengakhiri kekacauan justru menjadi alasan bagi Klan Umayyah untuk memulai perang terbuka.

Khalifah Ali Bin Abu Thalib tidak bisa menindak tegas para pembunuh Utsman Bin Affan karena
​para revolusioner yang terlibat dalam pengepungan dan pembunuhan Utsman bukanlah satu atau dua orang, melainkan people power berjumlah ribuan yang berasal dari faksi militer Mesir, Kufah, dan Basra. Kelompok inilah yang mendominasi Madinah saat Ali dilantik. Menindak mereka secara hukum saat itu sama saja dengan memicu perang saudara di dalam ibu kota yang sedang vakum kekuasaan. Para pembunuh tersebut telah melebur ke dalam barisan pendukung Ali. Jika Ali melakukan eksekusi massal, beliau akan kehilangan dukungan militer utamanya di tengah ancaman pemberontakan lain (dari Syam). Selain itu, ​secara hukum Islam, qishash memerlukan identitas pelaku yang jelas. ​Karena pembunuhan dilakukan secara pengeroyokan oleh massa yang kalap, sangat sulit menentukan siapa yang melakukan “tikaman maut” yang sebenarnya. ​Ali berpendapat bahwa stabilitas negara harus dipulihkan terlebih dahulu sebelum pengadilan yang adil bisa digelar tanpa tekanan massa. Hal ini ditulis rinci oleh Al-Jahiz dalam kitab Al-Uthmaniyyah.

Akibat ketidakmampuan Khalifah Ali untuk segera mengadili pelaku pembunuhan Khalifah Utsman, akhirnya pecah Perang Jamal (656 M) antara Khalifah Ali dengan para mantan pendukungnya sendiri, yang dimenangkan oleh Khalifah Ali. Setahun kemudian pecah perang Siffin antara Khalifah Ali dengan Blok Sekutu, yang dimenangkan oleh Blok Sekutu di bawah pimpinan Muawiyah Bin Abu Sofyan. Secara teknis, Khalifah Ali menang dalam perang ini, tapi karena kalah diplomasi di penghujung perang, sejarawan sepakat bahwa Gubernur Muawiyah-lah pemenang perang tersebut. Kekalahan Khalifah Ali menjadi semakin telak saat beliau dibunuh oleh mantan pendukungnya sendiri yang menganut ideologi radikal (661 M).

Khalifah kemudian digantikan oleh puteranya, yaitu Hasan. Gubernur Syam, Muawiyah, menolak baiat terhadap Hasan. Khalifah Hasan berada dalam posisi yang sangat sulit. Pasukannya di Irak mulai mengalami demoralisasi, terjadi banyak pembelotan ke pihak Muawiyah (karena iming-iming harta), dan Hasan sendiri menyadari bahwa perang saudara hanya akan menghabiskan darah kaum Muslimin.
​Akhirnya, pada tahun 661 M, Hasan mengambil keputusan besar untuk melakukan rekonsiliasi dan penyerahan kekuasaan dengan syarat ​setelah Muawiyah wafat, urusan kepemimpinan harus dikembalikan kepada musyawarah umat (bukan sistem warisan) dan keamanan pengikut Ali harus dijamin.

ERA DINASTI UMAYYAH DAN KHALIFAH IBNU ZUBAIR

Peristiwa penyerahan kekuasaan ini dikenal sebagai Amul Jama’ah (Tahun Persatuan). Dengan ini, Muawiyah secara resmi menjadi Khalifah tunggal dan mendirikan Dinasti Umayyah. ​Husain bin Ali awalnya sangat keberatan dengan keputusan kakaknya karena menganggap Muawiyah tidak layak secara moral. Namun, demi menghormati keputusan Hasan dan menjaga janji perdamaian, Husain ikut membaiat Khalifah Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian tersebut selama Muawiyah masih hidup. Meskipun secara formal klan Ali “terpaksa” menerima kepemimpinan klan Umayyah, secara ideologis mereka tetap menganggap hanya Klan Ali yang berhak memimpin.

