
Oleh : Eka Andriyanti dkk
Tulisan ini kami ambil dari intisarri buku :
“Adab diatas Jabatan”
Pelajaran Hidup dari Khofifah Indar Parawansa
Karya : Prof. Akh. Muzzaki, M.Ag., Grad. Dip. SEA., dkk.
Penerbit : CV. Bildung Nusantara
Tahun : Juni 2025
Jumlah Halaman : 488 halaman
Ini adalah tugas resensi buku mata kuliah Bahasa Indonesia oleh : Bapak Yahya Aziz Dosen Bahasa Indonesia FTK UINSA.
Para penulis kelompok 5, mereka adalah:
1. Siti Setyaningsih (06030925103)
2. Siti Fadilah Salsabila (06030925101)
3. Eka Andriyanti (06030925102)
4. Nidia Ulmariah Al Ulya (06040925105)
5. Winanda Wulandari
(06030925094)
6. Rina Nur Chikmah (06030925098)
7. Marsi Nur Savira (06030925104)
8. Salwa Nur Lailiyah (06030925099)
Judul : Adab diatas jabatan, Pelajaran Hidup dari Khofifah Indah Parawansa
**Adab di Atas Jabatan: Keteladanan Kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa**
*Pendahuluan*
Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual dan keberhasilan program, tetapi juga dari *adab*. Prinsip *“adab di atas jabatan”* menegaskan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dihormati, bukan sekadar kekuasaan yang diperebutkan. Salah satu sosok pemimpin perempuan Indonesia yang menampilkan teladan ini adalah *Khofifah Indar Parawansa*, Gubernur Jawa Timur.
*Adab di Atas Jabatan*
Dalam peristiwa pemulangan jenazah KH. Ridlwan Nasir (2025), Khofifah menunjukkan penghormatan terhadap jabatan dengan mengajak Pj. Gubernur Jatim, Adhy Karyono, berdiri sejajar. Meskipun secara struktur Adhy akan kembali menjadi bawahannya, Khofifah tetap menempatkan jabatan gubernur sebagai amanah yang layak dihormati.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa jabatan harus dipandang sebagai titipan, bukan sekadar simbol status.
*Khofifah: Sosok Pemimpin Muslimah*
1. *Latar Belakang & Perjalanan Karier*
•Aktif di PMII dan IPPNU sejak muda.
•Pernah menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan, Menteri Sosial, hingga Gubernur Jawa Timur dua periode.
•Ketua Muslimat NU lebih dari lima periode.
2. *Gaya Kepemimpinan*
•Inklusif dan spiritual, merangkul seluruh elemen masyarakat.
•Tegas namun penuh empati.
•Visioner dengan fokus pada pembangunan SDM.
3. *Keteguhan Nilai Islam*
•Berlandaskan tradisi pesantren: tawadhu’, khidmah, dan kesederhanaan.
•Menunjukkan kepemimpinan sufistik: ikhlas, melayani, dan zuhud terhadap kekuasaan.
*Program dan Prestasi*
1. *Pendidikan dan Pesantren*
•Beasiswa Santri Berprestasi, Beasiswa LPPD, dan program studi ke Al-Azhar Mesir.
•One Pesantren One Product (OPOP) sebagai wujud kemandirian pesantren.
•Revitalisasi infrastruktur pendidikan Islam.
2. *Pembangunan Sosial dan Ekonomi*
•Penurunan angka kemiskinan signifikan (2020–2022).
•Jawa Timur sebagai Lumbung Pangan Nasional dan Desa Mandiri terbanyak.
•Program Jatim Cetar dan Jatim Puspa untuk perempuan dan anak.
3. *Roadmap Pembangunan Jatim 2025–2030*
•Peningkatan transportasi publik (Trans Jatim).
•Integrasi data ekonomi digital.
•Penguatan kompetensi milenial melalui Job Center.
•Antisipasi krisis pangan dan iklim.
*Perspektif Tasawuf*
Kepemimpinan Khofifah dapat dipahami dalam bingkai tasawuf:
• *Khidmah* (pengabdian) : fokus pada pelayanan, bukan popularitas.
• *Ikhlas* : bekerja tanpa terikat ambisi kekuasaan.
• *Rahmah* : penuh kasih sayang terhadap kelompok marjinal, yatim, dan dhuafa.
*Implikasi bagi Pendidikan dan Santri*
* Memberi teladan bahwa santri tidak hanya siap dipimpin, tetapi juga siap memimpin.
* Pesantren diposisikan sebagai pusat dakwah, pendidikan, sekaligus ekonomi.
* Santri perempuan mendapat inspirasi bahwa kepemimpinan dapat dijalankan dengan integritas tanpa kehilangan identitas keislaman.
*Kesimpulan*
Khofifah Indar Parawansa adalah potret pemimpin perempuan muslimah yang *menyatukan tradisi pesantren dengan kepemimpinan modern*. Ia menegakkan prinsip *adab di atas jabatan* sebagai landasan etika kepemimpinan. Melalui program pendidikan, sosial, ekonomi, dan spiritual, Khofifah berhasil membawa Jawa Timur sebagai pionir pembangunan berbasis nilai Islam, moralitas, dan humanitas.
Makalah ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya terletak pada kekuasaan, tetapi pada *adab, pelayanan, dan visi transformatif* menuju Indonesia Emas 2045.
