Guru Digital: Belajar Koding dan AI

Oleh Edy Wihardjo, M.Pd., MCE., MCF.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan dituntut untuk beradaptasi dengan mempersiapkan pendidik yang melek teknologi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) merespons tantangan ini melalui inisiatif pelatihan koding dan kecerdasan buatan (AI) bagi guru jenjang pendidikan dasar dan menengah. Program ini bukan hanya sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk membekali guru dengan keterampilan abad ke-21 yang esensial dalam mendidik generasi masa depan.

*Urgensi Pelatihan Koding dan AI dalam Pendidikan*

Integrasi teknologi dalam pendidikan telah mengubah cara siswa mengakses pengetahuan dan berinteraksi dengan materi pembelajaran. Namun, data hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi digital siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara OECD, menandakan adanya kesenjangan antara tuntutan era digital dan kesiapan pendidik. Guru harus mampu mengintegrasikan teknologi secara efektif dalam pembelajaran, sehingga pelatihan koding dan AI menjadi langkah strategis untuk memperkuat kompetensi guru menghadapi tantangan pendidikan di era disrupsi teknologi.

*Landasan Kebijakan dan Dasar Hukum*

Program ini berlandaskan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Selain itu, program ini sejalan dengan Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 dan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) serta inisiatif Relawan TIK.

*Model Pelatihan dan Pendekatan Pembelajaran*

Pelatihan menggunakan pendekatan hybrid learning (daring dan luring) dengan orientasi konstruktivis, mengajarkan guru tidak hanya mengoperasikan alat digital tapi juga merancang pembelajaran yang mendorong berpikir kritis dan kreatif. Materi meliputi pemrograman dasar (Scratch, Python) dan pemanfaatan AI untuk personalisasi pembelajaran melalui adaptive learning tools. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dan masalah (PBL) menjadi kerangka utama.

*Tantangan dan Strategi Implementasi*

Tantangan utama adalah kesenjangan infrastruktur digital di daerah terpencil dan resistensi guru terhadap perubahan teknologi. Solusinya meliputi kolaborasi dengan pemerintah daerah dan penyedia layanan internet serta pendampingan intensif melalui coaching dan mentoring.

*Proyeksi ke Depan dan Dampak Jangka Panjang*

Pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem pendidikan adaptif yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan kebijakan. Dengan dukungan pemangku kepentingan, diharapkan dapat mempercepat visi Indonesia Emas 2045, menjadikan generasi muda Indonesia sebagai pencipta inovasi digital, bukan hanya konsumen teknologi.

*Referensi*

Fullan, M. (2013). Stratosphere: Integrating Technology, Pedagogy, and Change Knowledge. Pearson.
https://books.google.co.id/books?id=4vFsLwEACAAJ

Jonassen, D. H. (1996). Computers in the Classroom: Mindtools for Critical Thinking. Merrill.
https://books.google.co.id/books?id=7hsiAQAAIAAJ

Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge. Teachers College Record.
https://www.punyamishra.com/wp-content/uploads/2008/01/mishra-koehler-tcr2006.pdf

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). Free Press.
https://teddykw2.files.wordpress.com/2012/07/everett-m-rogers-diffusion-of-innovations.pdf

Selwyn, N. (2011). Education and Technology: Key Issues and Debates. Continuum.
https://books.google.co.id/books?id=2nXQyFsT0LkC

Warschauer, M. (2006). Laptops and Literacy: Learning in the Wireless Classroom. Teachers College Press.
https://www.academia.edu/75069667/Laptops_and_literacy_learning_in_the_wireless_classroom