​Perdamaian ini secara formal mengakhiri perang saudara, namun secara sosiopolitik, ia hanya menunda ledakan yang lebih besar. Masalah muncul kembali ketika Khalifah Muawiyah di akhir hayatnya menunjuk putranya, Yazid bin Muawiyah, sebagai pengganti (melanggar salah satu poin perjanjian dengan Hasan). Tindakan inilah yang nantinya memicu penolakan keras dari Husain bin Ali dan berujung pada Tragedi Karbala.
​Inilah fase di mana Blok Sekutu (Umayyah) akhirnya memenangkan pertarungan panjang melawan Blok Parfum (Hasyim) dalam perebutan supremasi politik di dunia Islam.

Pasca terbunuhnya Husain, salah satu anggota Blok Parfum dari klan Asad, Abdullah Bin Zubair meninggalkan damaskus dan pergi Ke Mekkah serta mengumumkan dirinya sebagai orang yang berlindung di Ka’bah, serta tidak mengakui khilafah Klan Umayyah. Proklamasi nekat Klan Asad ini dijawab dengan pengepungan Mekkah oleh Militer Umayyah. Abdullah Bin Zubair berlindung di dinding Ka’bah, namun militer Umayyah tetap menembakkan meriamnya sehingga ka’bah terbakar. Tiba-tiba Yazid Bin Muawiyah wafat.

​Wafatnya Yazid menyebabkan krisis kepemimpinan di Dinasti Umayyah (karena putranya, Muawiyah II, hanya memerintah sebentar lalu wafat/mundur). Pada saat inilah Abdullah bin Zubair secara resmi memproklamirkan diri sebagai Khalifah (683 M/64 H). Pengakuan terhadap Khilafah Abdullah Bin Zubair meluas dengan sangat cepat. Beliau diakui di Hijaz (Mekkah-Madinah), Yaman, Mesir, Irak (Kufah dan Basra), bahkan sebagian besar wilayah Syam (pusat kekuatan Umayyah sendiri). ​Pada titik ini, klan Umayyah hampir runtuh dan hanya menyisakan kontrol di sebagian kecil wilayah Suriah.

​Kemunculan Khilafah Ibn Zubair sering dipandang sebagai upaya terakhir dari “generasi sahabat” dan faksi-faksi di Madinah untuk merebut kembali kepemimpinan dari tangan Blok Sekutu. Ibn Zubair secara nasab mewalili Klan Asad dan Klan Taim (anggota Blok Parfum). ​Dalam politik Arab saat itu, nasab adalah modal utama. Abdullah bin Zubair mewakili “darah biru” elit arab quraisy yang murni. ​Al-Mus’ab al-Zubairi (yang juga keturunan Zubair) dalam kitab Nasab Quraysh memberikan rincian mendalam tentang bagaimana klan Asad dan Taim bahu-membahu dalam mendukung kekhalifahan Abdullah bin Zubair. Sementara Klan Hasyim tidak mendukung klaim Khilafah Abdullah bin Zubair. Meskipun sama-sama menentang Bani Umayyah, hubungan Ibnu Zubair dengan Klan Hasyim sangat tegang karena adanya persaingan legitimasi darah biru. Hubungan ini memburuk hingga ke titik di mana Khalifah Ibnu Zubair pernah mengepung Muhammad bin al-Hanafiyyah, Ibnu Abbas, dan beberapa anggota Bani Hasyim lainnya di sebuah lembah (Syi’b) di Mekkah. Ibnu Zubair mengancam akan membakar mereka jika tidak segera memberikan baiat. Mereka akhirnya diselamatkan oleh pasukan kiriman Al-Mukhtar al-Thaqafi dari Kufah. Pemerintahan Abdullah Bin Zubair bertahan selama kurang lebih 10 tahun (683–692 M), menjadikannya pesaing serius bagi Dinasti Umayyah sebelum akhirnya beliau gugur di tangan Al-Hajjaj bin Yusuf ash-Thaqafi pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Kembali ke Klan Hasyim, pasca tragedi Karbala, Klan Hasyim menyadari bahwa melawan kekuatan militer Umayyah secara frontal sangatlah berisiko, sehingga mereka mengubah pendekatan menjadi penguatan jaringan ideologis. ​Selama pemerintahan klan Umayyah, klan Hasyim terpecah menjadi dua fokus utama, namun keduanya tetap dalam satu payung sentimen anti-Umayyah. ​Klan Ali di bawah kepemimpinan Ali Zainal Abidin bin Husain, mereka cenderung menarik diri dari politik praktis dan fokus pada pengajaran ilmu agama (pendekatan kultural). Ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan klan agar tidak habis dibantai. ​Sedangkan klan Abbas di bawah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas mulai membangun sel-sel rahasia di wilayah Timur (Khurasan). Inilah yang menjadi cikal bakal Revolusi Abbasiyah. Mereka menggunakan slogan “Ar-Ridha min Ali Muhammad” (pemimpin yang diridhai dari keluarga Nabi) untuk menarik simpati publik tanpa menyebutkan nama spesifik pemimpinnya.

