
Oleh :H.Sujaya, S. Pd. Gr.
*Pendahuluan*
Sejarah peradaban manusia selalu melahirkan tokoh-tokoh besar yang hadir pada momen kritis. Dalam khazanah keagamaan, terutama Islam, muncul sebuah keyakinan tentang hadirnya seorang pemimpin akhir zaman yang disebut al-Mahdi. Ia dipandang sebagai sosok penyelamat, yang akan memimpin umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kezaliman menuju keadilan.
Namun, persoalan al-Mahdi tidak pernah sederhana. Sejak masa awal Islam hingga kini, pembahasan mengenai siapa dirinya, kapan ia datang, dan apa ciri-cirinya terus menjadi diskursus yang hangat. Bahkan, perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah semakin memperluas spektrum perdebatan tentang sosok ini. Di satu sisi, al-Mahdi adalah bagian dari nubuwah Rasulullah ﷺ yang harus diyakini. Namun di sisi lain, ia sering dijadikan komoditas politik, dimanipulasi oleh penguasa maupun gerakan tertentu demi kepentingan kekuasaan.
Tulisan ini akan membahas secara kritis siapa al-Mahdi, bagaimana posisinya dalam Al-Qur’an dan Hadits, ciri-cirinya, waktu kedatangannya, serta bagaimana umat Islam seharusnya menyikapi keyakinan tersebut di tengah fitnah global.
*1. Al-Mahdi dalam Perspektif Al-Qur’an*
Secara eksplisit, Al-Qur’an tidak menyebut kata al-Mahdi. Namun, banyak ayat yang oleh ulama ditafsirkan sebagai isyarat kepada hadirnya seorang pemimpin akhir zaman.
QS. An-Nur [24]: 55
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…”
Ayat ini menunjukkan janji Allah tentang datangnya kepemimpinan global orang beriman. Tafsir al-Qurthubi menyatakan ayat ini mencakup kemenangan Islam di masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin, namun tidak menutup kemungkinan adanya realisasi akhir zaman melalui al-Mahdi.
QS. Al-Qashash [28]: 5
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka pewaris (bumi).”
Ulama seperti Fakhruddin ar-Razi memandang ayat ini sebagai janji Allah untuk menolong orang-orang tertindas. Sejumlah mufasir kemudian menghubungkannya dengan misi al-Mahdi yang akan mengangkat derajat kaum muslimin setelah masa panjang penindasan.
Dengan demikian, meskipun Al-Qur’an tidak menyebut nama, konsep al-Mahdi dipandang sebagai perwujudan janji ilahi tentang kemenangan orang beriman di tengah zaman penuh fitnah.
*2. Al-Mahdi dalam Hadits Nabi*
Jika Al-Qur’an lebih bersifat isyarat, maka Hadits memberikan penjelasan lebih detail. Jumlah hadits tentang al-Mahdi sangat banyak, meskipun kualitas sanadnya beragam.
Beberapa hadits penting antara lain:
1. Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-Mahdi adalah dari keturunanku, dari anak Fatimah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad).
2. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya dunia ini hanya tinggal sehari saja, Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia membangkitkan seorang lelaki dariku atau dari keluargaku, yang namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kezhaliman.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
3. Riwayat lain menyebut: “Al-Mahdi berasal dari umatku. Ia akan memimpin selama tujuh tahun, bumi akan dipenuhi keadilan sebagaimana dipenuhi kezaliman, dan bumi akan menumbuhkan tanamannya, langit menurunkan hujannya, dan umat akan hidup dalam kesejahteraan.” (HR. Ahmad).
Mayoritas ulama ahli hadits seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Suyuthi, al-Albani menegaskan bahwa hadits-hadits tentang al-Mahdi berstatus mutawatir ma’nawi. Artinya, meski jalur periwayatan berbeda, substansi riwayatnya sama, sehingga keyakinan terhadapnya menjadi bagian dari ajaran Islam.
3. Keyakinan Sunni tentang al-Mahdi
Salah satu hal yang membuat diskursus al-Mahdi secara kompleks adalah pandangan kaum Sunni.
Kaum Sunni, Al-Mahdi diyakini sebagai keturunan Rasulullah ﷺ dari jalur Fatimah. Ia belum lahir atau telah lahir namun tidak diketahui. Tugasnya adalah menegakkan keadilan, namun ia manusia biasa yang Allah pilih.
Berbeda dengan keyakinan Syiah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah): Mereka meyakini al-Mahdi adalah Muhammad bin Hasan al-Askari, imam ke-12 yang ghaib sejak abad ke-3 Hijriah, dan suatu saat akan muncul kembali.
