
Oleh: KH. A. Muhibbin Zuhri & H. Sukma Sahadewa (JASNU Kota Surabaya).
Kurma adalah salah satu buah yang tak lekang oleh zaman. Dari padang pasir Arab ribuan tahun silam hingga meja makan umat Islam di seluruh dunia saat ini, kurma tetap hadir sebagai makanan yang sarat makna. Ia bukan sekadar buah manis pengganjal perut ketika berbuka, melainkan simbol keberkahan, kesehatan, dan keteladanan Rasulullah SAW.
Sejarah panjang kurma terikat erat dengan jejak kenabian. Al-Qur’an menceritakan bagaimana Maryam, ibunda Nabi Isa, memperoleh kekuatan dengan makan kurma saat melahirkan (QS. 19:25). Kisah ini tidak hanya mengandung pesan spiritual, tetapi juga hikmah kesehatan: seorang ibu yang baru melahirkan membutuhkan energi instan, dan kurma adalah sumber alami yang menyediakannya. Inilah isyarat bahwa kurma adalah buah yang menyatukan kebutuhan jasmani dan rohani.
Rasulullah SAW menjadikan kurma bagian dari keseharian beliau. Dalam banyak riwayat, beliau memakannya sebagai santapan pokok, pengganti lauk, atau teman minum susu (Sunan Abu Dawud, no. 3819). Keteladanan beliau tampak jelas: sederhana, tidak berlebihan, tetapi penuh manfaat. Bahkan dalam momentum penting seperti berbuka puasa, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengawali dengan kurma. Secara ilmiah, pilihan ini tepat karena kurma mengandung gula alami yang cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Ada pula hadis yang menyebutkan keutamaan tujuh butir kurma Ajwa (Shahih al-Bukhārī, Kitāb al-Ṭibb, no. 5768). Hadis ini memberi pesan bahwa kurma bukan hanya soal nutrisi, melainkan juga perisai spiritual. Kurma Ajwa, yang tumbuh di tanah Madinah, dikenal kaya antioksidan dan mineral. Ilmu modern meneguhkan bahwa kurma mampu melindungi tubuh dari penyakit sekaligus memberi daya tahan alami.
Dari sudut pandang lain, di samping berbagai keutamaannya, kurma juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan solidaritas. Dalam sejarah perang Khandaq, para sahabat berbagi kurma yang jumlahnya sangat sedikit. Persediaan sebenarnya hanya cukup dikonsumsi sepertiga jumlah pasukan. Namun berkah kebersamaan, bi idznillah, korma itu bisa membuat kenyang dua pertiga pasukan lainnya. Dari sanalah lahir pelajaran bahwa kebersamaan akan membawa keberkahan, dan selanjutny mampu menumbuhkan keteguhan hati di tengah kesulitan. Nilai ini sangat relevan bagi umat Islam masa kini: di tengah kesenjangan sosial, semangat berbagi seperti Nabi dan sahabat melalui sebutir kurma menjadi teladan yang abadi.
Lebih jauh, kurma bisa kita pahami sebagai jembatan antara iman, kesehatan, dan peradaban. Dari sisi kesehatan, kurma terbukti bermanfaat untuk pencernaan, menjaga fungsi jantung, mencegah anemia, hingga membantu proses persalinan. Dari sisi iman, kurma menghidupkan sunnah Rasulullah dan mengingatkan kita pada jejak perjuangan Islam. Dari sisi peradaban, kurma menghubungkan generasi hari ini dengan tradisi luhur umat terdahulu.
Maka, mengonsumsi kurma seharusnya bukan hanya ritual musiman di bulan Ramadhan. Lebih dari itu, ia bisa menjadi gaya hidup sehat dan spiritual bagi umat Islam. Setiap butir kurma yang kita makan adalah pengingat: bahwa kesederhanaan Rasulullah, keberkahan dari Allah, dan hikmah ilmu pengetahuan selalu bertemu dalam satu titik yang sama.
Dengan demikian, kurma bukan hanya buah, tetapi pesan kehidupan. Pesan tentang kesehatan jasmani, keteguhan rohani, dan kesederhanaan dannsolidaritas yang penuh makna. Di era modern yang serba berlebihan ini, kembali kepada kurma berarti kembali kepada keseimbangan: antara tubuh, jiwa, dan iman.
