LAMONGAN,  BNPT dan Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) datang  d Universitas Islam Lamongan (Unisla) pada Rabu, 15 Desember 2021 kemarin.

 

Kedatangannya dalam rangka pembaretan anggota Laskar Khusus Gajah Mada Patriot Garuda Nusantara dan menyosialisasikan bahaya penyebaran paham radikalisme di kampus.

Deputi Bidang Pindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT Ibnu Suhendra, mengatakan bahwa lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi memang mendapat perhatian khusus.

 

Hal itu dikarenakan teroris kerap menjadikan lembaga pendidikan untuk menyebarkan paham radikal.

Salah satu praktik penyebaran paham radikal di lingkungan kampus yang terbongkar adalah di Universitas Riau. Pada pertengahan 2018 lalu, Densus 88 berhasil mengamankan 3 orang yang telah merakit bom di lingkungan kampus.

 

“Diketahui beberapa waktu lalu beberapa kampus menjadi sarang teroris. Salah satunya adalah di Riau, di mana   mahasiswa dan alumninya melakukan pembuatan bom di dalam kampus,”tambahnya.

Menurutnya,  kewaspadaan dan upaya pencegahan harus dilakukan, agar kampus tidak menjadi embrio radikalisme. Dengan wawasan kebangsaan yang dilakukan UNISLA ini menjadi pelopor untuk kampus-kampus yang lain  melakukan kegiatan yang sama memberikan  wawasan kebangsaan kepada mahasiswa-mahasiswinya.

Lebih lanjut, Ibnu mengungkapkan, program-program BNPT yang bekerjasama dengan TNI-Polri akan melaksanakan wawasan kebangsaan di kampus-kampus, baik swasta maupun negeri, dalam menangkal faham radikalisme dan teroris di seluruh Indonesia. Bahkan upaya penangkalan paham radikal juga dilakukan di seluruh lapisan masyarakat.

“Kami akan menanamkan kecintaan cinta tanah air dan Pancasila sebagai pilar kebangsaan di seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Ibnu.

Sementara itu, Kadensus 88, Irjen. Pol. Martinus Hukom, mengatakan, kampus adalah lembaga ilmiah dan pusat kajian ilmiah, sehingga diharapkan mahasiswa mampu membedakan ajaran yang menyimpang atau tidak.

“Mahasiswa harus berpikir kritis, itu salah satu upaya untuk mengkritisi pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan gunakanlah cara berpikir kritis itu untuk menilai semua doktrin-doktrin kekerasan yang tidak sesuai dengan kehidupan kita,” kata Martinus.

Acara tersebut juga dihadiri pendiri PGN KH Nuril Arifin (Gus Nuril), Ketua Umum PGN Gus Iwan, anggota Polda Jatim, Polres Lamongan dan Kodim 0812, Panglima MakodaLamongan Gus Ndaru
Pembina PGN Jatim Gus Halim Alqoas.

Husnu Mufid