Transformasi gerakan Klan Hasyim dari sel rahasia menjadi revolusi bersenjata adalah serangkaian operasi intelijen dan propaganda paling sukses dalam sejarah dunia. Gerakan ini dikenal dengan nama Da’wah al-Abbasiyyah. ​Klan Abbas menyadari bahwa rakyat sangat mencintai keturunan Ali bin Abi Thalib. Klan Abbas menggunakan slogan “Al-Ridha min Ali Muhammad” (Pemimpin yang diridhai dari keluarga Muhammad). Slogan ini sengaja dibuat untuk mengelabui rakyat. Rakyat mengira mereka berjuang untuk Klan Ali (Alawiyyin), padahal Klan Abbas diam-diam sedang menyiapkan panggung untuk diri mereka sendiri.

​Klan Abbas awalnya berpusat di Humaymah (desa kecil di Yordania), kemudian pindah ke Khurasan (wilayah di Persia/Iran timur). Wilayah ini jauh dari pusat kendali Umayyah di Syam dan dihuni oleh kaum Mawali (Muslim non-Arab) yang merasa didiskriminasi oleh sistem aristokrasi Umayyah yang menganut Arabisme. Kemudian sejarah melahirkan
Jenderal Abu Muslim al-Khurasani, seorang jenius militer dan ahli propaganda yang berhasil menyatukan faksi-faksi yang bertikai di Khurasan di bawah panji hitam Klan Abbas. ​Pada tahun 129 H (747 M), gerakan ini resmi menjadi terang-terangan. Abu Muslim mengibarkan Panji Hitam di Khurasan sebagai simbol duka atas kematian keluarga Nabi sekaligus simbol perlawanan. ​Pasukan ini bergerak cepat dari Timur ke Barat, mengalahkan satu per satu gubernur Umayyah.
​Puncaknya adalah Perang Zab (750 M), di mana khalifah terakhir Umayyah, Marwan II, dikalahkan.

​Posisi klan Ali dalam Revolusi Hasyimiyah ini sangat tragis. Mereka adalah “wajah” yang dijual dalam kampanye, namun “dibuang” saat kemenangan diraih. Banyak Klan Ali dan pengikutnya mendukung revolusi ini karena mereka percaya bahwa setelah Umayyah tumbang, tahta akan diberikan kepada Klan Ali (anak cucu Hasan atau Husain). Namun, begitu Baghdad dikuasai, Klan Abbas segera memproklamirkan Abul Abbas as-Saffah dari Klan Abbas sebagai Khalifah, bukan dari Klan Ali. ​Klan Ali merasa dikhianati. Hubungan antara Klan Abbas (Klan Hasyim garis Abbas) dan Klan Ali (Klan Hasyim garis Ali) pecah seketika.

