Dibalik Kisah Cinta Sri Huning-Wiratmoyo

 

: ngablak isuk Mashuri Alhamdulillah.

“Sri huning mustiko tuban
Labuh tresno lan saboyo pati
Marang raden wiratmoyo
Kang wis prasojo hanambut branti”

Demikianlah lirik lagu Jawa langgam Campursari “Sri Huning” karya Ki Sukron Suwondo yang dipopulerkan Deni Kristiani sejak 1 Mei 2021 via label digital. Mendengar lagu tersebut ingatan saya langsung melorot ke masa lalu ketika saya begitu doyan ketoprak. Maksudnya, seni ketoprak. Ehm! Pasalnya, lakon Sri Huning merupakan primadona lakon ketoprak Jawa. Bahkan, beberapa seni tradisi Jawa, seperti wayang tengul, juga mengangkat lakon tragedi cinta semi kepahlawanan tersebut. Saya berterima kasih pada Tarunala Z, yang diingatkan dengan keberadaan kisah cinta penuh tragedi Sri Huning-Wiratmoyo.

Yup, Sri Huning—Wiratmoyo adalah sebuah kisah cinta tragis. Meski banyak versi terkait dengan kesejarahan Sri Huning, tetapi semua versi itu sepakat bahwa Sri Huning adalah lambang cinta dan kepahlawanan. Bahkan, Sri Huning mashur diberi gelar Mustika Tuban. Dari sekian banyak versi tersebut dapat saya sarikan sebagai berikut.

Sri Huning adalah anak angkat adipati Tuban. Adipati Tuban punya anak bernama Wiratmoyo dan Wiratmoko. Wiratmoyo dan Sri Huning menjalin kasih dan saling mencintai. Repotnya, ketika mereka menyatakan diri ke ayah mereka, nasi sudah menjadi bubur. Adipati Tuban sudah melamar puteri Adipati Bojonegoro, Dewi Kumalaretno, untuk diperistri oleh Wiratmoyo. Lamaran ini tidak dapat dibatalkan karena Adipati Bojonegoro sudah menolak lamaran Adipati Lamongan dan menerima lamaran Adipati Tuban.

Pernikahan Wiratmoyo—Kumalaretno pun dilangsungkan di Kadipaten Bojonegoro. Keluarga Adipati Tuban datang disertai dengan pengawalan ketat. Alhasil pada saat sedang resepsi, Adipati Lamongan menyerang Bojonegoro karena merasa disepelekan. Sri Huning, yang dikenal juga sebagai pendekar, pun maju untuk mengamankan pernikahan orang yang dicintainya. Sayangnya, Sri Huning wafat di tangan Adipati Lamongan. Wiratmoyo yang mengetahui kekasihnya wafat, langsung duel dengan Adipati Lamongan. Nasibnya pun sama dengan kekasihnya. Melihat kedua anaknya meninggal dunia, Adipati Tuban ngamuk. Ia berhasil membunuh Adipati Lamongan. Akhirnya, resepsi pernikahan tetap dilangsungkan. Dewi Kumalaretno dikawinkan dengan Wiratmoko. Hmmm.

Dari penelusuran, makam Sri Huning—Wiratmoyo berada di Bojonegoro. Orang lebih mengenalnya sebagai Makam Buyut Dalem. Terletak di Jalan Dewi Sartika, Desa Kadipaten, Kecamatan Bojonegoro, Kaputaren Bojonegoro. Ada beberapa versi terkait dengan makam ini. Ada versi yang menyebut bahwa Buyut Dalem atau Pangeran Raden Aryo Dalem adalah salah satu Adipati Bojonegoro (1614-1619). Versi yang terkuat adalah makam Pangeran Aryo Dalem, putera adipati Tuban, yang meninggal saat terjadi Perang Pajang. Hal itu karena di samping makam utama, terdapat sebuah makam lainnya. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah makam kekasih hati Buyut Dalem, yaitu Sri Huning, yang dikenal dengan “labuh tresna sabaya pati”, mencintai dengan pengorbanan nyawa!

Makam itu kini menjadi wisata ziarah di Bojonegoro. Biasanya, diadakan semacam haul atau sedekah bumi. Masyarakat setempat menyebutnya tradisi manganan. Menurut sebuah sumber, haul itu jatuh pada setiap hari Rabu Wage, bulan September. Ritual diawali pada hari Rabu Pahing dengan “mayu alang-alang”, yakni mengganti atap cungkup yang terbuat dari alang-alang dan penggantian pasir di dalam makam. Tak heran, meski kini, lokasi makam Buyut Dalem dibangun megah, tetapi cungkup makam Buyut Dalem—Sri Huning tetap dipertahankan atap alang-alangnya. Selain situs itu bernama Buyut Dalem, masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan Mbah Pelet. Hal itu tentu terkait dengan latar kisah cinta yang dahsyat.

Sayangnya, saya tidak memeroleh informasi bulan dalam penanggalan Hijriyah untuk acara tersebut, karena September merupakan penanggalan Masehi dan biasanya ritual berbau sakral digelar berdasarkan pada hitungan bulan Hijriah atau bulan Jawa. O iya, bukankah ini bulan September?! Apalagi harinya juga tepat Rabu Wage. Saya berusaha menghubungi seorang kawan untuk menanyakan bulan Jawa-nya.

“Bulan Jawa-nya apa, Mas?” tanya saya via WA pada sebuah sumber.
“Saya tidak tahu, Mas. Soalnya, tahun lalu itu jatuh pada bulan September,” terang sumber tersebut.

Begitulah cinta. Seringkali bila ditanya, jawabannya tidak tahu. Ups!

MA
On Sidokepung, 2021
Ilustrasi ramban Google. Kompleks makam Buyut Dalem. Penyanyi Deni Kristiani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *