Progresivitas Menggambar dengan Memori Bahagia

oleh : Anang Prasetyo.

Suatu saat saya berbincang santai dengan Moelyono, seorang guru gambar, dan seniman penggagas seni rupa penyadaran. Dia menyoroti sebuah event kesenirupaan yang memakai kata progres namun berjalan ditempat.

Menurut KBBI progres berarti kemajuan. Kata progres itu menunjuk suatu pergerakan. Sebuah upaya maju yang tentu saja ada dinamika didalamnya. Progres hematnya ia mampu berjalin berkelindan hingga menghasilkan pusaran yang semakin berkembang. Maju dan berkeadaban.

Suatu saat yang lain, saya juga berdialog santai dengan Nurali, perupa Tulungagung yang sudah malang melintang dalam pameran seni rupa, sekaligus sebagai penggagas perhelatan seni rupa November Art Progress di Tulungagung. Disingkat NAP. Event tahunan ini dahulu digadang – gadang sebagai bulannya kesenirupaan di Tulungagung.
Event ini berjalan sampai di NAP #4. Masa pandemi covid 2019 menghentikan perhelatan lanjutannya.
Tatkala saya berusaha mempertahankan event ini dengan nama NAP #5, agar kontinyu alias istiqomah, sayangnya ada teman perupa yang menyalah artikan saya mendapat kucuran dana pemerintah. Padahal semata agar tetap berjalan saja. Tak lebih dari itu.
Mau tidak mau perhelatan ini sementara berhenti alias mauquf. (Catatan tulisan saya mengenai ini ada dalam buku Ruang Rupa yang diterbitkan salah satu penerbit di Jogyakarta)

Disisi yang lain, judul artikel ini saya beri nama progresivitas menggambar dengan memori bahagia, itu lebih karena sejak 2016 dimana buku menggambar dengan memori bahagia (selebihnya disingkat MMB) ini terbit bersama 4 buku lainnya,
Sesederhana apapun bentuknya, ada upaya pergerakan dan perkembangan. Harapannya demikian. Walaupun kenyataan di lapangan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sebagai catatan ringan, linimasa berikut menunjukkan pola dan kronologi pergerakan secara simultan MMB dimaksud.

1. tahun 2016 buku MMB terbit
2. 2017 MMB diikutkan dalam lomba videografi tingkat nasional dimana saya menjadi talent dalam video karya siswa SMK.

3. 2017 – 2020 menyelenggarakan workshop MMB dengan nama training Aktivasi Memori Bahagia di beberapa kota. Batu, Tulungagung, Jogyakarta, Bojonegoro, Kediri dan kota lainnya.
4. 2020 Prosiding seminar diterima ISI Yogyakarta dengan judul Aktivasi Memori Bahagia sebagai pemantik ide Kreativitas Karya Seni.

5. Tahun 2022 berkeliling di 33 titik di Tulungagung menyelenggarakan apa yang saya sebut sebagai thawaf seni rupa kebahagiaan.

6. 2023
– mengisi dosen tamu bagi mahasiswa seni rupa UNESA dengan tajuk Seni Masyarakat Desa.
– Bedah buku MMB di Omah Mikir oleh Dr Djuli Djatiprambudi , dihadiri para seniman dan akademisi.
– kuliah dosen tamu ke 2 dengan judul integrasi ilmu agama dalam gerakan seni rupa kebahagiaan
– Menggambar dan melukis kebahagiaan secara massal dihadapan 850 siswa kelas X SMKN 1 Boyolangu
– mengirimkan buku MMB ke Dr Mikke Susanto pemilik Dictyart di Jogya
– Diajukan kepada Ilham Khoiri , direktur Bentara Budaya Jakarta untuk upaya penerbitan buku secara massif.

7. 2024 Seminar dan pameran Aposteriori di Oudstract Semarang, dimana buku MMB menjadi salah satu kajian pembahasan Lisa Sidyawati, dosen UM yang sedang menempuh program doktoral di Unes Semarang. Menjadi tonggak baru secara keilmuan , bahwa MMB adalah sebagai model pembelajaran. Bukan hanya sebatas metode pengajaran.

– Rencana penerbitan buku MMB kedalam bahasa Arab dengan judul Tashwirus Sa’adah dan bahasa Inggris dengan judul Drawing Happines

– Ide membuat chanel di Youtube Yak Bagus ! sebagai apresiasi dan reprensentasi gambar dan lukisan kebahagiaan karya siswa. Terinspirasi oleh program di TVRI yang diasuh oleh Pak Tino Sidin, yang selalu mengatakan apresiasi kepada karya muridnya dengan mengatakan yak bagus !.

– Menerapkan micro teaching kepada Guru SMKN 1 Boyolangu dengan modeling MMB .