ERA DINASTI ABBASIYAH

​Klan Abbas, justru bertindak lebih keras terhadap klan Ali dibandingkan Klan Umayyah, karena mereka menganggap klan Ali sebagai ancaman legitimasi yang paling nyata. ​Tokoh-tokoh seperti Nafs az-Zakiyyah (keturunan Hasan bin Ali) kemudian memimpin pemberontakan melawan Khilafah Abbasiyah namun berhasil ditumpas dengan kejam. Setelah itu, ​Khalifah Abu Ja’far al-Mansur melakukan tindakan represif untuk memastikan tidak ada lagi sisa-sisa Klan Ali yang bisa mengancam legitimasi Khilafah Abbasiyah. Banyak anggota klan Ali yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara di Kufah dan Baghdad. Banyak riwayat menyebutkan mereka disiksa atau dibiarkan meninggal dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Gerak-gerik tokoh senior Klan Ali, termasuk Imam Ja’far al-Sadiq (yang saat itu memilih jalur ilmu dan budaya), diawasi ketat oleh intelijen Khilafah Abbasiyah.

​Penumpasan ini memaksa beberapa puak Klan Ali melarikan diri jauh dari pusat kekuasaan (Irak dan Hijaz). Hal ini secara tidak sengaja justru menyebarkan pengaruh klan Ali ke penjuru dunia Islam. Idris bin Abdallah (saudara Nafs al-Zakiyyah) berhasil melarikan diri ke Afrika Utara dan mendirikan Dinasti Idrisiyyah. Disusul Klan Ali Garis Husain mendirikan Dinasti Fathimiyah di Mesir. Dinasti Idrisiyah dan Fathimiyah tidak harmonis, walaupun sama-sama Klan Ali. Sejarah mencatat, Dinasti Idrisiyah adalah negara Alawiyyin pertama yang berdaulat dan lepas dari kekuasaan Baghdad. Sebagian Klan Ali juga eksodus ke wilayah pegunungan di selatan Laut Kaspia (wilayah Daylam/Tabaristan) dan nantinya mendirikan emirat-emirat Alawiyyin di sana.

Selain eksodus ke Maroko dan Kaspia, sebagian Klan Ali terus merangsek ke arah timur hingga ke Transoxiana sebagai wilayah periferi Khilafah Abbasiyah.
Wilayah Transoxiana (Mawarannahr) seperti Samarkand, Bukhara, dan Termez menjadi tujuan utama karena wilayah ini jauh dari jangkauan langsung birokrasi Baghdad namun memiliki tradisi keilmuan yang tinggi.

Ketika Tentara Mongol menyerbu Baghdad, tokoh besar Klan Ali saat itu, Nashiruddin al-Tusi, justru menjadi penasihat Hulagu Khan. Ia dianggap berperan dalam meyakinkan Mongol untuk tidak membantai penduduk sipil di wilayah-wilayah tertentu dan menyelamatkan perpustakaan serta institusi keilmuan. Bangsa Mongol di bawah Hulagu cenderung lebih toleran terhadap faksi-faksi agama yang sebelumnya ditindas oleh Khilafah Abbsiyah di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh Klan Ali untuk mengamankan kelangsungan klan mereka.

PAX MONGOLICA

Berakhirnya Khilafah Abbasiyah Baghdad yang dilanjutkan oleh Khilafah Abbasiyah Cairo secara de facto mengakhiri dominasi Klan Abbas dalam dunia Islam, dan memulai era Pax Mongolica, yaitu masa damai dunia yang panjang di bawah Imperium Mongol. Pax Mongolica berlangsung dua abad, yaitu abad 13 hingga 14, dimulai sejak pemerintahan Genghis Khan hingga berakhirnya pemerintahan Kubilai Khan. Pada era Pax Mongolica ini, Klan Ali mendapatkan posisi istimewa yang menjadi fondasi bagi kemakmuran dan penyebaran dakwah mereka hingga ke Nusantara. ​Bangsa Mongol memiliki kepercayaan terhadap kekuatan spiritual dan “orang suci” dari berbagai agama. Meskipun pada awalnya mereka adalah penganut Shamanisme, para penguasa Mongol (khususnya di Ilkhanate dan Chagatai Khanate) menaruh hormat yang luar biasa kepada para Sayyid. Banyak Klan Ali di Transoxiana diberikan status Tarkhan, yaitu kebebasan dari pajak dan kewajiban militer. Sejarawan Rashid-al-Din Hamadani mencatat bahwa penguasa Mongol sering kali meminta doa dan restu dari para Sayyid sebelum melakukan ekspedisi atau saat menghadapi kesulitan.

