
Dr. Ir. Hadi Prajaka, SH, MH Kolumnis menaramadinah.com.
*Membaca ibadah palsu*
Wajah Kartini Yg suram, berjuang melawan penindasan budaya agama agama Baru dari timur tengah.
Kalau kita baca surat-surat Kartini, terlihat jelas Kartini terjebak dalam kungkungan agama dan spiritual asing masuk Nusantara yang sangat membatasi perempuan, ditambah budaya Jawa masa peradaban timur’ tengah yang memperparahnya.
Kartini kehilangan jejak tradisi leluhur yg diwarisi
Yang tidak diketahui Kartini adalah nenek moyangnya orang Jawa dan sangat menjunjung tinggi peran perempuan. Pada abad ke 6 & 7 sebelum Kartini sudah ada Ratu berkuasa penuh seperti Sri Ratu Tribuana dan Ratu Agung Suhita, bahkan seribu tahun jauh sebelum Kartini sudah ada Ratu Isyana, ibu dari WANGSA Sanjaya pada abad ke 4 , sebelum Kartini pun sudah ada Sri Maharaja Ratu Shima yang adil , berwibawa dan perkasa yang namanya sampai terkenal di negeri Yunani, India , Arab dan Cina.
Ini belum termasuk yang statusnya sebagai istri tapi sangat berkuasa seperti Ratu Pramodawardani, Ratu Ken Dedes, hingga Sri Pamomong Gayatri Rajapatni.
Kartini lahir di masa dan zaman yang salah, meliu peradaban Jawa sudah mundur jauh, terpuruk, jadi minder warder oleh agama agama Baru dan telah menjadi bangsa yang kalah, dan budak-budak orientalis Islam, kristen dan yahudi..
Perempuan menjadi sampah’ peradaban dan budaya kemasan plastik.
Seandainya saja Kartini lahir di masa Taruma negara , Mataram, Sri Wijaya, Pajajaran dan Majapahit atau Medang, dia akan terheran-heran melihat peradaban Jawa, Bugis , Batak dan Sunda bahkan Nusantara yang lebih maju, terbuka dalam penghormatannya terhadap peran perempuan dan wanita daripada bangsa Eropa dan semua belahan dunia lain, bahkan ritual’ ritual SUCI menjadi tradisi masyarakat Nusantara banyak dipimpin oleh seorang rohaniawan perempuan menjadi ikon ibu Pamomong para satria dan pemandu Para Kawula muda, perempuan dan ibu dijadikan tauladan dan wakil Tuhan di dunia dan mampu menciptakan sebuah spiritual mulia , Belum termasuk toleransinya, Yg menciptakan harmonis kehidupan masyarakat, dan semua itu jauh lebih bagus daripada banyak peradaban di jamannya.
Belajar dari pengalaman dan warisan leluhur pada masa lalunya untuk memperbarui perangkat budaya luhur masa akan datang, semestinya Nusantara tidak meninggalkan jejak masa lalunya yg mulia, mengingatkan bahwa kita sebagai bangsa Adi luhung tidak Kehilangan identitas dan jati diri bangsa.
Pemandu Nalar intuitif
Gus WARAS
