Kewijayakusumaan, Jalan Luhur dari Majapahit hingga Indonesia Merdeka

 

Oleh: Sukma Sahadewa (Pemerhati Kedokteran, Hukum, Sosial & Politik).

Dalam sejarah panjang Nusantara, Majapahit tidak hanya meninggalkan warisan berupa arsitektur, karya sastra, dan catatan kejayaan politik, tetapi juga ajaran moral yang disebut Kewijayakusumaan. Lima nilai utama yang terkandung di dalamnya yaitu Tatag, Teguh, Teteg, Tanggon, dan Trapsilo sesungguhnya merupakan fondasi etika kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat. Nilai ini bukan hanya sebatas kearifan lokal masa silam, melainkan juga pedoman yang relevan hingga hari ini, terutama ketika kita merayakan dan mengisi kemerdekaan.

Nilai Tatag melambangkan keteguhan hati dalam memegang prinsip. Hal ini mengingatkan pada Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada, yang dengan kokoh bertekad mempersatukan Nusantara. Teguh mengandung makna keberanian menghadapi tantangan, sebagaimana Majapahit berani melawan intervensi asing demi menjaga kedaulatannya. Teteg berarti konsistensi dalam bertindak, tercermin dalam tata hukum dan pemerintahan Majapahit yang teratur. Tanggon menunjukkan sikap tanggung jawab, baik pemimpin maupun rakyat, untuk mengelola kesejahteraan bersama. Sementara Trapsilo menekankan kerendahan hati dan kesediaan memaafkan, nilai yang menjaga harmoni sosial dalam masyarakat yang majemuk.

Jika ditarik ke konteks Indonesia merdeka, nilai Kewijayakusumaan masih sangat relevan. Bangsa ini membutuhkan Tatag untuk tetap berdiri kokoh menjaga Pancasila, UUD 1945, dan persatuan di tengah ancaman disintegrasi. Kita membutuhkan Teguh dalam menghadapi derasnya arus globalisasi dan ketidakadilan ekonomi dunia. Teteg harus menjadi roh penegakan hukum agar bangsa ini tidak terjebak dalam paradoks hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Tanggon menjadi tuntutan generasi muda untuk bertanggung jawab mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, bukan sekadar nostalgia. Dan Trapsilo adalah sikap rendah hati yang memungkinkan Indonesia bersinergi dengan bangsa lain tanpa kehilangan jati diri.

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini sejatinya memberi penguatan moral atas nilai Kewijayakusumaan. Al-Qur’an dan hadis berulang kali menekankan istiqamah, keberanian, konsistensi, tanggung jawab, dan kerendahan hati. Tatag tercermin dalam QS. Fussilat ayat 30 tentang orang beriman yang beristiqamah. Teguh sejalan dengan sabda Nabi ﷺ bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Teteg hadir dalam perintah berbuat ihsan secara konsisten dalam setiap amal. Tanggon diperkuat sabda Nabi bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Trapsilo menemukan landasan dalam hadis bahwa siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan demikian, Kewijayakusumaan bukanlah nilai yang asing bagi umat Islam, melainkan resonansi dari ajaran universal Islam.

Relevansi ajaran ini semakin kuat ketika kita melihat kondisi bangsa saat ini. Tantangan kemerdekaan bukan lagi perang fisik melawan penjajah, melainkan perang melawan korupsi, kesenjangan sosial, degradasi moral, serta penetrasi budaya instan yang seringkali mengikis karakter bangsa. Tanpa Tatag bangsa ini mudah goyah. Tanpa Teguh kita akan kalah dalam persaingan global. Tanpa Teteg hukum akan terus menjadi sandiwara. Tanpa Tanggon generasi muda kehilangan arah. Dan tanpa Trapsilo bangsa ini akan terpecah oleh egoisme kelompok.

Dalam literatur sejarah, Nugroho Notosusanto (1984) menekankan bahwa setiap peradaban besar selalu memiliki nilai luhur yang menjadi ruh kebangkitannya. Niels Mulder dalam Mysticism in Java (1998) menjelaskan bagaimana etika Jawa selalu memadukan kekuatan lahir dengan kebijaksanaan batin. Prof. Azyumardi Azra dalam Indonesia, Islam, and Democracy (2006) menegaskan pentingnya jembatan antara kearifan lokal Nusantara dan ajaran Islam untuk memperkuat peradaban bangsa. Dari perspektif tersebut, Kewijayakusumaan adalah jembatan yang menyatukan tiga kekuatan yaitu warisan Majapahit, semangat kemerdekaan, dan nilai Islam.

Indonesia bisa belajar dari sejarah. Majapahit runtuh bukan karena kekurangan nilai, tetapi karena abai menerapkannya secara konsisten. Begitu pula bangsa ini, kemerdekaan akan kehilangan makna bila tidak diisi dengan nilai moral yang kokoh. Kewijayakusumaan memberi pesan sederhana namun mendalam bahwa kemerdekaan bukan sekadar soal politik, tetapi soal martabat, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.

Maka, merayakan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan hiasan bendera. Merdeka adalah menanamkan kembali nilai Tatag, Teguh, Teteg, Tanggon, dan Trapsilo dalam kehidupan nyata. Jika itu kita lakukan, maka Indonesia tidak hanya akan dikenang sebagai bangsa yang pernah merdeka, tetapi juga bangsa yang benar-benar berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat di mata dunia.