​Pax Mongolica menciptakan keamanan di sepanjang Jalur Sutra Darat. Hal ini sangat menguntungkan klan Ali di Transoxiana yang dikenal sebagai kelompok pedagang sekaligus ulama. Mereka dapat bergerak bebas dari Samarkand ke India, Tiongkok, hingga ke pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara tanpa khawatir akan hambatan birokrasi atau serangan perompak jalanan. ​Banyak tokoh Alawiyyin di Transoxiana yang menduduki jabatan birokrasi penting di bawah pemerintahan Mongol. Mongol cenderung menggunakan tenaga ahli dari kalangan Muslim terdidik (kaum Mawali dan Sayyid) untuk mengelola administrasi negara yang kompleks. Samarkand dan Bukhara tumbuh menjadi pusat sains dan tasawuf. Di sinilah terjadi sinkretisme budaya yang halus, di mana nilai-nilai Islam dikemas dalam bahasa kebudayaan yang universal, yang memudahkan mereka diterima oleh berbagai etnis. Hal ini dicatat oleh Atta Malik Al-Juvaini, Ibnu Batuta, Rashid Al-Din dan Thomas W Arnold.

ERA TIMURLENK

Pada abad 14 Timurlenk naik ke panggung sejarah, dia membangun imperium baru penerus kejayaan Mongol, namun dia tidak diakui sebagai bagian dari Pax Mongolica oleh sejarawan.

​Berbeda dengan imperium Mongol awal yang cenderung pragmatis, Timur Lenk sebagai imperium mongol akhir adalah seorang Muslim yang sangat terobsesi dengan legitimasi agama. Ia memiliki kebijakan dan proteksi khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW (Klan Ali). Walau Timur Lenk dikenal sangat kejam terhadap musuh-musuhnya, namun ia memberikan instruksi ketat kepada pasukannya untuk tidak menyakiti para Sayyid (Klan Ali) di kota-kota yang ia taklukkan. Timur Lenk sering menempatkan Klan Ali di barisan terdepan dalam prosesi kenegaraan atau pertemuan formal untuk menunjukkan bahwa pemerintahannya didukung oleh garis keturunan Rasulullah SAW. Penasihat spiritual paling berpengaruh bagi Timur Lenk adalah Mir Sayyid Baraka, seorang anggota Klan Ali dari Madinah yang menetap di Termez (Uzbekistan Modern). Makam Timur Lenk di Gur-e-Amir, Samarkand, bahkan diletakkan di kaki makam Sayyid Baraka sebagai bentuk penghormatan abadi.

​Di bawah proteksi Timur Lenk, klan Ali di Transoxiana memperkuat pengaruh mereka melalui Tarekat (gerakan isoterisme islam). ​Banyak anggota Klan Ali yang menjadi tokoh kunci dalam ordo Sufi seperti Naqsyabandiyah. Integrasi antara nasab (keturunan) dan kesufian ini membuat posisi mereka tidak tersentuh oleh gejolak politik, karena mereka memiliki akar rumput yang sangat kuat di kalangan civil society.

​Meskipun Timur Lenk menghormati klan Ali, peperangan yang ia kobarkan di seluruh Asia Tengah, Persia, hingga India menyebabkan ketidakstabilan ekonomi yang luar biasa. Banyak Klan Ali yang merasa bahwa Transoxiana terlalu sering menjadi medan pertempuran. Mereka mulai bergerak lebih jauh ke arah selatan (India/Kesultanan Delhi) dan ke arah Timur (Yunnan, Campa dan kepulauan Nusantara). Semua ini dicatat oleh Sharafuddin Ali Yazdi, Ibn Arabsyah, Beatrice Forbes Manz, dan S.A.A Rizvi.

