Dipanggil Allah: Haji sebagai Jalan Keimanan, Bukan Sekadar Kemampuan

 

Oleh : H. Sukma Sahadewa ( Wakil Ketua ISNU Surabaya & Sekretaris BPTE MUI Jatim )

Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur segala sesuatu dengan materi, ibadah haji justru menghadirkan pelajaran yang sangat berbeda. Ia bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, bukan pula semata-mata soal kemampuan finansial, tetapi tentang panggilan ilahi yang penuh misteri dan keagungan.

Kita sering menyaksikan fenomena yang menggetarkan hati. Sepasang suami istri lanjut usia, dengan tubuh yang tak lagi sekuat dahulu, tetap melangkah menuju Tanah Suci. Mereka bukan dari kalangan berkecukupan. Kehidupan mereka sederhana, bahkan sering kali penuh keterbatasan. Namun selama bertahun-tahun, mereka menabung sedikit demi sedikit. Dari uang yang disisihkan secara perlahan, dari keinginan yang ditunda, hingga akhirnya cukup untuk mendaftar haji.

Apa yang menggerakkan mereka bukan sekadar keinginan, melainkan keyakinan bahwa jika Allah telah memanggil, maka jalan akan dibukakan.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al Hajj: 27)

Artinya, Allah sendiri yang menjamin bahwa siapa pun yang dipanggil akan datang, meskipun dengan keterbatasan dan dari tempat yang sangat jauh. Ayat ini menegaskan bahwa haji bukan hanya perintah, tetapi juga undangan dari Allah kepada hamba pilihan-Nya.

Dalam ayat lain, Allah menegaskan kewajiban sekaligus kemampuan sebagai syarat:

“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
(QS. Ali Imran: 97)

Makna kemampuan di sini tidak hanya dimaknai secara materi, tetapi juga mencakup kesehatan, kesempatan, dan izin dari Allah. Banyak orang yang secara finansial mampu, tetapi belum juga dipanggil. Sebaliknya, ada yang secara ekonomi sederhana, namun dimudahkan jalannya.

Dalam sejarah Islam, konsep dipanggil oleh Allah telah dimulai sejak kisah agung Nabi Nabi Ibrahim AS. Ketika Allah memerintahkan beliau membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS, perintah itu bukan sekadar membangun bangunan fisik, tetapi membangun pusat peribadatan umat manusia.

Setelah Ka’bah selesai dibangun, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyeru manusia agar menunaikan haji. Secara logika manusia, seruan itu tampak mustahil. Namun beliau tetap melaksanakannya, dan Allah yang menyampaikan panggilan itu kepada seluruh manusia.

Di sinilah makna terdalam ibadah haji, bahwa yang memanggil bukan manusia, tetapi Allah sendiri.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan dan kemuliaan ibadah haji dalam sabdanya:

“Barang siapa melaksanakan haji karena Allah, lalu ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, haji yang dilakukan dengan keikhlasan dan ketaatan akan menghapus dosa-dosa, mengembalikan manusia kepada keadaan suci. Ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga proses pembersihan jiwa.

Dalam hadist lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya, haji yang diterima oleh Allah memiliki nilai yang sangat tinggi, bahkan ganjarannya adalah surga. Ini menunjukkan betapa mulianya ibadah haji sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Kisah keluarga lansia yang menabung sedikit demi sedikit menjadi refleksi nyata dari ajaran ini. Mereka tidak hanya mengumpulkan uang, tetapi juga mengumpulkan kesabaran, doa, dan keyakinan. Setiap rupiah yang disisihkan adalah bentuk ikhtiar yang disertai tawakal kepada Allah.

Ketika panggilan itu datang, banyak hal menjadi mudah. Jalan yang sebelumnya terasa berat menjadi ringan. Hati yang sebelumnya penuh kekhawatiran menjadi tenang.

Kita juga belajar dari ujian Nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya. Nabi Ismail dengan penuh keimanan menerima perintah tersebut. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah seringkali membutuhkan pengorbanan, tetapi di balik itu terdapat hikmah dan kemuliaan.

Dari semua ini, kita memahami bahwa rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang keberkahan. Perjalanan bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang niat. Keberangkatan bukan hanya tentang kesiapan manusia, tetapi tentang izin Allah.

Pada akhirnya, kita sampai pada satu pemahaman yang sangat mendalam bahwa bukan manusia yang memilih untuk pergi haji, tetapi Allah yang memilih siapa yang menjadi tamu-Nya.

Maka bagi siapa pun yang hari ini sedang menabung, berdoa, atau berharap dalam diam, jangan pernah merasa jauh. Bisa jadi nama kita telah tercatat dalam panggilan itu, hanya menunggu waktu terbaik dari Allah.

Dan ketika saat itu tiba, kita akan menyadari bahwa setiap usaha, setiap doa, dan setiap kesabaran adalah bagian dari perjalanan menuju satu kehormatan terbesar, yaitu menjadi tamu Allah di Tanah Suci.