– Bedah buku Menggambar dengan Memori Bahagia oleh Lisa Sidyawati dan memamerkan karya Aposteriorinya di perhelatan tahunan Festival Padhang Njingglang ke 10 tahun ke 14.
– yang terakhir adalah melaksanakan workshop MMB kepada seluruh siswa kelas X SMKN 1 Boyolangu. Sebanyak 500 siswa sebagai pilot project dengan membentuk komunitas kecil / kelompok untuk melaksanakan workshop MMB kepada adik – adik dan siswa SD SMP di bawahnya. Bulan Oktober dan Nopember 2024 , hampir 66 komunitas kecil menyebar di 66 titik di desa – desa di Kabupaten Tulungagung. Ini mengulang peristiwa di tahun 2015 silam, dengan nama Seni Rupa Belajar. Dimana murid – murid saya , saya gerakkan untuk mengajari adik – adiknya dengan materi seni rupa kreasi mereka di kelas.

Walhasil, bahwa Menggambar dengan Memori Bahagia dengan upaya Gerakan Senirupa Kebahagiaan (GSK), baik yang bersifat memusat (konvergen) maupun yang menyebar ( divergen) , sesungguhnya adalah pola ritmis dinamis dan pengembangan sebuah buku MMB.

Jika di tahun 2025 nanti bisa terwujud pelaksanaan workshop bagi mahasiswa pendidikan seni rupa , baik UNY Unesa UM dan Unes , maka ini ada harapan bahwa pola pengajaran dan pendidikan seni rupa ( baca : khususnya dalam hal menggambar) , dan dikalangan pendidik juga , akan memperkaya teknik dan metode dalam hal menggambar.
Para guru di tingkat dasar dan menengah harapannya terbantu dalam hal teknik menggambar alternatif dan semoga mencerahkan. Setidaknya hal ini juga menjawab persoalan mendasar dan akut ( khas ala pengajaran penjajah Belanda) dengan ciri gambar dua gunung dengan matahari di tengah.

Sekaligus ini juga menjawab kepercayaan diri anak dan menjadikan murid – murid mereka untuk menghasilkan karya – karya yang kreatif, unik, personal dan ekspresif.

Walhasil, progresivitas Menggambar dengan Memori Bahagia , setidaknya menunjukkan adanya pengembangan. Kurang dan lebihnya menjawab persoalan kata progres itu sendiri.

Secara sederhananya,
Guru Gambar Moelyono dan Guru Djuli Djatiprambudi sebagai guru bagi penulis, semoga berkenan melihat itu sebagai sebentuk dinamika perkembangan dan solusi atas kegelisahan dalam dunia pendidikan seni rupa.
Hanya secuil ilmu. Tak seberapa. Tak ada apa- apanya.

Namun semoga dengan menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan anak- anak, sebagaimana amanat Guru Murobbi Abi KH Muh Ihya Ulumiddin , bahwa jadilah manusia yang bisa “Nyenengno Uwong dan nguwongno uwong” ( menyenangkan orang dan memanusiakan manusia) bisa terwujud.
Anak – anak tumbuh kepercayaan dirinya. Sekaigus anak anak itu mampu mewujudkan, sekaligus menarasikan kebahagiaanya melalui gambar. Demikian pula dengan tulisan yang ia sertakan dalam gambar tersebut.
Ini sebenarnya, meminjam kalam Guru Kebudayaan, Mbah Ainun Nadjib adalah dalam rangka mengiqro’i diri sendiri. Sekaligus menjadikan itu sebagai kalam. Sebagaimana perintah Nya. Iqro’ dan qolam (QS Al Alaq).

Filosuf agung Syed Naquib Al Attas menyatakan perihal kebahagiaan itu ” bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan. Bukan kepada diri hayawani sifat basyari, dan bukan pula dia suatu keadaan akal fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakekat tarakhir yang yang Mutlak yang dicari – cari itu – yakni : keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala….”
(2022 : xxxv).

Semoga dengan itu, Tuhan Yang Maha Indah ( yaa Jamilun) dan yang Maha Kreatif (yaa Mushowwir) , yang telah menciptakan ( yaa Khooliq) anak – anak ciptaan Nya itu, ikut berbahagia.
Minimal dengan pola ungkapan kesyukuran dalam model menggambar dengan memori bahagia itu.
Semoga dengan sifat Yaa Mushowwir dan Yaa Jamiil Nya yang Dia titipamanahkan dalam diri anak – anak dan manusia ciptaan Nya,
Bukankah Gus Baha’ menyatakan bahwa syukur itu diatas taqwa. Kesyukuran itu diatas ketaqwaan.

Harapan akhirnya hal ini semoga diiyakan oleh Nya.
Robbana fataqobbal minna waqbalna. Bi siriil faatihah.

Semoga.
Aamin

Joglo Sendang Kamulyan
Art space
Tulungagung, Ahad 27 Oktober 2024

(Penulis adalah guru seni rupa di SMKN 1 Boyolangu. Pembina KOMPAN Komunitas Padhang Njingglang dan penulis buku Menggambar Dengan Memori Bahagai)

Sumber bacaan :
1. Syed Naquib Al Attas, Makna Kebahagiaan dan Pengalamannya Dalam Islam. IBFIM, Kuala Lumpu 2014.