
Namanya Muhammad Tijani Samawi (MTS), seorang tokoh agama asal Tunisia. Berasal dari keluarga Sufi tarekat Tijaniyah, ia sempat menjadi pendakwah Salafi sampai Ia bertemu dengan seorang Syiah yang mengajaknya berkunjung ke Baghdad dan Najaf. Berikut ini kisahnya oleh Katon Kurniawan :
Di Irak, MTS bertemu rahib Syiah terkemuka di era 70an seperti Abul Qasim al-Khoei dan Baqir Sadr. Pertemuan ini, atau lebih tepatnya perdebatan dengan para master Syiah, membawa MTS pindah keyakinan menjadi pemeluk Syiah.
Meski ada pelajaran penting -yakni meninggalkan perdebatan dengan orang-orang ruwet- saya tak sedang ingin membahasnya sebagai bagian perjalanan spiritual ybs. Ada hal lain, yakni dari cerita yg dibawakannya beberapa waktu yl.
Googling aja ‘Gaza Made me a Shia’ !
MTS mengklaim orang dalam kisahnya itu, salafi pulak, pindah memeluk agama Syiah setelah melihat kegigihan Syiah dalam membela Gaza dari kejahatan Zionist, sementara orang2 Sunni (dinilainya) hanya berdiam diri saja.
Jika benar, fenomena seperti itu terjadi tak lepas dari propaganda Syiah yg memang ahlinya ahli dalam urusan tipu-menipu. Sekelas Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma saja bisa ditipu diperdaya propaganda mereka sampai terbunuh, lha apalagi kita?
Maka hendaklah kisah yg dibawakan MTS itu menjadi peringatan bagi setiap muslim dalam menyikapi tontonan perang yg disuguhkan Iran dan Israel kali ini!
Jadikan nasihat jika menemukan sindirian seperti ini: “keluarnya rudal Syiah sudah membuat sebagian orang merubah sikap atau aqidah, bagaimana kalau nanti yg keluar dajjal?”. Agak pedes sih emang, tapi realistis juga sesuai kisah dari MTS tadi.
Hati-hati terhadap upaya mendekatkan Islam dan Syiah demi kemenangan militer dengan mengorbankan aqidah. Buat apa sukses mengalahkan zionist, kalau akhirnya adalah iman aqidah yg rusak? Apakah kemenangan seperti ini akan menyelamatkan urusan kita di akhirat kelak?
So, dont be fooled and get fooled!
—
Foto: MTS dan Grand Ayatoilet Sayyed Sadiq Shirazi
