
Semarang-Menaramadinah.com-Meli Intan Septiani, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa melakukan penelitian tentang kearifan lokal dalam penamaan tempat wisata di Wonogiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan toponimi.
Menurut Nur Fateah sebagai dosen pembimbing, penelitian ini cukup menarik untuk dijadikan bahan ajar Bahasa Jawa tema kearifan lokal. Penelitian ini termuat dalam jurnal stilistika.
Penelitian ini mengungkap makna nama-nama tempat wisata di Wonogiri dan dikelompokkan menjadi tiga aspek utama:
– *Aspek Perwujudan*: Terkait dengan interaksi manusia dan lingkungan alam.
– *Wujud Air*: Pantai Banyutowo berarti “pantai air tawar”.
– *Wujud Rupa Bumi*: Gua Tembus berarti “gua terowongan”.
– *Flora*: Pinus Sewu dan Sendang Sinangka.
– *Fauna*: Bukit Cumbri.
– *Aspek Kemasyarakatan*: Berkaitan dengan interaksi manusia sebagai makhluk sosial.
– *Kegiatan*: Puncak Gantole.
– *Nama Tokoh*: Alas Donoloyo.
– *Harapan*: Candi Muncar.
– *Aspek Kebudayaan*: Mencerminkan budaya lisan atau cerita rakyat setempat.
– *Girimanik*: Air terjun yang namanya diambil dari tokoh pewayangan.
– *Kahyangan*: Tempat spiritual.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kearifan lokal dalam penamaan tempat wisata di Wonogiri mencerminkan lima pola pikir masyarakat:
– *Pelestarian Alam*: Pola pikir yang paling dominan.
– *Pelestarian Sejarah*: Masyarakat Wonogiri melestarikan sejarah dan budaya lokal.
– *Sarana Spiritual*: Beberapa tempat wisata memiliki makna spiritual.
– *Penghormatan kepada Tokoh Masyarakat*: Penamaan tempat wisata yang menggunakan nama tokoh masyarakat.
– *Letak Daerah*: Penamaan tempat wisata yang diambil dari nama desa atau daerah sekitarnya.
Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa penamaan tempat wisata di Wonogiri tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai penyimpan sejarah dan kearifan lokal. Lebih detail mengenai penelitian ini dapat diakses pada jurnal stilistika https://journal.um-surabaya.ac.id/Stilistika/article/view/26423
