
By :_oka swastika mahendra_
Mama,
kata bocah sepuluh tahun dari Ngada
pelit sekali.
Tapi yang pelit
bukan ibunya
yang tangannya bau tanah
dan kukunya retak oleh ubi dan kayu bakar
Yang pelit
adalah negeri
yang pandai menghitung
tapi lupa mendatangi.
Negeri yang kaya rapat,
kaya seminar,
kaya spanduk,
kaya pidato “anak adalah masa depan”,
namun miskin sepuluh ribu rupiah
untuk sebuah buku tulis.
Mama,
kata bocah itu lagi,
kalau aku pergi
jangan menangis.
Lihatlah, wahai negara,
bahkan anak yang kau biarkan lapar
masih sempat menghibur orang dewasa
yang gagal menjaganya.
Di saku seragamnya
bukan bendera,
bukan Pancasila,
bukan kartu bantuan,
hanya secarik surat
dan putus asa yang sudah lama menabung.
Kau bilang data bocor.
Kau bilang sistem gagal.
Kau bilang ini tamparan, cambuk, sirene.
Tapi bocah itu
sudah lama ditampar sunyi,
dicambuk malu,
dan disireni lapar
setiap berangkat sekolah
tanpa alat tulis
tanpa rasa setara.
Di mana negara
saat pondok bambu 2×3 meter
tak pernah masuk peta?
Di mana anggaran
saat perut dan kepala anak
tak lagi sinkron dengan harapan?
Jangan sebut ini tragedi personal.
Ini bunuh diri yang dibantu
oleh kelalaian berjamaah.
Jangan sebut ini musibah
Ini hasil kebijakan
yang terlalu jauh dari kaki bukit
terlalu dekat ke meja rapat
_“Mama pelit sekali,”_
bukan makian,
itu laporan sosial paling jujur
yang pernah ditulis anak Indonesia.
Karena mama yang miskin
masih ingin memberi
sementara negara yang berlimpah
sibuk menata kalimat belasungkawa.
Hari ini
satu anak menggantungkan hidupnya
pada seutas tali
Besok
berapa lagi
yang akan belajar menulis
dengan air mata
karena pulpen tak pernah sampai?
Negeri
kalau kau masih menyebut dirimu ibu,
jangan hanya melahirkan program.
Datanglah.
Dengarlah.
Pegang tangan anak-anakmu
sebelum mereka menulis surat
yang tak bisa lagi kau jawab
Karena lain kali
yang tergantung
bukan hanya tubuh bocah
tapi seluruh muka kemanusiaan kita.
- Jogjakarta 5 Februari 2026