ERA TIGA KEKAISARAN BUBUK MESIU

Pasca runtuhnya Imperium Timuriyah (setelah wafatnya Timur Lenk dan melemahnya para penerusnya di abad ke-15), wilayah Transoxiana dan sekitarnya mengalami pergeseran geopolitik besar dengan masuknya kabilah-kabilah Uzbek (Dinasti Shaybaniyah) serta bangkitnya Dinasti Safawi di Persia. Sedangkan di Anatolia, Dinasti Ottoman kembali jaya dan membangun Imperium raksasa. Sementara Di India, Klan Timurlenk membangun Imperium Mughal. Maka terbentuklah apa yang oleh para sejarawan disebut sebagai Tiga Kekaisaran Bubuk Mesiu, karena tiga kekaisaran perkasa yang sama-sama dipimpin oleh keturunan Turko-Mongolic itu memiliki peralatan militer tercanggih pada zaman itu, diantaranya bubuk mesiu. Kerajaan yang memiliki bubuk mesiu pada saat itu sama dengan negara yang memiliki hulu ledak nuklir saat ini.

​Bagi Klan Ali (Alawiyyin), masa ini adalah periode “Diversifikasi Strategis”. Mereka tidak lagi bergantung pada satu penguasa, melainkan mulai menyebar dan memperkuat pengaruh di tiga wilayah utama yaitu Transoxiana (Uzbekistan), Persia dan India Raya (termasuk nusantara). Di bawah kekuasaan Dinasti Shaybaniyah Transoxiana yang beraliran Sunni ketat, klan Ali tetap menempati posisi sosial yang sangat tinggi. Banyak Klan Ali (Sadah) yang menguasai tanah wakaf luas dan menjadi elit agraris sekaligus spiritual.
Hubungan antara Klan Ali dengan tarekat Naqsyabandiyah semakin menyatu. Tokoh-tokoh seperti Khwaja Ahrar (pemimpin tarekat yang sangat kaya dan berpengaruh) memperlakukan Klan Alu sebagai mitra politik dan penasihat utama sultan-sultan Uzbek. Mereka tetap menjadi penjaga madrasah-madrasah besar di Bukhara dan Samarkand.

​Perubahan paling radikal terjadi di Persia (Iran). Munculnya Dinasti Safawi (yang mengklaim keturunan dari Imam Musa al-Kadzim) mengubah peta mazhab wilayah tersebut. Klan Ali yang berada di wilayah Persia mendapatkan posisi politik formal sebagai pejabat negara (Sadr) yang mengurusi masalah keagamaan dan hukum. Jika di era sebelumnya mereka adalah “elit yang dihormati”, di era Safawi mereka menjadi “elit penguasa”. Namun, hal ini juga menyebabkan fragmentasi karena perbedaan mazhab dengan kerabat mereka yang tetap Sunni di Transoxiana (Uzbekistan).

​Pecahnya stabilitas politik pasca-Timuriyah di Transoxiana juga mendorong gelombang migrasi terakhir dan terbesar Klan Ali menuju India Utara, Yunnan Cina, dan terus ke Asia Tenggara. Di India, klan Ali (dikenal sebagai Barha Sayyids) menjadi jenderal dan menteri penting bagi kaisar-kaisar Mughal. di India Timur (nusantara), Klan Ali seperti Sunan Ampel dan para penyebar Islam lainnya (yang merupakan Sadah dari Transoxiana) mulai mengonsolidasikan kekuatan di pesisir utara Jawa. Mereka membawa model kepemimpinan Transoxiana, perpaduan antara ulama, pedagang, dan bangsawan ke tanah Majapahit. Semua ini dicatat dengan rinci oleh Zahiruddin Babur, Fazlullah Bin Ruzbihan, S.A.A Risvi, dan Martin Van Bruinessen.

JALUR MIGRASI DARI UZBEKISTAN KE NUSANTARA

Jalur migrasi Klan Ali (khususnya dari garis keturunan Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra atau Syekh Jumadil Kubro) dari Transoxiana dan Khorasan (sekarang bernama Uzbekistan) menuju Nusantara merupakan kombinasi antara misi dakwah Sufistik, jejaring niaga internasional, dan terkadang keterlibatan dalam struktur militer kerajaan lokal.

