
Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokserumawe, Aceh
Situasi di Gaza saat ini berada dalam kondisi yang sangat memilukan dan terus memburuk, dengan implikasi yang meluas hingga ke seluruh wilayah. Konflik yang meletus pada 7 Oktober 2023 setelah serangan Hamas ke Israel, dan respons militer Israel yang masif ke Jalur Gaza, telah berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang parah dan memicu ketegangan regional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gaza kini menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia. Wilayah padat penduduk ini telah hancur lebur oleh pengeboman intensif dan operasi darat Israel. Sebagian besar infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, tempat penampungan, dan perumahan, telah rusak parah atau hancur sama sekali. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa lebih dari 90% rumah di Gaza telah rusak atau hancur, membuat mayoritas warga Palestina tanpa tempat tinggal yang permanen dan aman (International Rescue Committee, 2025).
Lebih dari 86% wilayah Jalur Gaza kini berada dalam zona militeristik Israel, di bawah perintah pemindahan, atau tumpang tindih dengan area tersebut. Hal ini menyebabkan jutaan orang, yang sebagian besar sudah mengungsi beberapa kali, terpaksa pindah ke wilayah yang semakin menyusut dan tidak aman. Sejak jeda tembak terakhir pada pertengahan Maret 2025, lebih dari 737.000 orang telah mengungsi lagi (UNRWA, 2025). Mereka mencari perlindungan di sekolah-sekolah yang penuh sesak, masjid, tenda, atau tempat penampungan darurat lainnya dengan akses yang sangat terbatas terhadap air, makanan, sanitasi, dan layanan kesehatan (Oxfam GB, 2025).
Krisis pangan dan kelaparan massal telah menjadi kenyataan yang mengerikan di Gaza. Seluruh Gaza berisiko mengalami kelaparan buatan, dengan jutaan orang menghadapi kerawanan pangan akut dan anak-anak sudah meninggal karena malnutrisi. Israel memblokir sebagian besar bantuan yang masuk, hanya menyisakan sedikit saja pasokan vital seperti makanan, air, dan obat-obatan. Situasi ini diperparah oleh laporan mengenai banyaknya korban jiwa di antara mereka yang berusaha mendapatkan makanan, terutama saat mendekati atau berkumpul di titik distribusi yang telah dimiliterisasi oleh Israel di Rafah dan Deir al-Balah, atau saat menunggu truk bantuan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari 851 orang tewas dan sedikitnya 5.634 terluka saat mencoba mengakses pasokan makanan sejak akhir Mei 2025 (UNRWA, 2025; Times of India, 2025).
Sistem kesehatan di Gaza menghadapi tantangan operasional yang parah, termasuk kerusakan parah pada fasilitas kesehatan, pembunuhan pekerja medis, hambatan untuk pergerakan yang aman di dalam Jalur Gaza, dan pembatasan masuknya pasokan medis serta bahan bakar kritis. Banyak rumah sakit tidak berfungsi atau hanya beroperasi sebagian, dan staf medis bekerja dalam kondisi yang tidak mungkin.
Secara keseluruhan, jumlah korban tewas di Gaza sangatlah tinggi. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 58.573 warga Palestina telah tewas dan 139.607 lainnya terluka antara 7 Oktober 2023 hingga pertengahan Juli 2025. Angka ini tidak membedakan antara warga sipil dan militan, namun disebutkan bahwa perempuan dan anak-anak menyumbang lebih dari separuh korban tewas (OCHA oPt, 2025; Times of India, 2025).
Perluasan Konflik di Luar Gaza: Semakin Meluas dan Mengkhawatirkan
Perang di Gaza telah melampaui batas-batas Jalur Gaza dan memicu ketegangan regional yang berbahaya, membawa Timur Tengah ke ambang konflik yang lebih luas dan mungkin bencana. Mekanisme eskalasi yang rapuh yang sebelumnya mengatur interaksi antara Iran, proksi-proksinya (terutama Hizbullah), serta Israel dan sekutunya, tampaknya semakin menipis (BIC-RHR, n.d.).
