Raden Ayu Maerah Istri Pangeran Benowo Putra Sultan Hadiwijaya Raja Pajang

 

RADEN AYU MEIRAH Sosok Istri Teladan Pangeran Benawa. Seperti apakah kisahnya. Berikut ini :

Bercerita tentang Raden Ayu Meirah atau Mbah Meirah yang biasa disebut masyarakat setempat, adalah sosok Istri Pangeran Benawa yang nyaris tidak banyak terungkap dalam sejarah.

Nama Nyai Meirah, sering di samakan dengan Putri Sedah Merah dalam Babad Surakarta dimana beliau adalah Putri Selir PBIX, yang meninggal tahun 1826 yang makamnya bisa dikunjungi di makam tua di Kartosuro.

Atau Dalam Babad Blambangan tentang Putri Sedah Merah, putri dari Adipati Blambangan yang di persunting oleh Raden Mas Jolang putra Panembahan Senopati Raja Mataram.

Menguak Sejarah Nyai Meirah, kita tak akan terlepas dari sosok Pangeran Benawa, Gusti Ranga, Wayang Krucil dan Kadipaten Jipang. Untuk itu kita coba buka sejarahnya.

Pangeran Benawa adalah Raja Pajang ketiga dan memerintah tahun 1586-1587, bergelar Kanjeng Adipati Pengging/ Pangeran Benawa/ Pangeran Hadipati/ Sultan Prabuwijaya.

Pangeran Benawa adalah putera Hadiwijaya atau Jaka Jingkir, Raja pertama Pajang. Sejak Kecil ia dipersaudarakan Sutawijaya, anak angkat ayahnya, yang mendirikan Kerajaan Mataram.

Pangeran Benawa memiliki putri bernama Dyah Banowati yang menikah dengan Mas Jolang putra Sutawijaya. Dyah Banowati bergelar Ratu Mas Adi, yang kemudian melahirkan Sultan Agung, Raja terbesar Mataram.

Setelah gugurnya Arya Penangsang penguasa pajang pada tahun 1554 yang riwayatnya tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda

Maka Kadipaten Jipang Panolan yang menjadi wilayah bawahan Kerajaan Pajang, kemudian kepemimpinan selanjutnya diserahkan Sultan Hadiwijaya kepada putranya yang bernama Pangeran Benawa.
( Penyerahan Kadipaten Jipang Panolan kepada Pangeran Benowo pada tahun 1554 dan beliau Diangkat Menjadi Raja Pajang ke 3 pada Tahun 1586. Pangeran Benowo cukup lama menjadi Adipati Jipang, kurang lebih 32th
Sejarah panjang Adipati Jipang di Panolan diteruskan oleh Pangeran Hadipati Benawa II.

Perlu dicatat, Sutowijoyo yang berhasil mengalahkan Pangeran Aria Penangsang adalah “Sosok Pemuda Tanggung”. Dan Sutowijoyo adalah kakak angkat Pangeran Benawa.
Jadi bisa disimpulkan, pangeran Benowo menjadi Dipati Jipang dalam usia sangat muda dan fakta sejarah ini besar kemungkinannya, beliau menikah dan mempunyai anak masih dalam kedudukannya sebagai Dipati Jipang.

Masyarakat Jipang meyakini, Pangeran Benawa menikahi Putri Bangsawan yang ada di Jipang. Dan besar kemungkinan adalah Raden Ayu Meirah adalah salah satu istri pangeran Benawa dari jipang. Seperti biasa dalam negara bawahan, penguasa menjalin asimilasi dengan sebuah pernikahan dengan bangsawan setempat untuk memberikan kedamaian dan ketenangan pasca konflik Demak.

Nyai Meirah, oleh masyarakat Jipang sering dipanggil Ratu Jipang. Parasnya yang cantik dengan tutur bahasa , adab etika putri bangsawan tercermin dalam lakunya. Pangeran Benawa sangat beruntung mempunyai pendamping Nyai Meirah.

Pergerakan Penataan pemerintah Jipang oleh Pangeran Benawa, dilalui dengan baik. Beliau yang berhati lembut dan penuh ilmu keagamaan yang tinggi menjadi pelopor pergerakan dakwah madrasah yang menjadi cikal Pondok Pondok pesantren.

Nyai Meirah mengambil peran dalam membina masyarakat Jipang untuk hidup rukun dengan pengembangan budaya yang agung. Beliau mencintai budaya tembang dan wayang, yang kelak dimakam Meirah Sorogo Cepu, setiap tahunnya diadakan pementasan wayang Krucil khas Blora.

Kehidupan Nyai Meirah, menjadi berubah setelah kedatangan Gusti Rangga, putra Dipati Mataram Sutawijaya

BENAWA, KI JURU MARTANI, GUSTI RANGGA

Wilayah utara jipang yang berkembang pesat tersebut dinamai Desa Sambong. Adapun nama “Sambong” berasal dari kata sambongan, yang artinya bendungan.

