Jember-Juli 2021-MenarahMadinah.com-Secara pribadi saya ikut prihatin, kalau benar apa yang disampaikan oleh H. Hendy – Bupati Jember – bahwa sampai Juli 2021, serapan APBD Jember Tahun 2021 hanya sekitar 20%.
Jelas hal ini akan berdampak pada perekonomian Jember, apalagi di saat pandemi, maka APBD bisa menjadi faktor pengungkit geliat ekonomi Jember. Serapan anggaran yang rendah – 20% – juga bisa terhambatnya target pencapaian program prioritas yang menjadi unggulan saat kampanye Pilkada yang lalu.
Rendahnya serapan anggaran juga mencerminkan sinergi, kolaborasi dan akselerasi belum berjalan sebagaimana diinginkan. Secara teori, ketika sinergi dan kolaborasi terjadi, maka akselerasi di segala sektor akan tercipta. Tentunya Sinergi, Kolaborasi dan akselerasi dapat terjadi sepanjang antara lain tersedianya anggaran dan program kerja yang telah disepakati bersama antara Pimpinan OPD dengan Bupati dan Wakil Bupati Jember baik di masing masing OPD atau Kolaborasi antar OPD, yang mampu mengsupport Program Unggulan ( lihat gambar 1 ).
Sebagai contoh pada Program Ungulan butir 1 ( gambar 1 ) yaitu Pemberian Bea Siswa 25 .000 Mahasiswa Pertahun dan Jaminan Pekerjaan Bagi Lulusan Terbaik. Dalam hal ini OPD yang terkait adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja, karenanya perlu sinergi dan kolaborasi serta akselerasi. Dinas Pendidikan harus membuat Petunjuk Teknis, misal Mahasiswa yang memperoleh Bea Siswa apakah mereka yang kuliah di PTN atau Swasta? apa kriterianya, apakah Akreditasi Universitas dan Fakultasnya, dengan Akreditasi minimal apa, IPK minimal, Fakultas apa? Apakah juga dikaitkan dengan kondisi ekonomi orang tua dll.
Dinas Tenaga Kerja terkait dengan Jaminan Pekerjaan. misal lulusan terbaik apakah kategori Cum Laude atau minimal IPK 3,00 keatas? Bagaimana nanti bisa dijamin bekerja, bagaimana roadmap kebutuhan tenaga kerja fresh graduate di Jember baik untuk PNS maupun Perusahaan Swasta, lulusan fakultas apa yang dibutuhkan, bagaimana sinergi dan kolaborasi dengan pihak swasta. Kedua Dinas ini harus sinergi dan kolaborasi untuk menyusun Program Kerja berikut anggarannya sehingga tercipta akselerasi baik dalam bentuk penyaluran bea siswa maupun penempatan kerjanya.
Diluar hal diatas, Program Kerja yang dibuat oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja ( sinergi dan kolaborasi ) juga perlu Analisa SWOT ( Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats atau analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman ). Contoh Program Pemberian Beasiwa 25.000 mahasiswa. Analisa SWOT, S kekuatan ) misal jumlah siswa yang lulus UN SLTA di Jember 26.000 orang, maka ini merupakan kekuatan, untuk kelemahan misalnya dari 26.000 orang yang lulus UN, maka sekitar 5.000 orang berniat tidak meneruskan kuliah ( kembali lagi ini hanya contoh ), Peluangnya ( contoh ) jumlah siswa yang ingin mendapatkan bea siswa sangat banyak, dan Ancaman ( Contoh ) berdasarkan data sebelumnya dari jumlah yang lulus UN, ternyata yang diterima si perguruan negeri/swasta ternyata hanya sekitar 10.000 orang.
Artinya untuk contoh diatas, ketika muncul hambatan dan ancaman, maka perlu dipikirkan upaya untuk mengatasi hal tersebut, mengingat apabila tidak, maka jelas program unggulan beasiswa untuk 25.000 orang per tahun tidak akan tercapai, anggaran bea siswa dipastikan tidak akan terserap semua.
Kembali pada Laptop, maka ketika anggaran yang tersedap hanya 20%, entah apa yang terjadi di pimpinan OPD. apakah kesulitan dalam menyusun program yang mendukung Program Unggulan H. Hendy, kesulitan membuat analisa SWOTnya, atau belum ada sunergi dan kolaborasi.
Solusinya adalah H.Hendy kiranya perlu melakukan pertemuan dengan masing masing pimpinan OPD, meminta OPD untuk mempresentasikan program kerjanya dan anggaran yang mendukung Program Unggulan. Ketika Program Kerja tidak mendukung Program Unggulan, maka lakukan sinergi dan kolaborasi, minta idea dari pumpinan OPD lainnya dan perlu juga dilakukan pengecekan program
kerja yang sifatnya kolaborasi antar pimpinan OPD seperti pada Program ungulan
Pungkas (Trisno70)*
Sumber:pemkab
