بسم الله الحمن الرحيم *Perang Akibat Brutal dan Rakus Melebihi Hewan*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Perang sering kali dipahami sebagai konflik kepentingan antara bangsa atau kelompok. Namun jika dilihat lebih dalam, banyak perang yang sebenarnya berakar pada sifat brutal dan kerakusan manusia yang melampaui naluri makhluk lain. Dalam kondisi tersebut, manusia yang seharusnya menjadi makhluk berakal justru terjerumus pada perilaku yang lebih liar daripada hewan (Modified AI, 2026).

Allah SWT telah menjelaskan dalam QS. Al-A’raf (7: 179), yakni:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah banyak menciptakan golongan-golongan dari jin dan manusia yang (dimasukkan) ke dalam neraka Jahannam. Mereka itu mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan banyak manusia dan jin yang akan masuk ke dalam neraka Jahannam karena mereka tidak menggunakan akal dan hati mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk beriman dan beramal sholeh. Mereka seperti binatang ternak yang hanya mengikuti naluri dan tidak memiliki kesadaran spiritual. Bahkan, mereka lebih sesat lagi karena memiliki akal dan hati, tetapi tidak menggunakannya. Mereka itulah orang-orang yang lalai dari kebenaran.

NALURI HEWAN DAN BATAS ALAMI

Dalam dunia hewan, konflik biasanya terjadi karena dua hal: mempertahankan wilayah atau mempertahankan hidup. Seekor singa, misalnya, berburu untuk makan dan mempertahankan kelompoknya. Seekor serigala menjaga teritorinya agar kelangsungan hidup kawanan tetap terjamin.
Namun konflik di dunia hewan hampir selalu memiliki batas. Setelah tujuan tercapai—makan atau mempertahankan wilayah—pertarungan berhenti. Hewan tidak berperang untuk keserakahan, ambisi kekuasaan, atau dominasi tanpa batas.

KETIKA MANUSIA MELAMPAUI BATAS

Berbeda dengan hewan, manusia memiliki akal dan kemampuan moral. Tetapi ketika keserakahan, ambisi politik, atau nafsu kekuasaan mendominasi, manusia dapat melakukan kekerasan yang jauh lebih destruktif.
Sejarah dunia menunjukkan bagaimana perang besar seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II menghancurkan jutaan nyawa. Teknologi yang seharusnya memajukan kehidupan justru dimanfaatkan untuk memperbesar daya rusak.
Di titik ini terlihat paradoks kemanusiaan: makhluk yang dianugerahi akal dan moral justru mampu melakukan kehancuran yang tidak dilakukan oleh makhluk lain.

BRUTALITAS YANG BERASAL DARI KESERAKAHAN

Banyak konflik modern tidak lagi sekadar pertahanan diri. Ini sering dipicu oleh:
1. perebutan sumber daya,
2. dominasi ekonomi dan politik
3. ambisi geopolitik,
4. dan/atau propaganda ideologis.

Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, nilai kemanusiaan mudah dikorbankan. Sipil menjadi korban, lingkungan rusak, dan generasi masa depan menanggung luka yang tidak mereka sebabkan.
Brutalitas perang dalam kondisi seperti ini bukan lagi persoalan pertahanan, melainkan manifestasi kerakusan kolektif.

PRESPEKTIF MORAL DAN SPIRITUAL

Dalam perspektif agama, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi—pemelihara, bukan penghancur. Kehormatan manusia terletak pada kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan menegakkan keadilan.
Ketika manusia menuruti nafsu kekuasaan tanpa kendali moral, ia kehilangan kemuliaannya. Dalam kondisi itu, perilakunya bukan hanya seperti hewan, tetapi bisa lebih brutal karena dilengkapi teknologi dan organisasi yang memperbesar kekuatan destruktif.

JALAN KEMBALI KE KEMANUSIAAN

Peradaban hanya dapat bertahan jika manusia mampu menahan sifat rakus dan brutal dalam dirinya. Perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang, tetapi adanya kesadaran moral bahwa kehidupan manusia memiliki nilai yang sangat tinggi.
Untuk itu, beberapa hal menjadi penting:
1. menanamkan pendidikan moral sejak dini,
2. memperkuat keadilan sosial,
3. mengedepankan dialog daripada dominasi,
4. serta mengembalikan peran spiritualitas sebagai kompas kehidupan.

Tanpa itu semua, kemajuan teknologi hanya akan memperbesar potensi kehancuran.

PENUTUP

Perang yang lahir dari brutalitas dan kerakusan bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda kegagalan moral manusia. Hewan bertarung untuk bertahan hidup, tetapi manusia terkadang berperang untuk memuaskan ambisi.
Peradaban sejati tidak diukur dari kemampuan menghancurkan, tetapi dari kemampuan menahan diri, menjaga kehidupan, dan membangun kedamaian. Di sini point besar yang harus kita ambil, semoga bisa demikian aamiin. Wallahu a‘lam bish-showaab.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Mekkah,
16 Romadlon 1447
atau
05 Februari 2026
m.mustain