1. Front Lebanon-Israel: Ini adalah salah satu front yang paling aktif. Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Hizbullah di Lebanon mulai menembakkan roket ke Israel utara dan terlibat dalam baku tembak lintas perbatasan. Israel merespons dengan serangan udara dan, dalam perkembangan yang sangat signifikan, melancarkan invasi darat ke Lebanon menyusul berbulan-bulan skirmish lintas batas (Council on Foreign Relations, n.d.). Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi perang skala penuh antara Israel dan Hizbullah, yang akan memiliki konsekuensi yang menghancurkan bagi Lebanon dan seluruh wilayah.
2. Yaman dan Laut Merah: Milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman telah menembakkan rudal ke Israel dan secara signifikan mengganggu lalu lintas kapal komersial di Laut Merah. Serangan-serangan ini, yang bertujuan untuk menekan Israel agar menghentikan serangannya di Gaza, telah menyebabkan gangguan parah pada jalur pelayaran global, memicu respons militer dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk melindungi kapal-kapal di jalur perdagangan penting ini (Credendo, n.d.; Council on Foreign Relations, n.d.).
3. Irak dan Suriah: Kelompok-kelompok yang didukung Iran lainnya telah melancarkan puluhan serangan terhadap posisi militer Amerika Serikat di Irak dan Suriah. Serangan-serangan ini merupakan bagian dari “Poros Perlawanan” yang didukung Iran, yang bertujuan untuk menekan kehadiran AS di wilayah tersebut dan mendukung Palestina (Council on Foreign Relations, n.d.).
4. Konfrontasi Langsung Iran-Israel: Pada April dan Oktober 2024, Iran mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyerang Israel secara langsung, yang kemudian dibalas Israel dengan serangan balik yang menargetkan pertahanan udara dan fasilitas produksi rudal Iran (Council on Foreign Relations, n.d.). Konfrontasi langsung ini menunjukkan tingkat eskalasi yang sangat berbahaya, di mana ambang batas konfrontasi langsung telah dilewati, meningkatkan risiko perang regional skala penuh.
5. Ketegangan di Tepi Barat: Selain Gaza, situasi di Tepi Barat yang diduduki juga sangat tegang. Sejak 7 Oktober 2023, kekerasan terhadap warga Palestina telah meningkat secara signifikan, dengan ratusan warga Palestina tewas, termasuk anak-anak. Operasi Pasukan Keamanan Israel (ISF) dan serangan pemukim Israel telah memicu bentrokan dan meningkatkan ketidakstabilan (OCHA oPt, 2023).
Implikasi Regional dan Masa Depan
Perang di Gaza telah menghancurkan harapan yang tersisa untuk perdamaian regional dan memperlihatkan impotensi komunitas internasional serta PBB untuk campur tangan secara tegas dan menghentikan kehancuran (Carnegie Endowment, 2025). Konflik ini telah mengubah dinamika politik Arab, mendorong negara-negara Arab yang berusaha menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah Abraham Accords untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka (Credendo, n.d.). Pembicaraan normalisasi antara Arab Saudi dan Israel, yang didukung AS, kini terhambat.
Implikasi ekonomi juga mulai terasa di seluruh wilayah, dengan volatilitas pasar minyak dan penurunan pemesanan penerbangan ke kawasan tersebut. Negara-negara tetangga seperti Yordania, Mesir, dan Lebanon sangat rentan terhadap gejolak internal dan ketidakstabilan akibat krisis kemanusiaan di Gaza dan gelombang pengungsian (Credendo, n.d.; UNDP, n.d.).
Meskipun semua pihak yang terlibat — Israel, Hizbullah, dan Iran — tampak ingin menghindari perang regional skala penuh yang akan menghancurkan kota-kota utama mereka, situasi tetap sangat rapuh. Pertimbangan geopolitik, manuver militer, dan pengabaian hukum internasional telah menciptakan lingkungan yang sangat berbahaya. Konflik Gaza telah membawa kembali isu Palestina ke garis depan prioritas internasional, namun pertanyaan tentang di mana “garis merah” sebenarnya masih menjadi misteri, terutama mengingat pewarisan dan penderitaan massal yang terus terjadi (BIC-RHR, n.d.). Dunia menyaksikan dengan cemas, berharap agar konflik ini tidak meluas menjadi malapetaka yang tak terkendali.***
