
Banyuwangi, 11 Desember 2022
Pandemi Covid 19 meluluhlantakkan semua sector, Provinsi Jawa Timur merupakan wilayah contributor terbesar kedua setelah DKI Jakarta dalam menopang pemulihan ekonomi di Pulau Jawa. Berdasar perhitungan recovery index yang mengacu pada tiga indikator utama, diaantaranya Kependudukan, Perkembangan Ekonomi, dan Kesehatan, dampak tersebut mengharuskan pemerintah bergerak cepat untuk menekan semakin meningkatnya tingkat kemiskinan dan pengangguran.
Di Jawa Timur, berdasar hasil perhitungan misery index Provinsi Jawa Timur terpantau dalam tren peningkatan dan telah melebihi batas misery target sehingga memerlukan perhatian khusus. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh tingkat inflasi yang cukup tinggi atau berada diatas sasaran inflasi nasional, namun tingkat pengangguran terbuka terpantau masih dalam rentang target Pemerintah dengan indicator 4,36 persen hinggi 5,06 persen dan tingkat kemiskinan mencapai 10,36 persen hal tersebut disampiakan oleh Siti Rochmawati Analis Senior KPwBI Provinsi Jawa Timur pada acara Bincang Bersama Media (10/12/2022) di salah satu Hotel yang barada di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh KPwBI Provinsi Jawa Timur dengan mendorong pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, sector tersebut terus menunjukkan tren pemulihan, “Jumlah wisman dan devisa mulai menunjukkan tren perbaikan yang konsisten di tahun 2022, Namun kinerja length of stay justru menurun dibandinkan 2021 disebabkan tingginya hotel yang digunakan untuk isolasi mandiri/karantina untuk COVID-19 sepanjang tahun 2021 dan Terdapat kesamaan pendorong perbaikan kinerja wisman dan wisnus, yaitu perbaikan kondisi finansial, kemudahan syarat perjalanan, serta munculnya berbagai destinasi wisata baru,” paparnya.
Lalu dirinya memaparkan beberapa indicator utama dalam perkembangan Wisata Mancanegara (Wisman) di Jawa pada 2022 diprakirakan terus membaik, pertumbuhan wisman pada triwulan II 2022 mencapai 167,03% (yoy) atau naik sebesar 104,9% secara qtq. Sehingga peningkatan Devisa mengalapi perbaikan kinerja tercermin dari pertumbuhan devisa pada triwulan II 2022 mencapai 168,05% (yoy) atau naik sebesar 97,02% secara qtq.
“Nah, mengingat sumbangsih sector pariwisata untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim masih rendah baru sekitar 5 persen, maka perlu trategi khusus untuk menumbuhkan ekonomi yaitu 3A Akses, Amenitas dan juga Atraksi,” terangnya. yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Kemudian menurutnya Di tengah peningkatan kinerja pariwisata, destinasi utama memiliki ruang peningkatan terkait aspek quality tourism. Hal tersebut perlu menjadi focus pengembangan, yang juga perlu dilaksanakan berdasarkan preferensi minat wisman dan wisnus seiring datangnya era new normal, “untuk pertama kalinya, Indonesia berada pada peringkat 32, di atas Thailand (36) dan Malaysia (38). Kondisi ini menunjukkan pengembangan pariwisata terus dilaksanakan kendati sector pariwisata sangat terdampak COVID-19 di tahun 2020 dan 2021. Keunggulan utama pariwisata Nasional: harga, sumber daya alam, keamanan, serta focus pemerintah terhadap pariwisata, yang mulai focus kepada pengembangan quality tourism,” terangnya.
Dari data preferensi wisatawan mancanegara Sebagian besar wisman yang datang ke Indonesia adalah untuk tujuan berlibur sepenuhnya sebesar 74%, dengan destinasi yang dituju adalah wisata bahari, kesenian, serta wisata alam. dan data preferensi wisatawan nusantara, sebagian besar wisnus juga menyatakan tujuan bepergian adalah untuk berlibur sepenuhnya (53%), namun dengan presentasn wisman bleisure yang lebih besar sebesar 29% (sedangkan wisman hanya 15%), dengan destinasi favorit yang cenderung sama dengan wisman yaitu wisata bahari, kesenian, dan wisata kota.
“oleh karena itu KPwBI Provinsi Jawa Timur juga mendorong Peran Amenitas dan Akses dalam Memaksimalkan Potensi Destinasi, dimana disisi Amenitas Tingkat penghunian kamar (TPK) hingga Mei 2022 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2021. Namun TPK Jawa Timur belum melampaui tingkat tertinggi di era pandemic pada triwulan IV 2021.” Paparnya.
Peran akses udara ditengah peningkatan lalu lintas penumpang udara hingga sekitar 60% dibandingkan sebelum pandemi, jumlah pesawat maskapai nasional justru berkurang sepanjang dua tahun terakhir, dan telah berdampak terhadap harga tiket pesawat serta berkurangnya penerbangan ke destinasi wisata utama di Jawa dan Akses Darat , pemulihan kinerja pariwisata tercermin dari peningkatan penumpang kereta api, serta lalu lintas jalan tol. Namun demikian, terdapat ruang pengembangan khususnya terkait kemantapan jalan di Jawa Timur dan Banten yang turun dibandingkan tahun 2019, untuk mengoptimalkan potensi wisman dalam melaksanakan wisata.
“perlu adanya dorongan atas strategi Pemasaran Parekraf oleh Kemenparekraf dalam pemasaran sector pariwisata dan Ekonomi kreatif yaitu mereka harus adaptif, inovatif dan kolaboratif sehingga Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat bisa meningkat lewat indikator-indikator ekonomi tersebut,” pungkasnya.
Penulis : Mohamad Isriadi
Media : menaramadinah.com