Tentu saja perbedaan ini sering menjadi titik gesekan teologis. Namun, di luar perbedaan itu, kedua golongan sama-sama meyakini adanya sosok penyelamat di akhir zaman.
*4. Ciri-Ciri Sosok al-Mahdi*
Dari berbagai hadits, ulama menyimpulkan beberapa ciri pokok al-Mahdi:
1. Nasabnya jelas: keturunan Nabi dari jalur Fatimah.
2. Namanya menyerupai Nabi: Muhammad bin Abdullah.
3. Akhlaknya luhur: ia adil, zuhud, dan tidak gila kekuasaan.
4. Fisiknya: ada riwayat menyebut dahi lebar dan hidung mancung.
5. Perannya global: ia menegakkan keadilan di seluruh dunia, bukan hanya di satu wilayah.
6. Masa kepemimpinannya: 7–9 tahun menurut sebagian riwayat.
7. Konteks kedatangannya: muncul di tengah dunia yang dipenuhi kezaliman, konflik, fitnah, dan keruntuhan moral.
*5. Kapan al-Mahdi Datang?*
Pertanyaan tentang waktu kedatangan al-Mahdi selalu mengundang spekulasi. Namun, tidak ada hadits sahih yang menyebutkan waktu pasti. Yang ada hanyalah tanda-tanda zaman, seperti:
Banyaknya pertumpahan darah dan fitnah.
Umat Islam tercerai-berai.
Munculnya penguasa zalim.
Dekatnya kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam.
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya sempat mengkritisi sebagian hadits tentang al-Mahdi. Namun kritik ini tidak berarti menolak keberadaannya, melainkan menekankan agar umat berhati-hati dalam menerima riwayat. Mayoritas ulama tetap menegaskan al-Mahdi sebagai bagian dari nubuwah yang sahih.
*6. Membaca Fenomena Secara Kritis*
Sejarah mencatat banyak tokoh mengklaim dirinya sebagai al-Mahdi. Misalnya, Muhammad Ahmad di Sudan abad ke-19, atau gerakan Mahdist di berbagai belahan dunia Islam. Sayangnya, tidak sedikit klaim ini berakhir pada pertumpahan darah karena dimanfaatkan untuk ambisi politik.
Inilah pentingnya sikap kritis:
Keyakinan akan al-Mahdi benar adanya, namun jangan mudah percaya pada klaim individu atau kelompok.
Umat Islam harus fokus memperbaiki diri dan masyarakat, bukan sibuk menunggu sosok misterius tanpa usaha nyata.
Setiap muslim bisa menjadi “mahdawi” dalam arti menegakkan keadilan, membela kebenaran, dan melawan kezaliman di lingkupnya masing-masing.
*7. Relevansi Al-Mahdi di Era Digital dan Globalisasi*
Di era modern, isu al-Mahdi semakin sering dipakai oleh kelompok tertentu untuk membangkitkan emosi massa. Dalam dunia digital, narasi tentang al-Mahdi bisa viral, namun sering bercampur hoaks.
Maka, tugas kaum intelektual muslim adalah menghadirkan pemahaman yang rasional dan kontekstual:
*Al-Mahdi bukan mitos, tetapi janji Nabi.*
Namun menunggu al-Mahdi tidak boleh pasif; umat Islam tetap wajib berjuang melawan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi.
Kehadiran al-Mahdi adalah rahasia Allah; yang penting bukan kapan ia datang, tetapi bagaimana kita siap menyambutnya.
*Penutup*
Muhammad al-Mahdi adalah figur akhir zaman yang dijanjikan Rasulullah ﷺ untuk menegakkan keadilan setelah bumi dipenuhi kezaliman. Al-Qur’an memberi isyarat melalui ayat-ayat janji kemenangan orang beriman, sementara Hadits menjelaskan nasab, nama, dan sifat-sifatnya.
Kapan ia datang? Itu tetap misteri Ilahi. Yang jelas, sejarah menunjukkan bahwa banyak klaim palsu tentang al-Mahdi sering menjerumuskan umat ke dalam fitnah. Oleh karena itu, umat Islam harus bersikap kritis: meyakini janji Nabi, tetapi tidak terjebak dalam manipulasi.
Sikap terbaik adalah meneladani semangat al-Mahdi: memperjuangkan keadilan, menjaga persatuan, dan membangun peradaban Islam yang bermartabat. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi penonton pasif yang menunggu pemimpin akhir zaman, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang mempersiapkan jalan bagi hadirnya keadilan sejati.
Indramayu. 22/8/2025
