Eksklusif 13 Hari di Jantung Cagar Alam Dunia: Saya Menyaksikan Napas Terakhir Badak Bercula Satu

By: Sayyid Diar Mandala, Kolumnis menaramadinah.com

Saya datang ke Ujung Kulon bukan untuk berwisata. Saya datang untuk meninjau. Selama tiga belas hari saya tinggal di jantung Cagar Alam Dunia ini. Di ujung paling barat Pulau Jawa, Allah menitipkan rumah terakhir bagi Badak Bercula Satu.

Ujung Kulon dikenal sejak masa Kerajaan Sunda. Ketika Kesultanan Banten berjaya, kawasan ini disebut ujung barat yang sunyi. Para ulama dan nelayan mengenal Sanghiyang Sirah sebagai tempat tafakur. Mereka datang bukan meminta dunia, melainkan mengingat kebesaran Sang Pencipta sambil menatap Samudera Hindia. Tradisi itu hidup hingga hari ini sebagai khazanah spiritual bangsa.

Sejarah Ujung Kulon berubah ketika Gunung Krakatau meletus. Gelombang laut menghapus permukiman di pesisir. Setelah bencana itu, kawasan ini kosong dari manusia. Hutan mengambil alih kembali. Pohon tumbuh tegak, satwa kembali berkembang. Peristiwa duka itu menjadi jalan penyelamatan alam. Dari kehancuran lahir kehidupan baru yang lebih lestari.

Kesadaran menjaga kawasan ini muncul sejak masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Ujung Kulon sebagai cagar alam. Setelah Indonesia merdeka, komitmen itu dilanjutkan. Ujung Kulon dikukuhkan menjadi suaka margasatwa untuk menyelamatkan Badak Jawa. Ikhtiar bangsa ini mendapat pengakuan dunia. Melalui lembaga PBB UNESCO, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Cagar Alam Dunia. Status itu menegaskan bahwa hutan hujan tropis dataran rendah di sini merupakan yang terbaik dan tersisa di Jawa, sekaligus menjadi satu-satunya habitat alami Badak Bercula Satu.

Selama tiga belas hari saya menyaksikan denyut Cagar Alam Dunia ini. Di padang Cidaon, Banteng Jawa merumput tenang. Di hutan mangrove, akar-akar menjadi benteng alami saat tsunami datang. Di kanopi hutan, Owa Jawa berayun dengan suara syahdu seperti zikir alam. Di tanah basah, jejak Badak Jawa tercetak pelan sebagai tanda ia masih bertahan. Saya melihat penjaga hutan berpatroli tanpa lelah. Saya mendengar nelayan tidak melaut saat musim badak melahirkan. Saya menyaksikan peziarah membawa turun kembali sampahnya dari Sanghiyang Sirah. Di sanalah saya yakin, Cagar Alam Dunia ini dijaga bukan hanya oleh pagar, tetapi oleh hati manusia Indonesia yang masih beriman.

Untuk anak cucu Nusantara, Ujung Kulon mengajarkan tiga hal. Pertama, syukur. Tidak banyak bangsa yang diberi kehormatan menjaga Badak Bercula Satu. Kedua, amanah. Al-Quran menegaskan manusia adalah khalifah di bumi yang bertugas memakmurkan, bukan merusak. Menjaga satu Badak Jawa adalah bentuk nyata tugas itu. Ketiga, tawadhu. Berdiri di Sanghiyang Sirah menghadap laut lepas menyadarkan kita bahwa pangkat dan harta akan sirna, sedangkan alam yang dijaga akan terus memberi manfaat.

Menjaga Cagar Alam Dunia ini adalah tanggung jawab kolektif. Bangsa yang besar diukur dari kemampuannya mewariskan hutan yang utuh, laut yang bersih, dan satwa yang tetap hidup kepada generasi berikutnya. Ujung Kulon telah diakui dunia dan dijaga oleh para pendahulu. Kini giliran kita melanjutkan amanah itu. Karena menjaga alam adalah bagian dari menjaga keimanan dan keindonesiaan.