
Oleh: Dr. H. Yusuf Amrozi, M.MT *
Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad versi kalender Masehi pada 31 Januari 2026 yang lalu. Hal ini karena NU didirikan pada 31 Januari 1926 M yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Meski NU sudah lebih dulu diperingati satu abad versi Hijriah pada 7 Februari 2023 (16 Rajab 1444 H), secara tahun Masehi pada tahun ini pengurus pusat (PBNU) maupun pengurus NU di daerah juga ramai merayakan tepat satu abad NU melalui kegiatan pertemuan akbar dalam bentuk mujahadah, istighosah dan semacamnya maupun kegiatan-kegiatan nyata di masyarakat.
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama, eksistensi hingga satu abad tersebut adalah waktu yang tidak pendek dengan pengikut yang mayoritas diikuti oleh penduduk di suatu negara dengan penduduk lebih dari 286 juta jiwa ini. Meskipun dalam perjalanannya NU telah mengalami dinamika berdasarkan perubahan setting sosial politik yang ada. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana ‘potret’ NU pada abad kedua ini dan selanjutnya seperti apa? Akankah terdistorsi atau kita akan melihat sintesa dan metamorfosa baru NU pada abad kedua nantinya.
Sebelum menjawab hal itu tidak ada salahnya sedikit meninjau organisasi lain baik yang berbasis keagamaan maupun berbasis lainnya. Di dunia ada sejumlah organisasi kemasyarakatan besar. Sebut saja Freemasonry, sebuah organisasi sosial non-agama tertua yang sampai sekarang masih ada pengikutnya yang didirikan pada tahun 1717 yang bergerak di bidang filantropi dan persaudaraan sosial. Sementara pada kelompok organisasi yang kekuatan ikatannya didasarkan pada agama sangat banyak, misalnya Sangga Budha yang awalnya muncul di India utara, kelompok Gereja Katolik dan lainnya.
Di Islam sendiri, kita mengenal Ihkwanul Muslimin di Mesir, atau sekedar kelompok gerakan pemikiran Islam Ikhwanus Shofa di Zaman Abbasiyah yang pernah eksis itu. Maupun organisasi Islam lainnya baik yang berhaluan moderat maupun tidak moderat, yang memerankan sebagai civil society seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia maupun kelompok politik Hamas di Palestina. Intinya adalah sebagai kumpulan orang yang tergabung dalam organisasi masyarakat yang belum tentu didasari motivasi profit seperti organisasi perusahaan, masih bisa eksis karena masih mampu menjawab kebutuhan anggotanya.
Lalu apa kebutuhan dari anggota organisasi tersebut? Kalau kita mengacu pada teori kebutuhan klasik ala Maslow tentang kebutuhan fisik, tuntutan keamanan atau aktualisasi diri, atau kalau menurut McClelland demi kebutuhan akan prestasi serta motif afiliasi, dan kekuasaan. Apalagi jika merujuk Taylor yang didasari motiv ekonomi melalui insentif upah, kebanyakan tidak cocok. Mungkin cocok untuk sebagian elit, atau para pengurusnya. Tetapi NU adalah organisasi akar rumput (grass root) yang berbasis keagamaan, yang karenanya terminologi dari pemikir barat yang didasarkan pada dominasi rasionalitas empiris tersebut agak kurang cocok.
Dalam sejarahnya, Islam didakwahkan ke timur hingga ke Nusantara memang pada aspek teologisnya. Dalam arti doktrin nilai ketauhidan maupun aspek ritualitas ajaran. Yang agak berbeda pengenalan Islam di barat (ke Spanyol dan lainnya dengan sains dan teknologi), dakwah Islam ke timur di awal-awal cenderung sufistik membawa nilai dan pendekatan apa yang disampaikan oleh Al-Ghozali dan lainnya. Yang hal itu ternyata ada relevansi dengan ajaran-ajaran agama yang telah ada sebelumnya. Kebaruan ajaran Islam menawarkan semangat kesetaraan dihadapan Tuhan, yang ini sedikit banyak memberi daya tarik untuk memeluk ajaran Islam.
Oleh sebab itu pendekatan eklektik yang mempertahankan sebagian nilai lama dengan adopsi prinsip dan nilai Islam inilah yang kemudian dikembangkan dan dibawa oleh Wali Songo hingga para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama, yang kemudian mampu menjawab kebutuhan nilai teleologis dan universal dari masyarakat sejak dulu hingga sekarang. Dakwah yang inklusif dan toleran serta moderat lebih mampu diterima. Meskipun juga masih ada yang berselera dengan pendekatan yang sebaliknya.
