
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Senang dan sedih terkadang kita kurang tepat meletakkan kriterianya. Sedih ketika ketiadaan kepemilikan materi atau sedih ketika ketinggalan jamaah subuh. Ini sebenarnya yang benar yang mana, sudah barang tentu bergantung pada apa yang terbenam di otak kita. Apabila yang kita tancapkan di otak kita dan telah mengkristal menjadi keyakinan, ya sudah barang tentu itu yang menjadi kriteria penentu sedih atau bahagia dalam mensikapi keadaan.
QS Yasin: 76 memberikan batasan yang jelas bagi seorang mukmin untuk memasang kriteria sedih dan bahagia, yakni:
فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۖ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُون
Artinya: “Maka janganlah kamu menyedihkan hatimu (Muhammad) karena ucapan mereka. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.”
Tafsir ayat ini mengingatkan Nabi Muhammad SAW untuk tidak terlalu peduli dengan penolakan dan ejekan orang-orang kafir, karena Allah mengetahui semua yang mereka lakukan dan katakan, baik secara rahasia maupun terang-terangan.
Ada dua hal yang harus ditancapkan pada otak kita sampai menjadi keyakinan, yakni (Modified AI, 2026):
1. Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT.
QS Al-Baqarah: 20, jelas menyatakan demikian,
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
HR Muslim menyatakan,
“Setiap sesuatu itu tergantung takdir Allah, bahkan yang lemah dari yang lemah”.
Hal ini menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan dan kehendak mutlak atas segala sesuatu, dan tidak ada yang dapat melepaskan diri dari takdir-Nya.
2. Ujian Allah SWT kepada kita adalah sesuai dengan kapasitas kita.
QS Al-Baqarah: 286 memberikan penegasan sebagai berikut:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Tafsir ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang dengan tugas atau kewajiban yang melebihi kemampuannya. Setiap orang hanya diminta untuk melakukan apa yang sanggup dilakukan, dan tidak ada yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu.
Alhasil, kita diperintahkan tidak sedih secara berlebihan seperti orang tidak punya prinsip Iman ketika mensikapi fenomena apapun. Apabila fenomena itu terasa menyenangkan maka kita syukuri, dan ketika terasa menyedihkan maka kita sikapi dengan sabar. Kita ingat bahwa level kemampuan bersyukur adalah seimbang dengan kemampuan bersabar. Semoga kita selalu bisa meningkatkan level tersebut aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
16 Sya’ban 1447
atau
03 Februari 2026
m.mustaino
