
Kediri- menaramadinah.com-Ratusan orang harus rela antri untuk masuk dapat kedalam lokasi upacara Hari Sumpah Pemuda di rumah masa kecil Presiden Soekarno di Kediri. Pasalnya masing peserta harus mengucapkan doa dan wajib menuliskan kata kata-kata motivasi diri saat berada didepan gerbang masuk lokasi upacara. Dengan mengucapkan “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia”.
Bukan itu saja, panitia juga mengharuskan peserta untuk menuliskan kata-kata yang telah diucapkan tersebut dalam sebuah kertas kecil yang telah disiapkan panitia.
Selanjutnya kertas itu ditempelkan didada. Baru kemudian mereka dipersilahkan masuk dan berbaris siap mengikuti upacara.
Untuk memperkuat pesan moral pendidikan karakter, panitia juga membuat sebuah tulisan besar berbunyi “Bangga Menjadi Bangsa Indonesia dari bahan serabut kelapa, berada samping inspektur upacara.
Usai upacara, semua juga diajak melepaskan puluhan burung merpati simbol kemerdekaan jiwa atau pendidikan yang memerdekakan jiwa dari belenggu kebodohan.
Inilah sekilas gambaran prosesi upacara Hari Sumpah Pemuda yang akan berlangsung di Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno Ds. Pojok Kec. Wates Kab. Kediri. Kamis, 28 Oktober 2021 esok.
Mengapa harus ada kegiatan seperti itu? panitia mengatakan hal ini bagian dari proses pendidikan karakter kebangsaan pada generasi muda.
“Kita ingin tasyakuran Hari Sumpah Pemuda ini bisa benar-benar menyentuh rasa, membekas dalam hati. Bukan sekedar seremonial saja,” aku Lukito Sudianto Sekretris Panitia. Rabu, 27 Oktober 2021
Menurut Lukito metode mengucapkan kata-kata positif itu bagaian dari teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) dan menuliskan kata-kata yang kemudian ditempelkan di dada adalah bagian dari teknik experiential learning (EL).
“Ini metode baru teknik pendidikan karakter bangsa yang sedang kita kembangkan bersama tim. Bukan sekedar pengetahuan, tapi bagaimana menyentuh rasa dengan praktek secara langsung,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno menambahkan bahwa rasa bangga itu sangat penting, tanpa ada rasa bangga karakter kebangsaan sulit untuk dibentuk. Rasa bangga ibarat jalan tol.
“Mana mungkin kita bisa membangun karakter bangsa tanpa ada rasa bangga menjadi bangsa Indonesia, mustahil lah. Sebaliknya jika pondasi rasa bangga itu telah ada dalam jiwa, maka pendidikan karakter kebangsaan akan melesat cepat bak di jalan tol. Jadi harus bangga dulu menjadi bangsa Indonesia, karena kita dilahirkan menjadi bangsa Indonesia ini adalah kehendak dan takdir Tuhan Yang Maha Esa, bukan pilihan kita,” tambah Kus.
“Jadi rasa bangga itu ada sambungannya dengan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nah, inilah diantara yang dimaksud pendidikan karakter berpondasi Pancasila,” aku Pria yang baru mendapatkan penghargaan Kapolri terkait pendidikan karakter bangsa.
Untuk itu Kus berpendapat mensyukuri Hari Sumpah Pemuda sangatlah penting, bahkan wajib jika hendak mempercepat pembangunan karakter bangsa.
Selamat Hari Sumpah Pemuda Ke-93. Mari bangga dengan Pancasila, mari bangga menjadi Bangsa Indonesia. Merdeka!!!.* surya