Pertanyaannya adalah zaman telah berubah. Rasionalitas empirik, kehidupan yang pragmatis hingga di era kecerdasan buatan saat ini, akankah mendisrupsi semangat beragama termasuk beragama dengan kelompok ormas agama macam NU ini. Jawaban saya: Sepanjang agama masih laku, atau orang masih mau beragama walaupun tidak terlalu taat sungguhan, insyaallah organisasi keagamaan masih terus eksis. Terlebih lagi manakala organisasi tersebut memiliki inovasi layanan yang mampu menjawab kebutuhan dasar ummat seperti yang diutarakan oleh pemikir barat yang utarakan diatas.
Layanan dasar tersebut misalnya mampu membantu taraf sosial ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat. Distingsi NU adalah terletak pada afirmasi dari nilai-nilai universal seperti moderasi, toleransi, kesetaraan dan lainnya yang hal itu masih menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu tentu amaliyah sufistik yang menjadi penciri dari Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah tersebut.
Namun demikian hal itu tidak cukup dengan mengandalkan kondisi ummat maupun situasi dan pola relasi dengan stakeholder yang lain. Artinya apapun dan bagaimanapun kondisi sosial sekitar, termasuk kelompok elit politik negara yang berkuasa, secara organisasi bangunan institusional NU mulai pusat hingga akar rumput (pengurus ranting) harus mapan.
Pengalaman satu abad NU yang lalu sudah cukup menjadi pelajaran untuk bagaimana secara organisasi, NU harus profesional dan mandiri sebagai kelompok civil society di tanah air. Aset aset organisasi seperti sekolahan, kampus, rumah sakit hingga fasilitas ekonomi harus didorong agar mampu menjadi tulang punggung jam’iyah untuk berkiprah kepada ummat.
Demikian pula dari sisi pola kepemimpinan dan kaderisasi. Sejauh ini telah disusun seperangkat pola pendidikan dan pelatihan untuk penguatan militansi kader dan kemampuan manajerial untuk syarat menjadi pengurus NU di berbagai level kepengurusan. Disisi yang lain di pondok pesantren yang nota bene sebagai ‘jantung’nya NU sudah cukup banyak didirikan Ma’had Aly. Keberadaan pendidikan diniyah level perguruan tinggi ini selain melahirkan ahli-ahli agama tentu juga akan menyiapkan kematangan manajerial bagi para aktivis NU di banyak tingkatan.
Memang tidak dipungkiri sebagai organisasi besar dengan jumlah anggota dan struktur yang majemuk tidak menutup kemungkinan adanya konflik yang dilatarbelakangi kepentingan individu atau kelompok para sebagian pengurus atau aktivis NU. Tetapi perkembangan terakhir tata kelola organisasi melalui penyusunan peraturan organisasi telah disusun sedemikian rupa untuk menciptakan tata aturan organisasi yang sehat dan modern.
Sebagai catatan penutup, abad kedua NU sudah dimulai. Kedepan tinggal perlu dirumuskan ulang atau ditegaskan ulang peta jalan (roadmap) NU abad kedua. Konon sejumlah tokoh NU telah merumuskan ini. Peta jalan tersebut selanjutnya harus di breakdown ke berbagai bidang melalui lembaga / banom yang ada agar selaras dengan kebutuhan ummat dan tantangan zaman. Untuk selanjutnya secara time line dapat di bagi per 10 tahunan (dua kali musim muktamar).
Memang perubahan zaman sangat cepat dan tidak menentu. Tetapi Nahdlatul Ulama sudah banyak memiliki sumberdaya pada kelompok atau perangkat organisasi yang ada, para akademisi atau sarjana NU, pengusaha dan praktisi/kelompok profesional, hingga pejabat yang memiliki peran pengambil kebijakan yang memiiki akses sumberdaya dan lainnya. Tinggal bagaimana mengorkestrasi sumberdaya tersebut. Kita tunggu semoga tahun ini melalui muktamar, terpilih pimpinan atau pengurus nasional di PBNU yang terbaik.
* Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Aktiv di LPTNU, ISNU dan IKA PMII Jawa Timur.
