Merayakan Silaturrahmi, Membincang Sastra Lewat Jalur Ngopi

 

: ngablak  Mashuri Alhamdulillah.

Hari Minggu kemarin begitu istimewa. Pasalnya, seharian itu saya berkesempatan menjalin silaturrahmi dengan kawan-kawan dan para tokoh yang istimewa. Bahkan sebenarnya itu sudah dimulai pada Sabtu malam/ malam Minggu. Yang menarik pertemuan yang berhulu dan bermuara pada sastra itu melewati jalur ngopi bareng.

Pertemuan pertama. Pada malam Minggu, pukul 19.00—22.30, saya menghadiri acara di markas Dekesda (Dewan Kesenian Sidoarjo), berupa Kidung Anak Sidoarjo, kerja sama antara Akatara (Jurnalis Sahabat Anak), Dekesda dan Unicef. Acara tampilan anak-anak dan remaja yang menjadi pemenang sayembara pembacaan puisi yang digelar oleh ketiga lembaga tersebut mempertemukan secara langsung saya dengan kawan-kawan lama, yang dulu di Teater Gapus dan Luar Pagar, dan kini menekuni profesi masing-masing: sebagai jurnalis, guru, dan dosen. Di antaranya Zaki Zubaidi & isteri, Aan, Haryono, Djoko Santoso & isteri, Ajeng, dan lainnya. Dua tahun kami tidak bersua secara langsung. Kebetulan, dalam kesempatan itu, saya didapuk mewakili Balai Bahasa Jawa Timur. Tentu saja, suguhan yang tidak boleh lupa di luar forum resmi adalah kopi.

“Kopi ala kadarnya, Kang,” seru Zaki Zubaidi.
“Ah, nyantai saja. Sekarang kalo ngopi di Suroboyo, sama siapa saja, Bro?” tanya saya, karena saya sangat lama tidak ngopi di Surabaya.
“Aku sendirian, Kang. Lha, wong teman-teman sekarang di Sidoarjo semua. Yang di Surabaya, aku sama Gudel saja,” seru Zaki Zubaidi.

Pertemuan kedua. Pada Minggu Pagi, saya bersilaturrahmi lagi ke Mas Wicaksono Adi dan Ning Malika Hasan di kediamannya di Puri Surya Jaya, Gedangan Sidoarjo. Saya menemani dua tokoh, yaitu Gus Binhad Nurohmat dan Pak Autar Abdillah. Mungkin karena saking gayengnya, nggedabrus yang berlangsung mulai pukul 11.00 itu baru kelar pukul 19.00. Diselingi dengan makan siap dengan menu gulai kepala kakap, plus cumi dari perairan Dopo. Suguhan wajibnya: kopi. Pembicaraan yang berlangsung tidak hanya panjang, tetapi juga blusukan di belantara kebudayaan Indonesia, dan sesekali juga menikung curam. Adapun dalam dunia sastra, mulai tentang Pak Budi Darma, sastra dunia, dan anekdot-anekdot sastrawan/seniman di Indonesia.

“Kita harus menyudahinya. Jika tidak, bisa sampai besok pagi ini,” seru Gus Binhad, ketika pamit pada tuan rumah, untuk kembali ke Jombang.

Pertemuan ketiga. Pada Minggu malam, usai dari Puri Surya Jaya, saya juga menghadiri majelis ngopi di warkop di taman pujasera di bawah Jembatan Layang, Sidoarjo karena café tujuan sudah tutup. Setelah mengganti kostum, dengan melepas celana pandang dan memakai sarung, saya langsung ke TKP sesuai dengan janji pukul 20.00, yaitu melangsungkan pertemuan langsung dengan kawan-kawan lama eksponen Teater Gapus dan Luar Pagar, yang sudah menjadi tokoh. Begitu ngumpul semua pada 20.30, Saya, Ribut Wijoto, F. Aziz Manna, dan Indra Tjahyadi yang jauh-jauh berkendara dari Probolinggo membicarakan banyak hal hingga pukul 01.00. Kami membicarakan tentang program sastra Jawa Timur, sastra Indonesia kontemporer, tentu saja puisi, wabil khusus puisi gelap. Tentu saja, suguhannya adalah kopi. Dan, kopi itu semakin terasa ketika pernyataan-pernyataan tentang sastra dan puisi meluncur deras dari mulut kami. Salah satunya berikut ini.

“Sejarah puisi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari puisi gelap!” seru Ribut Wijoto.

Ehm! Demikianlah. Mudah-mudahan manfaat.

MA
On Siwalanpanji, 2021
Ilustrasi jepretan.