Dikisahkan, pada waktu pertama bermukim di desa tersebut, tokoh masyarakat yang bernama Kyai Anggamaya dan pengikut-pengikutnya membuat bendungan. Orang-orang di sekitar daerah itu menyebutnya dengan sambongan, yaitu bendungan untuk menahan air agar pada waktu musim kemarau tidak kekurangan air.

Kekacauan Di Utara Jipang Panolan

Suatu ketika, di Jipang Panolan terjadi kekacauan yang disebabkan oleh beberapa orang yang mengaku berasal dari wilayah utara. Kekacauan tersebut dicurigai sebagai bentuk pemberontakan. Pemberontakan yang cepat dan luas di wilayah utara tersebut dianggap mengancam keutuhan pemerintahan Jipang Panolan.

Akhirnya, Adipati Jipang Panolan yaitu Pangeran Benowo, menyatakan perang dengan Kyai Anggamaya dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh pihak Utara dari sisa sisa pasukan Aria Penangsang. Pasukan kadipaten dikerahkan untuk menumpas Kyai Anggamaya dan pengikutnya sebelum terjadi pemberontakan yang lebih besar.

Perang saudara pun pecah. Pasukan Jipang Panolan menyerang para santri Kyai Anggamaya

Panembahan Senopati Campur Tangan
(Masih Adipati Alas Mentaok Mataram)

Berita tentang kerisauan Jipang Panolan tersebut akhirnya didengar oleh pihak Mataram. Panembahan Senopati menyatakan, jika kekacauan di Panolan dibiarkan akan membahayakan bagi Panolan sendiri, bahkan mungkin dapat meluas ke Mataram.

Oleh karena itu, Panembahan Senopati sebagai Kakak Angkat dari Pangeran Benowo, mengirim dua orang putranya, yakni Raden Rangga dan Raden Rama untuk mengatasi masalah tersebut. Pasukan dari Mataram dipimpin oleh Ki Juru Martani yang dikenal hebat dan ahli di bidang strategi perang untuk turut menyelesaikan kerisauan di Panolan akan adanya isu pemberontakan tersebut.

Ki Juru Martani beserta dua orang putra mahkota Panembahan Senopati datang ke Jipang Panolan dan menyelidiki keadaan
Dengan keahlian luar biasa, Ki Juru Martani akhirnya tahu bahwa ternyata pemberontakan yang terjadi itu dipimpin oleh orang dari Tuban, bernama Kyai Anggasana. Ia merupakan saudara Kyai Anggamaya, Jadi hal tersebut merupakan upaya propaganda yang sangat rapi menjadikan Kyai Anggamaya dan pengikutnya sebagai kambing hitam.

Lalu, Ki Juru Martani meminta Pangeran Rangga untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Laskar yang dipimpin oleh Pangeran Rangga dan Pangeran Rama serta Dikawal Ki Juru Martani dengan kesaktiannya ia menyerang Kyai Anggasana dan Kyai Anggamaya. Dan pemberontakan dapat dipadamkan.

Jamuan penghormatan Kepada Ki Juru Martani, Gusti Rangga dan Gusti Rama berlangsung di Kadipaten, dilayani langsung oleh Pangeran Benawa dan Nyai Meirah.
Tatapan pertama Gusti Rangga terhadap Nyai Meirah yang cantik jelita berubah menjadi perasaan suka dan menggelayut tiada hilang di hari hari berikutnya.

Hati yang tak tertahan disaat itu pulalah Gusti Rangga menyampaikan ke Paman Ki Juru Martani, seketika Ki Juru Martani Mengingatkan ” Itu Bibik Mu…Gusti!” Sadarlah.!”
Untuk sementara waktu beliau mampu menahan hasrat dan mencoba melupakan.

Dalam catatan sejarah, Atas prestasi meredam Pemberontakan di Jipang panolan, Gusti Rangga diangkat menjadi Dipati Pati. Meski hatinya masih menyimpan asmara.

Kecintaan kepada Agama, pangeran Benawa berkeinginan belajar kepada sesepuh agama di manca negara lain, beliau menitipkan kepada para Patih dan istrinya Nyai Meirah untuk sementara waktu.

Beliau berjalan ke Balamoa, kecamatan Pangkah, kabupaten Tegal menemui Kyai Jinten (Mbah Dagan) dan Nyai Jinten merupakan penyebar agama Islam di Balamoa. Untuk berguru, Kemudian di sekitar tahun 1603, Mbah Jinten pindah ke Tembok Luwung atas permintaan Syekh Atas Angin untuk meneruskan menyebarkan agama Islam.
Kyai Jinten dan Nyai Jinten hidup di jaman ketika Ki Gede Sebayu belum datang ke Tegal.
Anda bisa menjumpai Makam beliau sampai sekarang.

