
Oleh : G Fariha Uhadiyah M
Judul Di atas kami ambil dari buku : Lentera Ukhuwah (Indahnya Saling Menyayang dalam Dekapan Islam)
Penulis : K.H. Miftah Faridl
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Tahun : 2014
Jumlah Halaman : 235
Tugas : Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Ustadz Yahya Aziz,, S.Ag, M.Pd.I
Anggota Kelompok :
1. G Fariha Uhadiyah M (06020925032)
2. Intan Oktavia Ramadhani (06020925035)
3. Irfana Fidyati Furoida (06020925036)
4. Nadia Fadhilatuz Zain (06020925046)
5. Nafisah Putri Syahbana (06020925048)
6. Naysila Nailun Najah (06020925051)
LENTERA UKHUWAH
Indahnya Saling Menyayang dalam Dekapan Iman
BAB I
Ukhuwah
Ukhuwah dalam Islam memiliki makna yang tidak sederhana. la bisa saja dimaknai sebagai persaudaraan atau bersaudara. Ukhuwah berasal dari akar kata _akh_ dengan arti teman akrab atau sahabat. Ukhuwah pada mulanya berarti “persamaan dan keserasian dalam banyak hal”. Adanya persamaan dari satu keturunan, maka dua orang yang berbeda disebut bersaudara, juga sebab ada persamaan dalam sifat-sifat mengakibatkan persaudaraan.
BAB 2
Akar Ukhuwah Islamiyah
Sosialisasi individual untuk membentuk apa yang secara sosiologis disebut masyarakat (society) berlangsung secara alamiah. Sebab, melalui motif-motif intrinsik yang bersumber pada ajaran agama, seorang individu akan mampu mengakui kehadiran individu lainnya untuk melakukan interaksi secara fungsional sesuai dengan karakteristik masing-masing. Dalam konteks sosial seperti itu, proses interaksi berfungsi menyalurkan makna-makna sosial yang saling membutuhkan, sesuai dengan isyarat ajaran untuk saling mengenal, saling mengakui perbedaan, sekaligus mampu mempertemukan kepentingan-kepentingan.
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
Karena itu, perilaku sosial yang bersumber pada etika dan budaya masyarakat bukanlah merupakan wujud kehidupan yang terpisah dari semangat ajaran agama yang bersumber pada wahyu. Perilaku sosial yang dalam terminologi agama disebut amal saleh, misalnya, bukanlah suatu tindakan yang hanya mementingkan aspek pengabdian kepada Allah, tetapi justru harus mencerminkan fungsi-fungsi sosial yang diperlukan dalam kehidupan. Amal saleh, secara fungsional, merupakan perilaku insani yang berlangsung secara alamiah.
BAB 3
Masjid dan Fungsi Penyelamatan
Apa yang saya bayangkan, peristiwa ideal setelah sholat, menggambarkan fungsi masjid sebagai ruang sosial yang kondusif bagi Islam ukhuwah. Masjid tidak lagi hanya sebagai ruang untuk shalat, tetapi kembali menjadi ruang untuk bersujud. Bagi masyarakat atau jamaah yang biasa memakmurkannya, masjid merupakan cermin sosialisasi nilai-nilai kehidupan yang dibangun di atas dasar keimanan dan ketakwaan. Sebab, secara teologis, masyarakat Muslim meyakininya sebagai tempat berkomunikasi antara hamba dengan Khaliknya, tempat mengadu secara transendental, dan tempat menemukan makna kemanusiaan melalui interaksi dengan sesama jamaahnya. Dalam sejarah Islam tercatat sejak periode pertama masyara-kat Muslim berdiri, di bawah karisma seorang pemimpin umat, Nabi Muhammad SAW merintis terbentuknya satu model kehidupan masyarakat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya. Penyelenggaraan berbagai kegiatan yang dipusatkan di masjid pada saat itu, bukan saja karena masih sangat terbatasnya fasilitas yang dimiliki, tetapi juga karena disadari bahwa masjid memang merupakan pusat pembinaan masyarakat.
BAB 4
Ruang Komunikasi
Bagi masyarakat atau jamaah yang biasa memakmurkannya, masjid merupakan cermin sosialisasi nilai-nilai kehidupan yang dibangun di atas dasar keimanan dan ketakwaan. Sebab, secara teologis, masyarakat Muslim meyakininya sebagai tempat berkomunikasi antara hamba dengan Khaliknya, tempat mengadu secara transendental, dan tempat menemukan makna kemanusiaan melalui interaksi dengan sesama jamaahnya. Dalam sejarah Islam tercatat sejak periode pertama masyarakat muslim berdiri, di bawah karisma seorang pemimpin umat, Nabi Muhammad merintis terbentuknya satu model kehidupan masyarakat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya. Penyelenggaraan berbagai kegiatan yang dipusatkan di masjid pada saat itu, bukan saja karena masih sangat terbatasnya fasilitas yang dimiliki, tetapi juga karena disadari bahwa masjid memang merupakan pusat pembinaan masyarakat.
Ruang komunikasi yang saya maksud sangat sederhana. Misalnya, mulailah kita semua bertegur sapa dalam makna sebenarnya dan bukan sekadar berbasa basi. Mulailah kita merasa peduli terhadap masalah sekecil apa pun yang ada di sekitar kita, bukan untuk digunjingkan, tetapi untuk diselesaikan dalam suasana tawâshaw. Semuanya bisa dilakukan, jika kita berempati membayangkan dia sebagai diri kita terhadap masalah orang lain.
Saat membuat ruang komunikasi, kita secara tidak langsung telah “menolong Allah” karena telah berupaya membebaskan manusia dari keterasingannya.
BAB 5
Mawaddah
Dalam Al-Quran, Istilah mawaddah digunakan untuk mengilustrasikan suatu hubungan harmonis antara sesama manusia. Mawaddah adalah kata yang memiliki nuansa hati bagi siapa pun yang menghayatinya. Ketika dibacakan dengan penuh penghayatan, kata itu seakan-akan ikut mengetuk kesadaran emosi seseorang. Sehingga tidak salah jika kata itu dipinjam Al-Quran untuk menggambarkan suasana harmonis antara suami-istri atau dalam suasana keluarga untuk menggapai kebahagiaan bersama.
