
Surabaya – Momentum bulan suci Ramadhan dimanfaatkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Surabaya untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat sinergi pengembangan wakaf melalui kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri berbagai tokoh wakaf dan pemangku kepentingan di Jawa Timur.
Acara tersebut dihadiri oleh KH. Misbahul Munir selaku Pembina Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat yang memberikan tausiyah serta pandangan strategis mengenai arah pengembangan wakaf di Indonesia. Turut hadir pula Dr. Mustain selaku Ketua Badan Wakaf Indonesia Provinsi Jawa Timur, serta Prof. Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. selaku Ketua Badan Wakaf Indonesia Kota Surabaya.
Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh unsur pemerintah dan lembaga filantropi, di antaranya Pak Arif selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan Pemerintah Kota Surabaya, serta H. Hamzah selaku Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara lembaga wakaf, pemerintah, dan lembaga zakat dalam membangun ekosistem filantropi Islam yang lebih kuat di Kota Surabaya.
Dalam tausiyahnya, KH. Misbahul Munir menekankan pentingnya pendekatan pentahelix dalam pengembangan wakaf. Konsep pentahelix merupakan model kolaborasi antara lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media.
Menurut beliau, pengelolaan wakaf di era modern tidak cukup hanya dilakukan secara tradisional, tetapi harus dikelola secara profesional dan kolaboratif agar dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat.
“Wakaf memiliki potensi yang sangat besar dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Oleh karena itu diperlukan sinergi pentahelix agar wakaf dapat dikelola secara profesional, transparan, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar KH. Misbahul Munir.
Ia juga menegaskan bahwa wakaf dapat dikembangkan menjadi wakaf produktif yang tidak hanya berupa aset tanah untuk masjid atau makam, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi lembaga pendidikan, rumah sakit, usaha sosial, hingga berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Dr. Mustain selaku Ketua BWI Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi wakaf yang sangat besar. Dengan jumlah pesantren, lembaga pendidikan Islam, serta komunitas masyarakat yang kuat, wakaf dapat menjadi salah satu pilar ekonomi umat yang strategis.
Menurutnya, penguatan kapasitas nazhir wakaf menjadi kunci penting agar aset wakaf dapat dikelola secara profesional dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
Di sisi lain, Prof. Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag., selaku Ketua BWI Kota Surabaya, menegaskan bahwa Surabaya memiliki potensi besar dalam pengembangan wakaf produktif berbasis perkotaan, seperti wakaf pendidikan, wakaf kesehatan, serta wakaf sosial untuk pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga wakaf, lembaga zakat, perguruan tinggi, serta komunitas masyarakat menjadi faktor penting dalam mengembangkan inovasi pengelolaan wakaf di masa depan.
“Kegiatan seperti buka puasa bersama ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mengembangkan wakaf sebagai kekuatan ekonomi umat,” ujarnya.
Momentum Ramadhan yang penuh berkah ini menjadi pengingat bahwa nilai solidaritas, kepedulian sosial, dan semangat berbagi merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang berkeadilan. Wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi solusi bagi berbagai tantangan sosial dan ekonomi masyarakat.
Melalui sinergi pentahelix antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media, diharapkan pengelolaan wakaf di Jawa Timur dapat berkembang lebih modern, profesional, dan berkelanjutan.
Kegiatan buka puasa bersama BWI Surabaya ini menjadi simbol penting bahwa penguatan wakaf membutuhkan kebersamaan, sinergi, dan komitmen berbagai pihak untuk menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi umat yang memberi manfaat luas bagi generasi mendatang. Acara di tutup Doa oleh KH. Mas Sulaiman Nur dan dilanjutkan berbuka puasa bersama.(SDS)
