Catatan Dr. Eko Suwargono Budayawan Jember.
Ceritera wayang mulai dari wayang purwa, wayang madya, dan wayang wasana adalah me-wayang-kan atau menggambarkan dinamika pergolakan hawa nafsu dalam diri manusia (amarah, aluwamah, sufiah, dan mutmainah) yang ujungnya memenangkan “nafsu” yang baik atau nafsu yang tenang (mutmainah).
Dalam ceritera wayang juga disampaikan ajaran atau piwulang konsep-konsep dan metode-metode untuk mengembangkan diri agar dapat menguatkan si “mutmainah” memenangkan pertempuran batin melawan tiga nafsu jahat yang lain.
Sehingga mutmainah mampu mengangkat anasir kebaikan/kemuliaan/ketenangan menjadi pemimpin semangat perbuatan si manusia cenderung mengarah ke perbuatan baik,……dan dalam Islam diajarkan oleh Nabi/Rasululkah Muhammad SAW bahwa kualitas “keislaman” dalam diri manusia akan tergantung pada seberapa kuat si manusia dapat memenangkan suatu pertempuran yang maha besar diantara pertempuran-pertempuran yang ada, yakni, pertempuran “hawa nafsu”,…dan konsep, metode, serta ikhtiar untuk memenangkan pertempuran hawa nafsu itu secara gamblang dan komprehensif dijabarkan dan disampaikan dalam cerita-cerita lakon wayang kulit.
Wayang kulit sangat sejalan dengan ajaran Rasul dalam membangun etika sebagai hakekat ajaran agama Islam.
