
Setelah dideklarasikan JATMA ASWAJA yang didirikan Habib Lutfi bin Yahya ini dibangun di atas dua pilar utama. Ini isinya:
1. Membangun Transendentalisme
Menjadikan thariqah sebagai jalan penguatan hubungan antara hamba dan Allah. Dalam dunia yang penuh distraksi, manusia membutuhkan ruang sunyi—dan thariqah menyediakan ruang itu secara sistematis. Dzikir, suluk, dan adab kepada mursyid bukanlah praktik yang asing dari kehidupan sosial, tetapi justru menjadi fondasi kesalehan publik. JATMA ASWAJA mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada tradisi dzikir berjamaah, pengajian thariqah, dan penguatan sanad keilmuan serta ruhaniyah.
2. Pemberdayaan Ekonomi Ummatan
Spirit thariqah tidak anti-dunia. Sebaliknya, ia mendorong umat untuk memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, dan janganlah lupakan bagianmu dari dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Maka, JATMA ASWAJA berkomitmen menjalankan dakwah integral: menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi. Melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah, JATMA ASWAJA ingin memastikan bahwa para pengamal thariqah tidak hanya kuat secara ruhani, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial.
@jatma.aswaja