“PANGGUYANGAN JIPANG”
Perebutan Jipang ing Panolan oleh mataram

Informasi tentang pangeran Benawa pergi keluar dari jipang untuk belajar agama sampai ke Gusti Rangga. Gusti Ranga adalah sosok Pemuda yang sakti mandraguna dan cenderung jumawa dan senang adu kesaktian. Sering diingatkan oleh Patih dan Kanjeng Senopati sendiri. Dengan jabatan Dipati diharapkan bisa berubah… Ternyata tidak.
Dengan tiba tiba, beliau hadir di Kadipaten Jipang Ing Panolan dan berteriak teriak karena “Gandrung” (Gila Cinta).

Perang Terjadi dengan dahsyat antara para Pangeran dan Adipati serta tentara kadipaten Jipang Ing Panolan terhadap Gusti Ronggo

Ratu Jipang, Nyai Merah takut luarbiasa, para Patih tiada yang sanggup melawan kesaktian Gusti Rangga, untuk keselamatan bersama para dayang beliau lari kedaerah utara dan terkejar di desa Mulyorejo.

setelah tertangkap Nyai Meirah pun berkata dengan tenang dengan mulut bergetar ” Gusti, engkau keponakanku ingat Suamiku adalah Pamanmu.!” Tapi karena sudah gantrung, Gusti Rangga tak peduli , tangannya menari, berputar , merengkuhnya dan di saat lengah, Nyai Meirah berhasil mencabut keris Gusti Rangga. Sekita berkata ” Gusti Rangga… Saya tak sudi kau nodai, aku rela ‘Suci Pati’
Lalu dihunuslah keris tersebut ketubuh Nyai Meirah dan seketika meninggal dunia. Berdarah……
(Sekarang tempat tersebut dinamai dukuh Merah. Nama pasarnya juga Pasar Merah Cepu)

Gusti Rangga melihat hal yang tak terduga meraung Raung kegilaan seketika… Dibawanya ke kadipaten. Bingung, marah , sedih, kecewa, menyesal ,tiada henti hingga 7hari tujuh malam tanpa tidur.
(Kelak, berita tersebut diketahui oleh pangeran Benawa dan panembahan Senopati, Gusti Rangga mendapat hukuman yang menyedihkan oleh ayahnya. Tidak tercatat dalam babad Mataram, tapi Masyarakat Cepu meyakini bahwa Gusti Rangga di Hukum Pati)

Mengenai Kesedihan Panembahan Senopati Sutowijoyo dan Kematian Gusti Ronggo bisa di lihat di tulisan kami
https://m.facebook.com/groups/3995202817166375/permalink/4437210186298967/

Diam diam jasad Nyai Meirah dibawa para dayang dayang dengan perahu kecil menyusuri Bengawan sore menuju ke suatu tempat yang sekarang dengan nama Sorogo , artinya : “Di Soroge Ragane” ( Didorong Raganya ) dan dikuburkan di Sorogo Cepu. Menurut cerita, yang membawa jasad Nyai Maerah adalah adiknya sendiri.. yaitu Nyai Siyah /Ci’ah yang kelak dikenal sebagai Mbah Ridho Punden Ngareng

Tulisan kami tentang Mbah Ridho, bisa di baca di
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2908688496082138&id=100008230473513

Sebuah cerita sejarah yang menyedihkan , sebagaimana diceritakan Bopo Mamiek budayawan Blora dan Juru kunci Makam Nyai Meirah. Cerita ini bisa di lihat di pementasan wayang krucil yang bercerita tentang Nyai Ratu Meirah.
____________________

Dari catatan sejarah Alur leluhur PB IX ini jika diurutkan ke atas berawal dari sosok Pangeran Benawa di Jipang.

-Pangeran Benawa memiliki putra Pangeran Kaputran (Putra Nyai Meirah…. ???) yang menurunkan Pangeran Danupoyo. Tokoh ini berputra Ki Singaprana di Walen, dan menurunkan Kyai Ageng Singaprana.
Ageng Singaprana memiliki putra Ki Singawangsa, yang menurunkan Raden Ayu Tasikwulan. Perempuan ini kemudian jadi istri selir KGPA Mangkubumi.
Pangeran ini memiliki putri GKR Ageng yang jadi istri permaisuri Sri Susuhunan Pakubuwana VI. Pasangan ini memiliki putra Raden Mas Duksina yang kemudian jadi Sunan PB IX (1807-1846) yang beristrikan Selir Bendoro Raden Ayu Adipati Sedhah Mirah.

Sejarah Yang Terulang?
Wallahu’alam
____________________________

Sumber sejarah :

-Mamik Nyamid Sahudi. Budayawan
Desa Dengok RT 12 RW 02 Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro.

-Serat Lontar “Banyu Manik” Koleksi Bopo Gatot Blora

-manuskrip kuno berbahan lontar masih tersimpan apik di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Naskah kuno itu merupakan peninggalan bersejarah abad ke-16 dari putera Sultan Pajang Hadi Widjaja, pangeran Djati Koesoemo

Juru kunci Nyai Meirah Sorogo Cepu , bapak Sunandar
_______________________

Pemerhati Sejarah dan Budaya

Temmy Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *