
JAKARTA–“Presiden Prabowo Subianto,harus memerintahkan pihak BSSN, BIN dan Polri untuk lebih kerja keras lagi mencari kelemahan data-data, kenapa penerimaan pajak Januari 2025 tidak optimal. Ini bukan soal pembayar pajak.”
Sebab Aneh! Sampai 31 Januari 2025, penerimaan perpajakan Republik Indonesia hanya Rp 115,18 triliun atau turun 34,48 persen dibandingkan Januari 2024 yang sebesar Rp 175,8 triliun.
Sementara setoran pajak (tanpa bea dan cukai) hanya Rp 88,89 triliun, turun drastis hingga 41,86 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp 152,89 triliun.
Karuan, tidak tercapainya penerimaan pajak di bulan Januari 2025 hingga 41,8 persen dibandingkan Januari 2024 ini membuat publik gundah. Banyak pertanyaan muncul, dan nyaris semua ‘menyalahkan’ pemburu dan pembayar pajak.
Padahal, tidak sesederhana itu. Ini bisa dipastikan adanya sabotase dari pihak luar dengan cara Cyber security yang dirusak, selain itu kualitas servernya jelek yang mengakibatkan mudahnya dibobol sistem Coretex di perpajakan RI.
Dan kenapa bisa jebol oleh pihak asing? Karena API endpoint terbuka atau tidak terlindungi dengan baik, tidak ada validasi data di server dengan baik, coretax tidak menggunakan rate limiting atau throtting, ini kelemahan dalam sistem autentifikasi dan token.
Dengan modus melakukan scam pada link coretax yang dikirimkan pada masyarakat pembayar pajak Indonesia sehingga pembayaran tidak masuk ke rekening negara.
Ini bentuk serangan siber hacker asing pada sistim pajak Indonesia, apalagi sistem Coretax menurut informasi security-nya sangat lemah dan mudah dijebol.
Belum lagi diduga sistem coretax pengadaannya di-mark up, ada indikasi korupsi. Dirjen pajak menganggarkan 1,3 T untuk membeli sistem coretax, walhasil masih tidak maksimal untuk penerimaan pajak.
Ini sangat disayangkan ditengah transisi pemerintahan baru yang seharusnya hasil pajak bisa untuk memperkuat ekonomi tapi faktanya malah menjadi beban ekonomi negara.
Karena itu, menurut hemat saya, Presiden Prabowo harus memerintahkan pihak BSSN, BIN dan Polri untuk lebih kerja keras lagi mencari kelemahan data-data, kenapa penerimaan pajak Januari 2025 tidak optimal alias turunë drastis sampai mencapai 41,8%. Ini jelas impossible jika hanya mengacu ke kinerja pemburu panjak. Bukankah begitu?.
Oleh: Paidjo Parikesit adalah Alumni ‘Intelejen’ Universitas Indonesia, Jakarta.*IKA*