Al-Mus’ab Al-Zubairi mencatat bahwa ​Pasca era Timur Lenk, wilayah Samarkand dan Termez di Uzbekistan menjadi pusat konsolidasi Klan Ali. Klan Ali di sini adalah elit intelektual yang menguasai tradisi kedokteran, astronomi, dan tasawuf. Diantara tokoh besarnya saat itu adalah Sayyid Jamaluddin Husain Al-Kubra (Syekh Jumadil Kubra), Datuk Walisongo. Beliau melakukan perjalanan dari Samarkand menuju wilayah Selatan karena stabilitas politik di Transoxiana mulai goyah akibat suksesi pasca-Timuriyah. Jalur sutera darat yang selama ini dikuasai Klan Ali juga sudah tidak aman. Oleh karena itu Sayyid Jumadil Kubro melakukan migrasi ke jalur sutera laut.

​Sebelum ke Jawa, jalur migrasi singgah di Gujarat (India), kemudian ke wilayah Campa (Indochina). Di sini, klan Ali melakukan asimilasi militer dan politik. Tokoh dalam periode migrasi campa ini adalah Sayyid Ibrahim Assamarqandi, di mana beliau menikah dengan putri dari Kerajaan Campa. Ini adalah strategi klasik “perkawinan politik” untuk mengamankan jalur dakwah. Selama di India, mereka sering menjadi penasihat militer karena keahlian taktik perang yang dipelajari di era Timuriyah, begitpun saat mereka tiba di Campa. Klan Ali membawa teknologi bubuk mesiu ke India dan Campa. Hal ini dicatat oleh Zhou Daguan dan T.W Arnold.

ERA DEMAK DAN PAJANG

​Migrasi ini mencapai puncaknya di pesisir utara Pulau Jawa. Pada fase ini, dakwah berubah menjadi kekuatan politik-militer formal.
​Tokoh Besar Klan Ali zaman itu adalah Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Sebagai catatan, gelar Sunan adalah gelar Anumerta, yaitu gelar yang diberikan setelah mereka wafat. Mereka mendirikan pesantren sebagai basis kaderisasi. Syarif Hidayatullah menggabungkan otoritas spiritual dengan komando militer, memimpin penaklukan Sunda Kelapa (1527 M) untuk membendung pengaruh Portugis. Beliau adalah prototipe pemimpin “Ulama-Panglima”.

​Sunan Ampel diperkirakan aktif berdakwah dan memimpin komunitas Muslim di Surabaya pada rentang tahun 1443 M hingga 1481 M. Berikutnya Sunan Bonang, aktif tahun 1465 hingga 1525, dan Sunan Giri yang aktif sejak tahun 1481 hingga tahun 1506. Disusul Sunan Drajat, yang aktif sejak tahun 1470 hingga 1522. Berikutnya Sunan Kalijaga pada akhir abad 15. Terakhir adalah Sunan Gunung Jati, yang aktif sejak tahun 1479 hingga tahun 1568, dan Sunan Kudus yang aktif sejak tahun pertengahan hingga akhir abad 16.

Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak dibantu oleh Klan Ali yang terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung (ayahanda Sunan Kudus), Sunan Kalijaga usia muda, Sunan Gunung Jati dan Sunan Drajat. Sedangkan Klan Ali (Walisongo) pada puncak kejayaan Kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono adalah Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Kudus. Sedangkan pada era Kesultanan Pajang, hanya tersisa Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, itupun Sunan Kudus wafat pada awal-awal Kerajaan Pajang. Mengapa di setiap periode selalu ada Sunan Kalijaga? Karena usia beliau sangat panjang, 131 tahun, sejak akhir Majapahit hingga awal Mataram Islam.

Jadi Walisongo adalah pembawa warisan intelektual, spiritual, sejarah panjang dan tarekat Klan Ali (Alawiyyin) ke Bumi Nusantara. Trah Walisongo kemudian menjadi raja-raja dan ulama besar nusantara, yang pada zaman modern banyak yang bergabung ke Ormas NU dan Muhammadiyah. Trah Raja (priyayi) banyak ke Muhammadiyah, sedangkan trah Wali (Kyai) banyak ke NU. Setidaknya ini ditulis oleh Mitsuo Nakamura, Agus Sunyoto, Martin Van Bruinessen, dan Clifford Geertz.

*) Penulis adalah Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK), Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU, dan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)