*Hidup Ideal*

 

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Bervariasinya mensikapi hidup ini adalah sesuatu yang wajar, seperti bervariasinya rasa yang dihasilkan oleh lidah manusia ketika mencicipi sepiring sajian olahan masakan. Ada satu ember besar kuah masakan rawon misalnya, dengan tersedia 10 mangkok. Lima mangkok dimintakan untuk mencicipi kepada 5 orang dari lima benua besar yang berbeda, yakni orang Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Afrika. Sementara 5 mangkok yang lain untuk 5 orang laki-laki bersaudara kandung semua dengan beda usia masing-masing 3 tahun. Sudah barang tentu rasa yang didapatkan oleh masing-masing dari 10 orang tersebut akan berbeda. Artikel ini akan ber-ide bahwa penentu rasa itu ada berbagai macam ketergantungan. Demikian juga variasi persepsi hidup ini juga berbagai macam yang juga memiliki berbagai ketergantungan.

Terinspirasi dari ayat yang sangat masyhur ini,
*وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ*
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat (51:56). Hidup ideal didefinikan sebagai hidup yang sesusi dengan kehendak Allah SWT, yakni hidup untuk mengabdi kepada Allah SWT sebagai pencipta alam semesta.

Manusia sebagai salah satu jenis makhluq Allah SWT yang menjadi pilihan Allah SWT untuk menjadi objek hukum syariat Islam. Makhluq berupa manusia ini masing-masing diuji oleh Allah SWT untuk menjadi manusia yang terbaik amalnya. Ukuran terbaik menjadi acuan adalah menempati hidup yang ideal. Sudah barang tentu untuk mendekati capaian ideal adalah melalui serangkaian proses. Figur ideal yang menjadi acuan standar ideal adalah hidupnya Nabi Muhammad SAW. Siapapun manusia hidup ini tidak akan menyamai beliau, tetapi harus terus berupaya menuju ideal.

Mensikapi hidup untuk ke depan dijadikan pegangan, acuan, dan tata-cara menjalani hidup ini setidaknya ada 4 ketergantungan. Pertama adalah bahan dasar dan ini bersifat substansial atau perihal yang mendasar. Dalam kontek kehidupan kita, disebut jladren atau bahan baku dari keberadaan diri kita, yang kita diturunkan dari bapak ibu serta mbah-mbah kita itu seperti apa. Kedua adalah latar belakang pendidikan dan ilmu yang telah didapat. Bagaimana pendidikan agama dari orang tua dan lingkungan termasuk sekolah dan pondok pesantren. Ketiga adalah penadah hasil do’a dari orang tua serta mbah-mbah pendahulu kita. Hal ini sangat bergantung kepada bagaimana kita bisa membangun wasilah atau sambungan terhadap generasi-generasi pendahulu kita. Keempat adalah terus ikhtiyar dan kerja keras dalam membangun dan membentuk serta memperbaiki menuju hidup ideal dan terus berusaha untuk mencapainya.

Sungguh empat ketergantungan tersebut tidak sama yang mana bisa berperan dominan. Masing-masing orang memiliki kombinasi yang berbeda. Misalnya ada orang yang jladren bagus tetapi lemah dalam aspek usaha, ya bisa dibayangkan bahwa hidup ideal akan jauh. Sebaliknya jladen biasa-biasa tetapi aspek ikhtiyar dan kerja keras luar biasa, juga dalam membangun tawassul sangat bagus. Bukan tidak mungkin akan menjadi istimewa, menjadi orang yang berderajat tinggi bahkan mendekati hidup ideal.

Alhasil, cita rasa masakan rawon bisa ideal yakni rasa asli standar yang diinginkan pencipa atau pemilik paten adalah apabila sesuai dengan idealnya manusia normal kesehatan dan khas wilayahnya. Sudah barang tentu orang Asia menjadi mendekati cita rasa yang ideal lantaran rawon adalah khas masakan jawa timur, yang berada di dalam wilayah benua Asia. Analog atau kiyasan terhadap hidup ideal adalah bahwa, apabila ke-empat ketergantungan pada kondisi prima atau baik maka secara logika akan menghasilkan hidup yang mendekati ideal. Dengan demikian mari kita introspeksi diri terhadap ke-empat ketergantungan tersebut. Rupanya ketergantungan yang tidak bisa tidak adalah ikhtiyar dan selalu kerja keras, semoga kita bisa demikian aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲

Surabaya, 6 Robiul Awal 1447 atau 29 Agustus 2025
m.mustain